Pembangunan kereta super cepat terhambat biaya
Kamis, 22 November 2012 - 16:55 WIB
Pembangunan kereta super cepat terhambat biaya
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan, masalah yang paling utama terkait pembangunan kereta api (KA) super cepat di Indonesia adalah masalah pembiayaannya.
"Seorang ekonomis Spanyol, Gines de Rus berpendapat bahwa keputusan untuk menolak atau menunda rencana KA super cepat bukan berarti menentang kemajuan. Perlu diperhatikan dampak sosial lebih lanjut dan ditimbang dengan biaya yang dikeluarkan," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono usai menghadiri Seminar Nasional Teknis Sipil Universitas Indonesia bertema "VIisioning The Future Through High Speed Train” di Jakarta, Kamis (22/11/2012).
Dia menilai, pembangunan KA super cepat bukanlah strategi transportasione-size-fits-all. Beda negara, dengan beda luasan, beda tingkat populasi, beda kebudayaan dan kebiasaan, dan terutama beda infrastruktur transportasi eksisting memiliki kebutuhan yang berbeda pula.
Bambang menjelaskan, KA super cepat memerlukan investasi dalam jumlah yang sangat besar. Frost & Sullivan memproyeksikan, dalam 10 tahun ke depan, diperlukan USD824 miliar investasi untuk konstruksi infrastruktur KA super cepat, dan tambahan USD76 miliar untuk pengadaan sarananya (rolling stock).
Dalam 10 tahun ke depan menurut proyeksi tersebut, diperkirakan investasi paling besar dalam bidang infrastruktur KA super cepat akan digelontorkan Amerika Serikat sebesar USD137 miliar, diikuti oleh China sebesar USD128 miliar. Di Eropa, Spanyol berencana menginvestasikan USD104 miliar untuk pembangunan rel dan pengadaan rolling stock, diikuti oleh Perancis dengan nominal USD75 miliar.
"Tahun 2020, dengan panjang jaringan 5.520 kilometer, diperkirakan Spanyol akan menjadi market leader di bidang KA super cepat di Eropa, melampaui Perancis yang panjang jaringannya hanya 4.787 km. Turki akan menjadi investor ketiga terbesar di Eropa, dengan nilai investasi sebesar USD59 miliar," tambahnya.
Untuk itu, katanya, perlunya menimbang dan menganalisa apakah KA super cepat merupakan suatu kebutuhan yang perlu diprioritaskan untuk melengkapi infrastruktur transportasi di Indonesia. Diharapkan dapat mengelaborasi lebih lanjut mengenai perkembangan KA super cepat di dunia dari segi teknis dan kesesuaian dengan kebutuhan transportasi di Indonesia.
"Harapannya tentu saja agar kita di Indonesia dapat mendapatkan pandangan yang lebih holistik dan komprehensif tentang kemungkinan pembangunan KA super cepat di Indonesia," pungkasnya.
"Seorang ekonomis Spanyol, Gines de Rus berpendapat bahwa keputusan untuk menolak atau menunda rencana KA super cepat bukan berarti menentang kemajuan. Perlu diperhatikan dampak sosial lebih lanjut dan ditimbang dengan biaya yang dikeluarkan," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono usai menghadiri Seminar Nasional Teknis Sipil Universitas Indonesia bertema "VIisioning The Future Through High Speed Train” di Jakarta, Kamis (22/11/2012).
Dia menilai, pembangunan KA super cepat bukanlah strategi transportasione-size-fits-all. Beda negara, dengan beda luasan, beda tingkat populasi, beda kebudayaan dan kebiasaan, dan terutama beda infrastruktur transportasi eksisting memiliki kebutuhan yang berbeda pula.
Bambang menjelaskan, KA super cepat memerlukan investasi dalam jumlah yang sangat besar. Frost & Sullivan memproyeksikan, dalam 10 tahun ke depan, diperlukan USD824 miliar investasi untuk konstruksi infrastruktur KA super cepat, dan tambahan USD76 miliar untuk pengadaan sarananya (rolling stock).
Dalam 10 tahun ke depan menurut proyeksi tersebut, diperkirakan investasi paling besar dalam bidang infrastruktur KA super cepat akan digelontorkan Amerika Serikat sebesar USD137 miliar, diikuti oleh China sebesar USD128 miliar. Di Eropa, Spanyol berencana menginvestasikan USD104 miliar untuk pembangunan rel dan pengadaan rolling stock, diikuti oleh Perancis dengan nominal USD75 miliar.
"Tahun 2020, dengan panjang jaringan 5.520 kilometer, diperkirakan Spanyol akan menjadi market leader di bidang KA super cepat di Eropa, melampaui Perancis yang panjang jaringannya hanya 4.787 km. Turki akan menjadi investor ketiga terbesar di Eropa, dengan nilai investasi sebesar USD59 miliar," tambahnya.
Untuk itu, katanya, perlunya menimbang dan menganalisa apakah KA super cepat merupakan suatu kebutuhan yang perlu diprioritaskan untuk melengkapi infrastruktur transportasi di Indonesia. Diharapkan dapat mengelaborasi lebih lanjut mengenai perkembangan KA super cepat di dunia dari segi teknis dan kesesuaian dengan kebutuhan transportasi di Indonesia.
"Harapannya tentu saja agar kita di Indonesia dapat mendapatkan pandangan yang lebih holistik dan komprehensif tentang kemungkinan pembangunan KA super cepat di Indonesia," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :