Penjualan mobil naik, Pertamina sulit penuhi BBM
Selasa, 30 Oktober 2012 - 09:58 WIB
Penjualan mobil naik, Pertamina sulit penuhi BBM
A
A
A
Sindonews.com - Meningkatnya penjualan kendaraan bermotor dari tahun ke tahun membuat PT Pertamina (Persero) makin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.
Demikian disampaikan oleh Vice President Fuel Retail Marketing Pertamina, Suhartoko, dalam acara Media Gathering Pertamina. "Saya bicara faktanya dulu. Kalau kita bicara kebutuhan premium, tahun ini penjualan mobil menembus 1 juta unit, sepeda motor tembus 9 juta unit, dan itu semuanya butuh BBM," tutur Suhartoko di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (29/10/2012) malam.
Pihaknya memahami peningkatan kebutuhan energi ini sebagai konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sedang bertumbuh tinggi. "Biasanya, kebutuhan energi akan mengikuti pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir ekonomi Indonesia tumbuh dengan rata-rata diatas 6 persen. Konsumsi di dalam negeri ikut tumbuh dengan meningkatnya kemakmuran, penjualan mobil tak ketinggalan ikut mendapat imbas positif.
Akibatnya, permintaan premium juga melonjak. Padahal, sekitar 40 persen kebutuhan premium di dalam negeri dipenuhi melalui keran impor.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sendiri pun mengakui pemenuhan energi di dalam negeri masih tergantung pihak asing. "Produksi minyak Pertamina itu hanya 50 persen untuk pasaran domestik," terang Wakil Ketua Komite BPH Migas Fahmi H Matori.
Dengan kondisi ini, Fahmi mengkritik para pengamat kebijakan energi yang mendorong Pertamina untuk menutup pintu bagi perusahaan-perusahaan asing serta melakukan ekspansi ke luar negeri. Pasalnya, untuk kebutuhan dalam negeri saja Pertamina belum mampu memenuhinya.
"Kan tidak masuk akal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kita saja, kita harus impor 50 persen. Terus kita mau dagang minyak kita di Malaysia? Itu kan omongan ngelantur," simpulnya.
Karena itu, BPH Migas tetap membuka kesempatan bagi pihak asing untuk ikut menyalurkan BBM di Indonesia dengan sejumlah persyaratan, seperti fasilitas penyimpanan dan stasiun pengisian.
Demikian disampaikan oleh Vice President Fuel Retail Marketing Pertamina, Suhartoko, dalam acara Media Gathering Pertamina. "Saya bicara faktanya dulu. Kalau kita bicara kebutuhan premium, tahun ini penjualan mobil menembus 1 juta unit, sepeda motor tembus 9 juta unit, dan itu semuanya butuh BBM," tutur Suhartoko di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (29/10/2012) malam.
Pihaknya memahami peningkatan kebutuhan energi ini sebagai konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sedang bertumbuh tinggi. "Biasanya, kebutuhan energi akan mengikuti pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir ekonomi Indonesia tumbuh dengan rata-rata diatas 6 persen. Konsumsi di dalam negeri ikut tumbuh dengan meningkatnya kemakmuran, penjualan mobil tak ketinggalan ikut mendapat imbas positif.
Akibatnya, permintaan premium juga melonjak. Padahal, sekitar 40 persen kebutuhan premium di dalam negeri dipenuhi melalui keran impor.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sendiri pun mengakui pemenuhan energi di dalam negeri masih tergantung pihak asing. "Produksi minyak Pertamina itu hanya 50 persen untuk pasaran domestik," terang Wakil Ketua Komite BPH Migas Fahmi H Matori.
Dengan kondisi ini, Fahmi mengkritik para pengamat kebijakan energi yang mendorong Pertamina untuk menutup pintu bagi perusahaan-perusahaan asing serta melakukan ekspansi ke luar negeri. Pasalnya, untuk kebutuhan dalam negeri saja Pertamina belum mampu memenuhinya.
"Kan tidak masuk akal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kita saja, kita harus impor 50 persen. Terus kita mau dagang minyak kita di Malaysia? Itu kan omongan ngelantur," simpulnya.
Karena itu, BPH Migas tetap membuka kesempatan bagi pihak asing untuk ikut menyalurkan BBM di Indonesia dengan sejumlah persyaratan, seperti fasilitas penyimpanan dan stasiun pengisian.
(rna)
Lihat Juga :