Akhir tahun, ekonomi Jabar diprediksi melambat
Kamis, 08 November 2012 - 16:07 WIB
Akhir tahun, ekonomi Jabar diprediksi melambat
A
A
A
Sindonews.com - Belum membaiknya ekonomi dunia diperkirakan akan berpengaruh terhadap kinerja ekspor dan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat di penghujung tahun 2012.
Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah VI Jabar dan Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan, ekonomi Jabar pada triwulan III/2012 bertahan pada level 6,3 persen atau melambat dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh 6,4 persen. Perlambatan ekonomi Jabar, diperkirakan tetap akan terjadi sampai penghujung tahun 2012.
“Berkaca pada kinerja perekonomian Jabar pada triwulan III/2012, kami memperkirakan perekonomian Jabar di triwulan akhir tahun akan kembali melambat pada kisaran 6,0 sampai 6,5 persen,” kata Lucky di Bandung, Kamis (8/11/2012).
Menurut dia, perlambatan ekonomi Jabar di akhir tahun mengalami tekanan dari pangsa domestik dan internasional. Dari pangsa internasional, kondisi perekonomian global yang belum pasti membuat ekonomi Jabar tertekan. Terutama kondisi ekonomi di negara tujuan ekspor Jawa Barat yang belum menunjukkan perbaikan signifikan. Laju ekspor Jabar diperkirakan akan tertahan, sehingga memperlambat kinerja industri pengolahan di dalam negeri.
Diketahui, kinerja ekspor Jabar mulai mengalami perlambatan sejak pertengahan tahun lalu. Kondisi tersebut, terus terjadi pada triwulan III/2012. Ekspor Jawa Barat pada periode laporan, tumbuh 3,4 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh 9,2 persen. Kondisi tersebut menyebabkan ekspor netto Jawa Barat turun sebesar 2,3 persen (yoy).
Menurut dia, dari sisi perdagangan, ekspor Jabar pada triwulan III turun sebesar 3,1 persen atau mencapai USD6,63 miliar dengan volume sebesar 1,59 juta ton. Dari sisi volume, ekspor Jawa Barat turun sebesar 8,0 persen, dimana pada periode sebelumnya dapat tumbuh sebesar 10,8 persen.
“Dari dalam negeri, ekonomi Jabar masih tertekan oleh sejumlah kebijakan pemerintah, seperti pembatasan pintu impor hortikultura dan penentuan UMK,” pungkas dia.
Diakui Lucky, ekspor produk manufaktur diperkirakan akan tertekan dengan adanya aksi demontrasi buruh terhadap penetapan UMK tahun 2013, sehingga berdampak pada tersitanya waktu produksi.
Kendati mengalami tekanan dari sisi ekspor, perekonomian Jawa Barat akan tertolong oleh laju pertumbuhan investasi dan tingginya konsumsi rumah tangga. Walaupun, konsumsi rumah tangga terjadi perlambatan, namun sektor ini masih berada pada level tinggi. Kenaikan penghasilan, akan menambah keyakinan masyarakat melakukan kegiatan konsumsi.
Optimisme tersebut, didorong oleh hasil survei konsumen, di mana kondisi ekonomi akhir tahun mengalami sedikit peningkatan karena bertambahnya penghasilan. Sebagian besar rumah tangga merasa lebih baik karena perbaikan infrastruktur (35,7 persen) serta kemudahan mendapatkan kredit perbankan (25 persen). Walaupun, sebanyak 18 persen responden menyatakan bahwa kegiatan usahanya akan lebih buruk karena proses perizinan yang sulit (36 persen).
“Investasi di Jawa Barat diperkirakan akan kembali tumbuh meningkat. Laporan BKPPMD Jabar menyebutkan, investasi pada periode tersebut diperkirakan mencapai Rp22,35 triliun. Ini akan menyerap tenaga kerja sampai 36.685 orang,” jelas Lucky. Beberapa Negara yang berencana menanamkan modalnya di Jabar seperti Jepang USD474,1 juta, Korea Selatan USD464,5 juta.
Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah VI Jabar dan Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan, ekonomi Jabar pada triwulan III/2012 bertahan pada level 6,3 persen atau melambat dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh 6,4 persen. Perlambatan ekonomi Jabar, diperkirakan tetap akan terjadi sampai penghujung tahun 2012.
“Berkaca pada kinerja perekonomian Jabar pada triwulan III/2012, kami memperkirakan perekonomian Jabar di triwulan akhir tahun akan kembali melambat pada kisaran 6,0 sampai 6,5 persen,” kata Lucky di Bandung, Kamis (8/11/2012).
Menurut dia, perlambatan ekonomi Jabar di akhir tahun mengalami tekanan dari pangsa domestik dan internasional. Dari pangsa internasional, kondisi perekonomian global yang belum pasti membuat ekonomi Jabar tertekan. Terutama kondisi ekonomi di negara tujuan ekspor Jawa Barat yang belum menunjukkan perbaikan signifikan. Laju ekspor Jabar diperkirakan akan tertahan, sehingga memperlambat kinerja industri pengolahan di dalam negeri.
Diketahui, kinerja ekspor Jabar mulai mengalami perlambatan sejak pertengahan tahun lalu. Kondisi tersebut, terus terjadi pada triwulan III/2012. Ekspor Jawa Barat pada periode laporan, tumbuh 3,4 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh 9,2 persen. Kondisi tersebut menyebabkan ekspor netto Jawa Barat turun sebesar 2,3 persen (yoy).
Menurut dia, dari sisi perdagangan, ekspor Jabar pada triwulan III turun sebesar 3,1 persen atau mencapai USD6,63 miliar dengan volume sebesar 1,59 juta ton. Dari sisi volume, ekspor Jawa Barat turun sebesar 8,0 persen, dimana pada periode sebelumnya dapat tumbuh sebesar 10,8 persen.
“Dari dalam negeri, ekonomi Jabar masih tertekan oleh sejumlah kebijakan pemerintah, seperti pembatasan pintu impor hortikultura dan penentuan UMK,” pungkas dia.
Diakui Lucky, ekspor produk manufaktur diperkirakan akan tertekan dengan adanya aksi demontrasi buruh terhadap penetapan UMK tahun 2013, sehingga berdampak pada tersitanya waktu produksi.
Kendati mengalami tekanan dari sisi ekspor, perekonomian Jawa Barat akan tertolong oleh laju pertumbuhan investasi dan tingginya konsumsi rumah tangga. Walaupun, konsumsi rumah tangga terjadi perlambatan, namun sektor ini masih berada pada level tinggi. Kenaikan penghasilan, akan menambah keyakinan masyarakat melakukan kegiatan konsumsi.
Optimisme tersebut, didorong oleh hasil survei konsumen, di mana kondisi ekonomi akhir tahun mengalami sedikit peningkatan karena bertambahnya penghasilan. Sebagian besar rumah tangga merasa lebih baik karena perbaikan infrastruktur (35,7 persen) serta kemudahan mendapatkan kredit perbankan (25 persen). Walaupun, sebanyak 18 persen responden menyatakan bahwa kegiatan usahanya akan lebih buruk karena proses perizinan yang sulit (36 persen).
“Investasi di Jawa Barat diperkirakan akan kembali tumbuh meningkat. Laporan BKPPMD Jabar menyebutkan, investasi pada periode tersebut diperkirakan mencapai Rp22,35 triliun. Ini akan menyerap tenaga kerja sampai 36.685 orang,” jelas Lucky. Beberapa Negara yang berencana menanamkan modalnya di Jabar seperti Jepang USD474,1 juta, Korea Selatan USD464,5 juta.
(rna)
Lihat Juga :