CT : Transformasi ekonomi, upah buruh harus naik
Selasa, 20 November 2012 - 17:01 WIB
CT : Transformasi ekonomi, upah buruh harus naik
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN)sekaligus CEO CT Corp Chairul Tanjung menyatakan, kondisi saat ini upah buruh memang harus dinaikkan. Pasalnya, dalam proses transformasi ekonomi, dimana sebelumnya berbasis sumber daya alam (SDA) dan buruh murah menjadi basis sumber daya manusia (SDM) yang berpendidikan dengan teknologi.
"Based-nya produktivitas, inovasi dan kreativitas. Dan karenanya, mau gak mau bahwa upah buruh itu memang harus naik," ujar CT di kantornya, Jakarta, Selasa (20/11/2012).
Akan tetapi, lanjutnya, kenaikan harus disesuaikan dengan standar hidup layak. Dia menegaskan, di kedua sisi ini harus ada penyamarataan.
"Filosofinya harus ujungnya, ya itu upah minimal dan standar hidup layak harus sama. Jadi, misalnya standar layak itu berapa, upah minimal itu berapa, itu harus sama," jelasnya.
Masalahnya, menurut CT tidak mungkin jika standar hidup layak langsung diterapkan pada upah minimal. "Itu banyak yang tutup itu pabrik-pabrik sekarang. Tapi arahnya kearah ke sana. Tinggal berapa tahunnya. Mau dua, tiga atau lima tahun. Tapi, menurut saya menuju ke sananya harus," tambahnya.
Perbedaan ini, lanjut CT, harus diatur pada setiap industri. "Jadi, ada industri dengan cost SDM itu hanya 10 persen atau di bawah 10 persen dari cost produksi. Ada yang sampai 50 persen, bahkan lebih. Tentu yang kontribusi kepada cost-nya dan tenaga kerja paling besar, itu pengaruhnya signifikan. Tapi kalau yang kecil ga masalah, mungkin malah lebih cepat," pungkasnya.
"Based-nya produktivitas, inovasi dan kreativitas. Dan karenanya, mau gak mau bahwa upah buruh itu memang harus naik," ujar CT di kantornya, Jakarta, Selasa (20/11/2012).
Akan tetapi, lanjutnya, kenaikan harus disesuaikan dengan standar hidup layak. Dia menegaskan, di kedua sisi ini harus ada penyamarataan.
"Filosofinya harus ujungnya, ya itu upah minimal dan standar hidup layak harus sama. Jadi, misalnya standar layak itu berapa, upah minimal itu berapa, itu harus sama," jelasnya.
Masalahnya, menurut CT tidak mungkin jika standar hidup layak langsung diterapkan pada upah minimal. "Itu banyak yang tutup itu pabrik-pabrik sekarang. Tapi arahnya kearah ke sana. Tinggal berapa tahunnya. Mau dua, tiga atau lima tahun. Tapi, menurut saya menuju ke sananya harus," tambahnya.
Perbedaan ini, lanjut CT, harus diatur pada setiap industri. "Jadi, ada industri dengan cost SDM itu hanya 10 persen atau di bawah 10 persen dari cost produksi. Ada yang sampai 50 persen, bahkan lebih. Tentu yang kontribusi kepada cost-nya dan tenaga kerja paling besar, itu pengaruhnya signifikan. Tapi kalau yang kecil ga masalah, mungkin malah lebih cepat," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :