2013, kredit perbankan tumbuh di atas 20%
Senin, 19 November 2012 - 10:00 WIB
2013, kredit perbankan tumbuh di atas 20%
A
A
A
Sindonews.com - Pertumbuhan kredit perbankan tahun depan diperkirakan masih di atas 20 persen. Hal tersebut dipicu potensi Indonesia sebagai tujuan investasi dinilai masih menarik bagi investor.
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mengatakan, Indonesia memiliki cukup modal untuk tumbuh tahun depan karena kinerja India dan China yang mulai melambat, sehingga Indonesia masih akan menjadi tujuan investasi yang atraktif bagi investor asing.
“Investasi asing ini akan menggairahkan investor domestik sehingga pertumbuhan kredit masih bisa di 24 persen,” kata Tony di Jakarta kemarin.
Menurut Tony, sektor konsumer masih akan mendominasi pertumbuhan kredit tahun depan. Kebijakan LTV yang diambil BI, kata dia, bertujuan untuk menjaga perbankan dari guncangan, meski dampaknya terjadi perlambatan kredit konsumer seperti kredit sepeda motor, namun hal itu sifatnya hanya sementara.
Untuk bisa tumbuh tahun depan, lanjut dia, stabilitas politik harus terjaga. Ini mengingat tahun 2013 sudah sangat dekat dengan momen Pemilihan Umum.
“Saya agak khawatir karena tahun 2013 sudah dekat Pemilu, 2012 saja kita sudah gaduh,” kata dia.
Hal senada juga diungkapkan oleh ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan. Dia optimistis pertumbuhan kredit perbankan masih di kisaran 20–25 persen tahun depan, namun dengan catatan tidak ada dampak krisis global yang melanda Indonesia. “Kuncinya fiscal cliff harus dihindari,” kata dia.
Menurut Fauzi, pertumbuhan kredit masih disokong oleh konsumsi domestik. Hal ini membuat kredit investasi yang mendukung berkembangnya sektor konsumsi juga akan meningkat, sedangkan kebijakan uang muka atau loan to value (LTV) yang dikeluarkan BI, dinilai Fauzi tidak akan mempersempit pertumbuhan kredit konsumer.
“Sifatnya bukan untuk membatasi pertumbuhan kredit tapi untuk memastikan debitur bonafide, bagian dari risk management,” jelasnya.
Hingga September 2012, BI mencatat terjadi perlambatan pertumbuhan kredit. Jika pada Agustus 2012 kredit tumbuh 23,6 persen, hingga akhir September menurun menjadi 22,9 persen. Perlambatan ini merupakan perlambatan kedua pasalnya pada Juli 2012 pertumbuhan kredit mencapai 25,2 persen.
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mengatakan, Indonesia memiliki cukup modal untuk tumbuh tahun depan karena kinerja India dan China yang mulai melambat, sehingga Indonesia masih akan menjadi tujuan investasi yang atraktif bagi investor asing.
“Investasi asing ini akan menggairahkan investor domestik sehingga pertumbuhan kredit masih bisa di 24 persen,” kata Tony di Jakarta kemarin.
Menurut Tony, sektor konsumer masih akan mendominasi pertumbuhan kredit tahun depan. Kebijakan LTV yang diambil BI, kata dia, bertujuan untuk menjaga perbankan dari guncangan, meski dampaknya terjadi perlambatan kredit konsumer seperti kredit sepeda motor, namun hal itu sifatnya hanya sementara.
Untuk bisa tumbuh tahun depan, lanjut dia, stabilitas politik harus terjaga. Ini mengingat tahun 2013 sudah sangat dekat dengan momen Pemilihan Umum.
“Saya agak khawatir karena tahun 2013 sudah dekat Pemilu, 2012 saja kita sudah gaduh,” kata dia.
Hal senada juga diungkapkan oleh ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan. Dia optimistis pertumbuhan kredit perbankan masih di kisaran 20–25 persen tahun depan, namun dengan catatan tidak ada dampak krisis global yang melanda Indonesia. “Kuncinya fiscal cliff harus dihindari,” kata dia.
Menurut Fauzi, pertumbuhan kredit masih disokong oleh konsumsi domestik. Hal ini membuat kredit investasi yang mendukung berkembangnya sektor konsumsi juga akan meningkat, sedangkan kebijakan uang muka atau loan to value (LTV) yang dikeluarkan BI, dinilai Fauzi tidak akan mempersempit pertumbuhan kredit konsumer.
“Sifatnya bukan untuk membatasi pertumbuhan kredit tapi untuk memastikan debitur bonafide, bagian dari risk management,” jelasnya.
Hingga September 2012, BI mencatat terjadi perlambatan pertumbuhan kredit. Jika pada Agustus 2012 kredit tumbuh 23,6 persen, hingga akhir September menurun menjadi 22,9 persen. Perlambatan ini merupakan perlambatan kedua pasalnya pada Juli 2012 pertumbuhan kredit mencapai 25,2 persen.
(gpr)
Lihat Juga :