Beras oriented rusak lokalitas Papua

Rabu, 14 November 2012 - 13:59 WIB
Beras oriented rusak...
Beras oriented rusak lokalitas Papua
A A A
Sindonews.com - Kebijakan pemerintah yang terlalu berorientasi pada beras menyebabkan tergusurnya ubi jalar yang merupakan bahan pangan lokal di Papua.

Padahal, ubi jalar bukan sekedar bahan pangan bagi masyarakat Papua. Pergeseran pola konsumsi masyarakat Papua ini berimplikasi pula pada lokalitas di provinsi ujung timur Indonesia tersebut.

Demikian disampaikan oleh Kiloner Wenda dalam diskusi bukunya yang berjudul "Ubi Jalar Si Manis Pemberi Kehidupan".

"Pemerintah tidak memperhatikan nilai-nilai yang terkandung dalam ubi jalar, jadi rusak nilai-nilai di masyarakat," ujar Kiloner Wenda di Bakoel Koffe, Jakarta, Rabu (14/11/2012).

Wenda mengkritik kebijakan pangan pemerintah yang sangat bias pada beras. "Produk ubi jalar di Papua masih sulit pemasarannya karena apa? Karena sudah dipenuhi oleh beras, ubi ini terdiskriminasi," ujarnya.

Akibat sikap pemerintah yang terlalu berorientasi pada beras ini, sambung Wenda, kini konsumsi ubi jalar di Papua semakin menurun dan konsumsi beras semakin meningkat. Ini terbukti dari pengalamannya sendiri ketika pulang kampung setelah beberapa tahun menjalani kuliah di kota Malang.

"Ketika saya kuliah di Malang, saya pulang kampung, biasanya disuguhi ubi bakar, tiba-tiba dikasih nasi, saya kaget, saya sangat tidak setuju dengan hal itu," tukas dia.

Dampak sosial dari pergeseran pola konsumsi masyarakat Papua adalah hal yang paling dikhawatirkan oleh Wenda. Berbeda dengan beras, ubi jalar merupakan bahan pangan yang tidak perlu dibeli di Papua dan biasa dikonsumsi bersama-sama.

Akibat semakin tingginya konsumsi beras, masyarakat Papua menjadi lebih berorientasi pada uang, sebab beras harus dibeli dengan uang. Padahal, pendapatan masyarakat Papua masih terhitung rendah.

"Kita lihat masyarakat Papua sumber pendapatan tidak ada, tapi sekarang mereka butuh uang untuk membeli beras, jadi sekarang semua pakai uang," jelasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sistem SP2KP untuk Pengendalian...
Sistem SP2KP untuk Pengendalian Harga Pangan
Swasembada Beras 3 Tahun...
Swasembada Beras 3 Tahun Berturut-turut, Indonesia Raih Penghargaan
Biaya Tersembunyi Sistem...
Biaya Tersembunyi Sistem Pangan RI Setara Hampir Separuh PDB
Pengamat Ekonomi : Kenaikan...
Pengamat Ekonomi : Kenaikan Harga Pangan Masih Wajar di Bulan Ramadan 2026
Bibit Ayam Broiler PPG...
Bibit Ayam Broiler PPG Siap Dukung Kedaulatan Pangan Nasional
Dukung Ketahanan Pangan...
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Syngenta Luncurkan Jagung Hibrida NK Perkasa Sakti
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
2 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
3 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
3 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
3 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
4 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
4 jam yang lalu
Infografis
3 Tujuan Rusia Menempatkan...
3 Tujuan Rusia Menempatkan Pesawat Tempur di Papua
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved