Realisasi investasi Jepang tertinggi di Jabar
Kamis, 15 November 2012 - 15:04 WIB
Realisasi investasi Jepang tertinggi di Jabar
A
A
A
Sindonews.com – Jepang tercatat menjadi negara paling berkomitmen merealisasikan investasinya di Jawa Barat (Jabar), ketimbang negara lainnya. Realisasi investasi Jepang di Jabar pada triwulan III/2012 mencapai Rp4,4 triliun atau 60 persen dari total realisasi investasi penanaman modal asing (PMA).
Padahal, sejak awal tahun 2012, sejumlah negara tercatat berminat menanamkan modalnya di Indonesia. Namun demikian, sampai akhir tahun 2012, baru Jepang yang memiliki komitmen tinggi berinvestasi di Indonesia.
“Realisasi investasi Jepang mencapai 59,6 persen dari total realisasi investasi PMA sebesar Rp7,38 triliun,” kata Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah VI Jabar & Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata di Bandung, Kamis (15/11/2012).
Sebagaimana tercantum dalam Kajian Ekonomi Regional yang dikeluarkan Bank Indonesia, investasi Jepang mencapai Rp4,4 triliun, disusul investor gabungan beberapa negara sebesar Rp1,85 triliun, Korea Selatan Rp597 miliar dan Inggris Rp175 miliar. Investasi Jepang tersebut terbagi ke dalam 57 proyek dengan serapan tenaga kerja sebanyak 29.586 orang.
Lebih lanjut Lucky menjelaskan, investasi PMA dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) tumbuh sebesar 144 persen (yoy) pada triwulan III/2012. Angka ini lebih tinggi dari periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 6 persen (yoy).
Dari total realisasi investasi yang masuk ke Jabar, investasi PMA mencapai 57 persen, dengan realisasi sebesar Rp7,38 triliun. Sedangkan realisasi PMDN meningkat menjadi Rp5,53 triliun dari periode sebelumnya Rp4,89 triliun.
“Untuk realiasi PMA memang lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar yang mencapai Rp10,48 triliun,” jelas dia.
Diakui dia, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi masih menjadi daerah yang paling diminati investor PMA dan PMDN. Di mana, investasi di Kabupaten Karawang mencapai Rp4,63 triliun dengan total 23 proyek. Sedangkan di Kabupaten Bekasi mencapai Rp4,2 triliun dengan jumlah 68 proyek.
“Sebagian besar dari investasi masuk pada sektor industri logam, mesin dan elektronik sebesar 27,7 persen, industri makanan 13,8 persen, dan industri tekstil 7,7 persen,” imbuh dia.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Jabar Danny Sudrajat menjelaskan, untuk menarik minat investor asing dan dalam negeri, beberapa waktu lalu pihaknya mempromosikan Jabar pada West Java Investment Forum (WIJF) 2012 di Batam.
Pada kesempatan tersebut, pihaknya menawarkan 60 peluang investasi yang tersebar di 26 kabupaten/kota di Jabar. Menurut dia, ada sejumlah peluang investasi yang bisa diserap PMA dan PMDN.
Contohnya, pada sektor tersier atau industri hilir serta sektor yang memberikan nilai tambah dan tidak merusak daya dukung industri, seperti bidang IT, komponen otomotif, pakaian jadi, dan elektronik serta pengolahan makanan minuman.
“Sektor sektor tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak, berorientasi ekspor serta daya dukungnya tidak terlalu berat,” jelas dia
Menurut dia, setidaknya ada tiga kabupaten/kota di Jabar yang serius menawarkan potensi investasi daerahnya, yakni Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Sukabumi.
Pada kesempatan tersebut, Sukabumi menawarkan area pariwisata, Majalengka menawarkan Bandara dan Aero City Kertajati, sementara Sumedang pemanfaatan pengolahan air minum Waduk Jatigede.
Padahal, sejak awal tahun 2012, sejumlah negara tercatat berminat menanamkan modalnya di Indonesia. Namun demikian, sampai akhir tahun 2012, baru Jepang yang memiliki komitmen tinggi berinvestasi di Indonesia.
“Realisasi investasi Jepang mencapai 59,6 persen dari total realisasi investasi PMA sebesar Rp7,38 triliun,” kata Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah VI Jabar & Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata di Bandung, Kamis (15/11/2012).
Sebagaimana tercantum dalam Kajian Ekonomi Regional yang dikeluarkan Bank Indonesia, investasi Jepang mencapai Rp4,4 triliun, disusul investor gabungan beberapa negara sebesar Rp1,85 triliun, Korea Selatan Rp597 miliar dan Inggris Rp175 miliar. Investasi Jepang tersebut terbagi ke dalam 57 proyek dengan serapan tenaga kerja sebanyak 29.586 orang.
Lebih lanjut Lucky menjelaskan, investasi PMA dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) tumbuh sebesar 144 persen (yoy) pada triwulan III/2012. Angka ini lebih tinggi dari periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 6 persen (yoy).
Dari total realisasi investasi yang masuk ke Jabar, investasi PMA mencapai 57 persen, dengan realisasi sebesar Rp7,38 triliun. Sedangkan realisasi PMDN meningkat menjadi Rp5,53 triliun dari periode sebelumnya Rp4,89 triliun.
“Untuk realiasi PMA memang lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar yang mencapai Rp10,48 triliun,” jelas dia.
Diakui dia, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi masih menjadi daerah yang paling diminati investor PMA dan PMDN. Di mana, investasi di Kabupaten Karawang mencapai Rp4,63 triliun dengan total 23 proyek. Sedangkan di Kabupaten Bekasi mencapai Rp4,2 triliun dengan jumlah 68 proyek.
“Sebagian besar dari investasi masuk pada sektor industri logam, mesin dan elektronik sebesar 27,7 persen, industri makanan 13,8 persen, dan industri tekstil 7,7 persen,” imbuh dia.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Jabar Danny Sudrajat menjelaskan, untuk menarik minat investor asing dan dalam negeri, beberapa waktu lalu pihaknya mempromosikan Jabar pada West Java Investment Forum (WIJF) 2012 di Batam.
Pada kesempatan tersebut, pihaknya menawarkan 60 peluang investasi yang tersebar di 26 kabupaten/kota di Jabar. Menurut dia, ada sejumlah peluang investasi yang bisa diserap PMA dan PMDN.
Contohnya, pada sektor tersier atau industri hilir serta sektor yang memberikan nilai tambah dan tidak merusak daya dukung industri, seperti bidang IT, komponen otomotif, pakaian jadi, dan elektronik serta pengolahan makanan minuman.
“Sektor sektor tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak, berorientasi ekspor serta daya dukungnya tidak terlalu berat,” jelas dia
Menurut dia, setidaknya ada tiga kabupaten/kota di Jabar yang serius menawarkan potensi investasi daerahnya, yakni Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Sukabumi.
Pada kesempatan tersebut, Sukabumi menawarkan area pariwisata, Majalengka menawarkan Bandara dan Aero City Kertajati, sementara Sumedang pemanfaatan pengolahan air minum Waduk Jatigede.
(rna)
Lihat Juga :