Pusri peroleh kredit Rp7,4 T
Kamis, 15 November 2012 - 10:41 WIB
Pusri peroleh kredit Rp7,4 T
A
A
A
Sindonews.com – PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) memperoleh kredit Rp7,4 triliun dari sindikasi tujuh bank nasional. Dana tersebut akan digunakan perseroan untuk meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan modal kerja.
Direktur Utama Pusri Musthofa menjelaskan, kredit ini memiliki tenor selama 10 tahun sejak akad pinjaman dengan grace period tiga tahun. Menurut Musthofa, fasilitas kredit investasi jangka panjang ini rencananya akan digunakan untuk pembangunan Pabrik Pusri IIB untuk menggantikan Pabrik Pusri II yang sudah berusia 38 tahun.
“Kerja sama ini merupakan upaya pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) No 2/2010 mengenai revitalisasi pabrik pupuk,” ujar Musthofa pada acara penandatanganan kredit sindikasi tersebut di Jakarta, kemarin.
Pabrik Pupuk II B tersebut, menurut dia, nantinya akan memiliki kapasitas produksi urea sebanyak 907.500 ton per tahun dan amoniak 660.000 ton per tahun, sehingga lebih besar dibandingkan kapasitas Pusri II, yaitu urea 552.000 ton per tahun dan amoniak 261.000 ton per tahun.
Peningkatan kapasitas ini merupakan upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan pupuk nasional maupun ekspor. Selain itu, dana pinjaman ini juga akan digunakan untuk pembangunan steam turbine generator dan boiler batu bara untuk mendukung utilitas dari Pabrik Pusri II-B.
Dana itu juga diperuntukkan bagi pembelian kapal self propelled urges barge untuk secara bertahap menggantikan kapal-kapal Pusri yang sudah ada. Menurut Musthofa, total biaya proyek untuk Pabrik Pusri II B adalah sebesar Rp6,5 triliun, di tambah biaya untuk turbin dan generator senilai Rp2,5 triliun.
Jika sesuai jadwal, groundbreaking pembangunan pabrik ini dilakukan pada Desember 2012 dan seluruh proyek akan selesai pada 2015. Pabrik ini diprediksi dapat beroperasi selama 15 tahun.
Tahun depan, produksi pupuk Pusri bisa mencapai 2,2 juta ton dan di 2015 (setelah pabrik selesai) produksinya dapat mencapai 2,8 juta ton. Ketujuh bank yang memberikan kredit kepada Pusri adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Jabar Banten Tbk (BJBR), Bank Sumatera Selatan Bangka Belitung, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Bank UOB Indonesia.
Adapun, rincian kredit tersebut adalah BCA sebesar Rp2,6 triliun, BRI sebesar Rp1,7 triliun, BNI sebesar Rp1,3 triliun, Bank Mandiri sebesar Rp1 triliun, Bank Jabar sebesar Rp400 miliar, kemudian Bank Sumatera Selatan Bangka Belitung dan Bank UOB masing-masing memberikan Rp200 miliar.
Direktur Korporasi BCA Dhalia M Ariotedjo mengatakan, BCA bertindak sebagai kreditur sekaligus sebagai bank koordinasi untuk pembiayaan tersebut. Dhalia menegaskan, dukungan ini diharapkan dapat mendukung ekspansi bisnis Pusri Palembang.
“Guna memenuhi kebutuhan pupuk yang terus meningkat, diperlukan peningkatan produksi melalui pembangunan pabrik-pabrik baru,” ujarnya.
Pemimpin Divisi BUMN dan Institusi BNI Rosa De Lima Dwi Mutiari menambahkan, sesuai dengan strategi besar yang diterapkan BNI, untuk penyaluran kredit perseroan berusaha menyasar delapan sektor unggulan.
Untuk kredit korporasi sendiri, perseroan lebih banyak menyalurkan ke sektor infrastruktur, pangan dan energi. Menurut dia, penyaluran kredit Rp1,3 triliun kepada PT Pusri dilakukan sebagai wujud sinergi BUMN untuk memperkuat program ketahanan pangan pemerintah.
Melalui dana tersebut, Pusri akan meningkatkan kapasitas produksinya untuk memenuhi kebutuhan pupuk nasional. Rosa menyampaikan, BNI akan berupaya mengejar target kredit di segmen korporasi, yang pada akhir tahun outstanding-nya dipatok sebesar Rp77 triliun, sementara penyaluran kredit korporasi per September 2012 baru mencapai Rp64,76 triliun.
“Target korporasi Rp77 triliun, tumbuh dari akhir tahun lalu sebesar Rp65 triliun. Yang paling kencang kita sampai saat ini banyak di infrastruktur karena kan ada MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Ada untuk jalan, transportasi, pelabuhan,” tuturnya.
Direktur Utama Pusri Musthofa menjelaskan, kredit ini memiliki tenor selama 10 tahun sejak akad pinjaman dengan grace period tiga tahun. Menurut Musthofa, fasilitas kredit investasi jangka panjang ini rencananya akan digunakan untuk pembangunan Pabrik Pusri IIB untuk menggantikan Pabrik Pusri II yang sudah berusia 38 tahun.
“Kerja sama ini merupakan upaya pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) No 2/2010 mengenai revitalisasi pabrik pupuk,” ujar Musthofa pada acara penandatanganan kredit sindikasi tersebut di Jakarta, kemarin.
Pabrik Pupuk II B tersebut, menurut dia, nantinya akan memiliki kapasitas produksi urea sebanyak 907.500 ton per tahun dan amoniak 660.000 ton per tahun, sehingga lebih besar dibandingkan kapasitas Pusri II, yaitu urea 552.000 ton per tahun dan amoniak 261.000 ton per tahun.
Peningkatan kapasitas ini merupakan upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan pupuk nasional maupun ekspor. Selain itu, dana pinjaman ini juga akan digunakan untuk pembangunan steam turbine generator dan boiler batu bara untuk mendukung utilitas dari Pabrik Pusri II-B.
Dana itu juga diperuntukkan bagi pembelian kapal self propelled urges barge untuk secara bertahap menggantikan kapal-kapal Pusri yang sudah ada. Menurut Musthofa, total biaya proyek untuk Pabrik Pusri II B adalah sebesar Rp6,5 triliun, di tambah biaya untuk turbin dan generator senilai Rp2,5 triliun.
Jika sesuai jadwal, groundbreaking pembangunan pabrik ini dilakukan pada Desember 2012 dan seluruh proyek akan selesai pada 2015. Pabrik ini diprediksi dapat beroperasi selama 15 tahun.
Tahun depan, produksi pupuk Pusri bisa mencapai 2,2 juta ton dan di 2015 (setelah pabrik selesai) produksinya dapat mencapai 2,8 juta ton. Ketujuh bank yang memberikan kredit kepada Pusri adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Jabar Banten Tbk (BJBR), Bank Sumatera Selatan Bangka Belitung, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Bank UOB Indonesia.
Adapun, rincian kredit tersebut adalah BCA sebesar Rp2,6 triliun, BRI sebesar Rp1,7 triliun, BNI sebesar Rp1,3 triliun, Bank Mandiri sebesar Rp1 triliun, Bank Jabar sebesar Rp400 miliar, kemudian Bank Sumatera Selatan Bangka Belitung dan Bank UOB masing-masing memberikan Rp200 miliar.
Direktur Korporasi BCA Dhalia M Ariotedjo mengatakan, BCA bertindak sebagai kreditur sekaligus sebagai bank koordinasi untuk pembiayaan tersebut. Dhalia menegaskan, dukungan ini diharapkan dapat mendukung ekspansi bisnis Pusri Palembang.
“Guna memenuhi kebutuhan pupuk yang terus meningkat, diperlukan peningkatan produksi melalui pembangunan pabrik-pabrik baru,” ujarnya.
Pemimpin Divisi BUMN dan Institusi BNI Rosa De Lima Dwi Mutiari menambahkan, sesuai dengan strategi besar yang diterapkan BNI, untuk penyaluran kredit perseroan berusaha menyasar delapan sektor unggulan.
Untuk kredit korporasi sendiri, perseroan lebih banyak menyalurkan ke sektor infrastruktur, pangan dan energi. Menurut dia, penyaluran kredit Rp1,3 triliun kepada PT Pusri dilakukan sebagai wujud sinergi BUMN untuk memperkuat program ketahanan pangan pemerintah.
Melalui dana tersebut, Pusri akan meningkatkan kapasitas produksinya untuk memenuhi kebutuhan pupuk nasional. Rosa menyampaikan, BNI akan berupaya mengejar target kredit di segmen korporasi, yang pada akhir tahun outstanding-nya dipatok sebesar Rp77 triliun, sementara penyaluran kredit korporasi per September 2012 baru mencapai Rp64,76 triliun.
“Target korporasi Rp77 triliun, tumbuh dari akhir tahun lalu sebesar Rp65 triliun. Yang paling kencang kita sampai saat ini banyak di infrastruktur karena kan ada MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Ada untuk jalan, transportasi, pelabuhan,” tuturnya.
(rna)
Lihat Juga :