DPR tidak boleh diskriminatif dan pilih kasih

Selasa, 13 November 2012 - 13:32 WIB
DPR tidak boleh diskriminatif...
DPR tidak boleh diskriminatif dan pilih kasih
A A A
Sindonews.com - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI tidak boleh diskriminatif dan terkesan pilih kasih ketika melakukan pemanggilan pihak-pihak yang terkait dengan masalah inefisiensi PLN yang mencapai Rp37 triliun tahun 2009-2010 lalu.

Hal itu karena berdasarkan rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), tercatat ada enam pihak yang diketahui berkaitan dengan masalah itu. Keenamnya yakni, BP Migas, Menteri ESDM, Direksi PGN, Menteri BUMN, PT Regas, dan PLN.

"Sebaiknya DPR-RI tidak diskriminatif dan terkesan pilih kasih dalam hal pemanggilan pihak-pihak terkait sehubungan dengan masalah inefisiensi PLN ini," kata Koordinator BUMN Care, Budi Purnomo Karjodihardjo kepada sindonews di Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Di sisi lain, diketahui pula BPK juga memberikan 18 rekomendasi. Dan dari 18 rekomendasi yang ada, rekomendasi terbanyak ditujukan kepada kepala BP Migas, sebanyak tujuh buah. Lalu, kepada Menteri ESDM empat buah, kepada direksi PGN tiga buah, kepada Menteri BUMN satu buah, dan kepada PT Regas satu buah.

Sedangkan satu buah rekomendasi yang diberikan kepada PLN diketahui berbunyi, agar PLN mempercepat pembangunan FSRU atau CNG di Bali.

"Akan sangat baik sekali jika DPR memanggil enam pihak yg terkait dengan rekomendasi BPK tersebut, berdasarkan prioritas mulai dari yang menerima rekomendasi paling banyak sampai yang paling sedikit," jelas Budi.

Sehingga, diakui Budi sangat mengejutkan ketika pemanggilan DPR dimulai dari yang paling sedikit menerima rekomendasi BPK. Dan pemanggilan itu memberikan kesan adanya diskriminasi terhadap Dahlan Iskan.

"Pemanggilan enam Pihak ini menurut hemat kami juga sangat penting. Agar DPR bisa menelusuri lebih lanjut, sesungguhnya pihak mana yang benar-benar melakukan inefisiensi. Atau malah bisa ditelusuri dan ditemukan pihak mana yang diduga melakukan korupsi," ujar Budi.

Selain itu, DPR juga harus meluruskan persepsi mengenai inefisiensi yang bukan berarti korupsi. Seharusnya publik diberikan pemahaman yang lebih jernih mengenai hal itu.

"BPK menyebutkan, penyebab inefisiensi bukan karena korupsi, tapi karena tidak tersedianya gas. Akibatnya PLN harus menggunakan minyak solar yang lebih mahal," tukas Budi.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pembubaran Lembaga,...
Pembubaran Lembaga, Anggota DPR Duga Karena Inefisiensi Anggaran Negara
Inefisiensi dan Buruknya...
Inefisiensi dan Buruknya Birokrasi Perparah Dampak Banjir di China
Ambisi Global Militer...
Ambisi Global Militer China Dihantui Skandal Korupsi dan Inefisiensi Sistemik
Jadi Mesin Investasi...
Jadi Mesin Investasi Baru, Danantara Didorong Akhiri Inefisiensi di BUMN
Soroti Inefisiensi Anggaran...
Soroti Inefisiensi Anggaran Daerah, Tito: Dana Rp5 Miliar Perjalanan Dinas Rp10 Miliar
PLN Sabet Tiga Penghargaan...
PLN Sabet Tiga Penghargaan Sekaligus dalam Ajang Indonesia Awards 2023
Berita Terkini
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
5 jam yang lalu
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
6 jam yang lalu
Di Balik Penghargaan...
Di Balik Penghargaan CCEPC Indonesia, Gao Hai Komitmen Bangun Kemitraan Jangka Panjang
6 jam yang lalu
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
6 jam yang lalu
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
7 jam yang lalu
Ancaman Blokade Laut...
Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
7 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved