Jepang tambah stimulus USD138 M

Rabu, 31 Oktober 2012 - 08:53 WIB
Jepang tambah stimulus...
Jepang tambah stimulus USD138 M
A A A
Sindonews.com – Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) kemarin memutuskan akan menambah dana untuk program pembelian aset lanjutan sebesar 11 triliun yen (USD138 miliar).

Penambahan tersebut menjadikan total stimulus BoJ hingga kini mencapai 91 triliun yen. Otoritas moneter Jepang berharap kebijakan itu mampu menyediakan likuiditas guna menggenjot perekonomian.

Keputusan tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan 5 Oktober lalu, di mana bank sentral sempat menahan pelonggaran kebijakan setelah memperluas dana pembelian obligasi pada September lalu.

Kebijakan penggelontoran stimulus sebanyak dua kali dalam dua bulan terakhir ini juga merupakan yang pertama kalinya sejak 2003 silam. Pada pertemuan BoJ kemarin, otoritas moneter di Negeri Sakura itu juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun fiskal 2012 yang berakhir Maret tahun depan akan mencapai 1,5 persen, lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya 2,2 persen.

“Mayoritas ahli melihat bahwa bank sentral akan menyediakan dana hingga 10 triliun lagi,” kata analis CLSA Nicholas Smith dikutip AFP kemarin.

Rendahnya proyeksi pertumbuhan ekonomi terbaru dari BoJ sejalan dengan penurunan produksi pabrik bulan lalu yang mencapai 4,1 persen, lebih besar dibanding perkiraan sebelumnya 3,1 persen. Penurunan output terbesar didominasi sektor automotif, suku cadang dan permesinan.

Sementara, analis lain dari Bank of America Meryll Lynch, Masayuki Kichikawa, mengatakan bahwa saat ini masalah utama dalam perekonomian Jepang bukan pada ketidakmampuan perbankan menyediakan kredit tetapi karena minimnya permintaan kredit akibat deflasi dan tingginya nilai tukar yen.

“Pasar akan terus berharap lebih dari bank sentral,” kata Kichikawa.

Gubernur BoJ Masaaki Shirikawa mengatakan, pelonggaran kebijakan moneter dilakukan karena dipicu oleh kekhawatiran perekonomian global. “Kami sadar bahwa September lalu terjadi perlambatan ekonomi yang berdampak pada penurunan di Jepang,” kata Shirikawa.

Pengangguran September 4,2 persen

Kementerian Urusan Internal Jepang menyatakan, tingkat pengangguran negara tersebut pada September tetap di level 4,2 persen, sama dengan bulan sebelumnya. Angka tersebut juga sejalan dengan perkiraan rata-rata dari ekonom.

“Jumlah orang yang bekerja disesuaikan secara musiman naik 0,1 persen atau 60.000 orang menjadi 62,69 juta, sedangkan jumlah pengangguran naik 0,4 persen atau 10.000 orang menjadi 2,73 juta,” ujar kementerian dalam laporannya dilansir AFP kemarin.

Sementara, jumlah pengangguran kaum pria turun tipis menjadi 4,4 persen dari sebelumnya 4,5 persen, sedangkan tingkat pengangguran perempuan naik menjadi 3,8 persen dari 3,7 persen.

Kantor berita Xinhua melaporkan, saat ini sejumlah proyek pembangunan Jepang dan sektor rekonstruksi lainnya yang terkait telah mendorong tumbuhnya lapangan pekerjaan.

Salah satunya pembangunan kembali wilayah yang terkena bencana gempa dan tsunami Maret tahun lalu. Namun, pemulihan pascabencana akibat ketidakpastian ekonomi global disertai penguatan yen yang membebani permintaan untuk produk-produk Jepang di luar negeri tengah mengalami perlambatan.

Data terpisah dari kementerian menunjukkan, anggaran belanja rumah tangga menyusut 0,9 persen pada September, setelah sempat menguat sebesar 1,8 persen pada Agustus lalu. Pada saat yang sama negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut berisiko terkontraksi pada semester II tahun ini akibat permasalahan sengketa kepulauan dengan China sehingga melemahkan ekspor.

Untuk itu, Pemerintah Jepang pekan lalu mengumumkan dana stimulus baru sebesar 750 miliar yen (USD9,5 miliar) guna menopang pertumbuhan ekonominya. Laporan Kementerian Keuangan Jepang pekan lalu menunjukkan, ekspor Negeri Sakura turun 10,3 persen pada September, di mana merupakan penurunan terbesar sejak bencana tahun lalu.

“Penjualan ritel juga naik kurang dari perkiraan pada bulan yang sama dengan berakhirnya subsidi pemerintah untuk pembelian mobil yang menghantam permintaan,” papar laporan tersebut.

Seperti diketahui pada Senin (29/10), produsen automotif Jepang Honda Motor Co telah memangkas perkiraan laba setahun penuh sebesar 20 persen akibat turunnya permintaan dari konsumen asal China. Sementara, produsen kamera terbesar dunia Canon Inc juga memotong perkiraan labanya untuk setahun penuh.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dalam Sekejap, 1.000...
Dalam Sekejap, 1.000 Lebih Perusahaan di Jepang Bangkrut
Dampak Inflasi Global...
Dampak Inflasi Global Merembes ke Ekonomi Jepang, Investor Cemas
Resesi, Jepang Tak Lagi...
Resesi, Jepang Tak Lagi Jadi Negara Ekonomi Terbesar Ketiga di Dunia
Ekonomi Tumbang, Jepang...
Ekonomi Tumbang, Jepang Pesimistis Pemulihan Bakal Berjalan Cepat
Terjun ke Jurang Resesi,...
Terjun ke Jurang Resesi, Aktivitas Pabrik di Jepang Semakin Memburuk
Resesi Seks Bikin Jepang...
Resesi Seks Bikin Jepang Lengser dari Peringkat Ketiga Ekonomi Terbesar Dunia
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
7 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
8 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
8 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
9 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
9 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
9 jam yang lalu
Infografis
Gaza Harus Diperlakukan...
Gaza Harus Diperlakukan seperti Jepang dan Jerman setelah PD II
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved