Kenaikan harga beras bisa picu inflasi
Kamis, 01 November 2012 - 19:44 WIB
Kenaikan harga beras bisa picu inflasi
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah mesti mewaspadai potensi terjadinya kenaikan harga beras akibat datangnya misim tanam pada akhir tahun ini.
Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Anggoro Dwitjahyono mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai potensi terjadinya gejolak harga pada komoditi beras. Karena, terhitung mulai bulan November sampai Februari 2012, petani padi masuk pada musim tanam.
Diakui dia, saat ini komoditas beras mulai menunjukan tren kenaikan harga. Meski kenaikannya belum signifikan namun diprediksi akan berlanjut hingga akhir tahun.
“Tren harga beras mulai naik. Ini perlu di waspadai karena apabila komoditi ini naik, akan menyumbang inflasi cukup besar,” kata Anggoro kepada wartawan di Jalan PHH Mustopa, Kota Bandung, Kamis (1/11/2012).
Diakui dia, kenaikan harga beras saat ini masih sekisar Rp50-100/kg. Walaupun masih kecil, pemerintah tetap harus memperhatikan tren kenaikan harga. Jangan sampai, harga beras terus melonjak seperti pada periode menjelang Lebaran. Salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah yaitu melalui program operasi pasar murah (OPM).
Paceklik, lanjut Anggoro, berpotensi terjadi sampai awal tahun 2013. Lantaran, petani padi saat ini baru masuk musim tanam. Terlebih, sebagiannya lagi mengalami keterlambatan tanam akibat pergeseran musim penghujan. Harga komoditi beras, dipastikan akan kembali normal apabila datang musim panen raya di bulan Februari sampai April 2013.
Sementara itu, Jabar mengalami inflasi sebesar 0,02 persen pada Oktober 2012. Dengan demikian, selama bulan Januari-Oktober inflasi Jabar mencapai 3,65 persen atau masih dibawah dari target inflasi pemerintah sebesar 4,5±1 persen. Inflasi pada bulan Oktober sedikit meningkat dari bulan sebelumnya.
Walaupun begitu, angka inflasi di lima kota besar di Jabar termasuk tinggi. Yaitu Sukabumi sebesar 0,42 persen, Bandung 0,34 persen, Bogor 0,27 persen, Tasikmalaya 0,18 persen, Cirebon 0,09 persen. Namun dua kota besar lainnya tercatat mengalami deplasi. Dua kota tersebut yaitu Bekasi sebesar 0,29 persen dan Depok 0,14 persen.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Gema Purwana, inflasi di Jabar terjadi karena sebagain besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok yang mengalami inflasi antara lain bahan makanan jadi minuman rokok & tembakau 0,54 persen, kesehatan 0,32 persen, sandang 0,25 persen, perumahan air listrik gas & bahan bakar 0,15 persen, transport komunikasi & jasa keuangan 0,07 persen, dan pendidikan rekreasi & olahraga 0,03 persen.
Komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi lannya seperti mie 0,05 persen, wortel 0,04 persen, cabe merah, tarif air minum PAM, tempe masing-masing 0,02 persen, beras, juice buah, jeruk emas perhiasan 0,01 persen.
“Beberapa kelompok yang mengalami deplasi di antaranya bahan makanan sebesar 0,55, kacang panjang 0,05 persen, minyak goreng 0,04 persen dan bayam 0,03 persen,” pungas dia.
Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Anggoro Dwitjahyono mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai potensi terjadinya gejolak harga pada komoditi beras. Karena, terhitung mulai bulan November sampai Februari 2012, petani padi masuk pada musim tanam.
Diakui dia, saat ini komoditas beras mulai menunjukan tren kenaikan harga. Meski kenaikannya belum signifikan namun diprediksi akan berlanjut hingga akhir tahun.
“Tren harga beras mulai naik. Ini perlu di waspadai karena apabila komoditi ini naik, akan menyumbang inflasi cukup besar,” kata Anggoro kepada wartawan di Jalan PHH Mustopa, Kota Bandung, Kamis (1/11/2012).
Diakui dia, kenaikan harga beras saat ini masih sekisar Rp50-100/kg. Walaupun masih kecil, pemerintah tetap harus memperhatikan tren kenaikan harga. Jangan sampai, harga beras terus melonjak seperti pada periode menjelang Lebaran. Salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah yaitu melalui program operasi pasar murah (OPM).
Paceklik, lanjut Anggoro, berpotensi terjadi sampai awal tahun 2013. Lantaran, petani padi saat ini baru masuk musim tanam. Terlebih, sebagiannya lagi mengalami keterlambatan tanam akibat pergeseran musim penghujan. Harga komoditi beras, dipastikan akan kembali normal apabila datang musim panen raya di bulan Februari sampai April 2013.
Sementara itu, Jabar mengalami inflasi sebesar 0,02 persen pada Oktober 2012. Dengan demikian, selama bulan Januari-Oktober inflasi Jabar mencapai 3,65 persen atau masih dibawah dari target inflasi pemerintah sebesar 4,5±1 persen. Inflasi pada bulan Oktober sedikit meningkat dari bulan sebelumnya.
Walaupun begitu, angka inflasi di lima kota besar di Jabar termasuk tinggi. Yaitu Sukabumi sebesar 0,42 persen, Bandung 0,34 persen, Bogor 0,27 persen, Tasikmalaya 0,18 persen, Cirebon 0,09 persen. Namun dua kota besar lainnya tercatat mengalami deplasi. Dua kota tersebut yaitu Bekasi sebesar 0,29 persen dan Depok 0,14 persen.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Gema Purwana, inflasi di Jabar terjadi karena sebagain besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok yang mengalami inflasi antara lain bahan makanan jadi minuman rokok & tembakau 0,54 persen, kesehatan 0,32 persen, sandang 0,25 persen, perumahan air listrik gas & bahan bakar 0,15 persen, transport komunikasi & jasa keuangan 0,07 persen, dan pendidikan rekreasi & olahraga 0,03 persen.
Komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi lannya seperti mie 0,05 persen, wortel 0,04 persen, cabe merah, tarif air minum PAM, tempe masing-masing 0,02 persen, beras, juice buah, jeruk emas perhiasan 0,01 persen.
“Beberapa kelompok yang mengalami deplasi di antaranya bahan makanan sebesar 0,55, kacang panjang 0,05 persen, minyak goreng 0,04 persen dan bayam 0,03 persen,” pungas dia.
(gpr)
Lihat Juga :