Fitch pertahankan peringkat RI
Jum'at, 23 November 2012 - 09:54 WIB
Fitch pertahankan peringkat RI
A
A
A
Sindonews.com - Fitch Ratings melakukan afirmasi peringkat utang luar negeri (sovereign credit rating) Indonesia di tingkat BBB-/stable outlook. Lembaga itu memandang prospek Indonesia masih positif.
Fitch menyebutkan, faktor kunci yang mendukung keputusan afirmasi bagi peringkat Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan ketahanan terhadap kondisi global yang sedang mengalami penurunan.
Selain itu, Fitch menilai tingkat investasi yang tinggi, rasio utang publik yang rendah dengan tren yang semakin menurun, serta kerangka kebijakan makroekonomi yang kuat menjadi pendukung prospek positif perekonomian Indonesia.
Sementara, hal-hal yang masih menjadi perhatian lembaga pemeringkat itu menurut analis utama Fitch Philips McNicholas adalah pendanaan eksternal dan pendapatan fiskal yang masih berada di bawah median negara-negara dengan level BBB.
“Selain itu, porsi utang luar negeri dengan mata uang asing yang masih relatif tinggi memberikan risiko atas fluktuasi nilai tukar, juga pendapatan per kapita yang relatif rendah, ketertingggalan infrastruktur, dan korupsi masih menjadi kendala,” ungkap dalam keterangan tertulis yang dilansir Bank Indonesia (BI), kemarin.
Gubernur BI Darmin Nasution menyatakan, afirmasi peringkat dari Fitch merupakan pengakuan atas stabilitas ekonomi Indonesia dengan prospek pertumbuhan tertinggi di tengah kondisi penurunan ekonomi global.
“Kekuatan fundamental makroekonomi sebagaimana dicatat oleh Fitch Ratings akan menjadi modal kuat guna mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan pencapaian yang lebih baik lagi,” tandasnya.
Penetapan peringkat terakhir dilakukan oleh Fitch pada 15 Desember 2011. Saat itu lembaga pemeringkat internasional tersebut memberikan upgrade peringkat utang luar negeri Indonesia dari BB+/positive outlook menjadi BBB-/stable outlook.
Terpisah, perlambatan ekonomi global diperkirakan bakal menekan pertumbuhan ekonomi tahun depan. Ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2013 hanya sekitar 6,3 persen atau lebih rendah jika dibandingkan asumsi pertumbuhan pemerintah di level 6,5-6,8 persen.
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasentiantono menilai, asumsi pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah hingga 6,8 persen tidak realistis.
“Pemerintah patok 2013 itu 6,8 persen bahkan 7 persen, itu nggak jelas, nggakrealistis dan menurut saya itu ngawur. Alasannya sederhana, seluruh negara pertumbuhannya melemah, jadi masuk akal kalau kita akan turun juga. Mungkin pemerintah minta masyarakat untuk semangat, tapi kalau tidak realistis bagaimana,” ujar Tony pada seminar “Market Outlook 2013 (A Peek Into 2013)” di Jakarta, kemarin.
Tony memberikan gambaran pertumbuhan China yang tahun sebelumnya mencapai 9,4 persen turun menjadi 7,4 persen pada kuartal III/2012 dan diperkirakan hanya mencapai 7,5 persen akhir tahun nanti.
Begitu pula India yang pertumbuhan ekonominya tahun lalu mencapai 8 persen, pada kuartal I/2012 hanya tumbuh 5,1 persen. Meski melambat,Tony menilai ekonomi Indonesia masih positif didorong oleh pasar domestik yang kuat dengan kelas menengah yang terus tumbuh, serta banyaknya sumber daya alam.
Lembaga keuangan seperti perbankan pun tumbuh positif dengan persentase laba yang terus naik dan rasio kredit bermasalah yang turun tajam.
Selain itu, banyaknya modal asing yang masuk ke Indonesia menjadi berkah dari perlambatan ekonomi yang terjadi di negara lain. Dia mencontohkan, India yang tak lagi dipandang menarik oleh para investor dengan inflasi yang 10,4 persen, pengangguran 9,8 persen, defisit anggaran mencapai 5,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), serta utang luar negeri korporasi yang tinggi.
Investor pun dinilai mulai jenuh dengan India karena pembangunan infrastrukturnya lambat. “Jadi artinya, kalau kita terlambat (membangun infrastruktur) kita juga akan seperti India,” tuturnya.
Fitch menyebutkan, faktor kunci yang mendukung keputusan afirmasi bagi peringkat Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan ketahanan terhadap kondisi global yang sedang mengalami penurunan.
Selain itu, Fitch menilai tingkat investasi yang tinggi, rasio utang publik yang rendah dengan tren yang semakin menurun, serta kerangka kebijakan makroekonomi yang kuat menjadi pendukung prospek positif perekonomian Indonesia.
Sementara, hal-hal yang masih menjadi perhatian lembaga pemeringkat itu menurut analis utama Fitch Philips McNicholas adalah pendanaan eksternal dan pendapatan fiskal yang masih berada di bawah median negara-negara dengan level BBB.
“Selain itu, porsi utang luar negeri dengan mata uang asing yang masih relatif tinggi memberikan risiko atas fluktuasi nilai tukar, juga pendapatan per kapita yang relatif rendah, ketertingggalan infrastruktur, dan korupsi masih menjadi kendala,” ungkap dalam keterangan tertulis yang dilansir Bank Indonesia (BI), kemarin.
Gubernur BI Darmin Nasution menyatakan, afirmasi peringkat dari Fitch merupakan pengakuan atas stabilitas ekonomi Indonesia dengan prospek pertumbuhan tertinggi di tengah kondisi penurunan ekonomi global.
“Kekuatan fundamental makroekonomi sebagaimana dicatat oleh Fitch Ratings akan menjadi modal kuat guna mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan pencapaian yang lebih baik lagi,” tandasnya.
Penetapan peringkat terakhir dilakukan oleh Fitch pada 15 Desember 2011. Saat itu lembaga pemeringkat internasional tersebut memberikan upgrade peringkat utang luar negeri Indonesia dari BB+/positive outlook menjadi BBB-/stable outlook.
Terpisah, perlambatan ekonomi global diperkirakan bakal menekan pertumbuhan ekonomi tahun depan. Ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2013 hanya sekitar 6,3 persen atau lebih rendah jika dibandingkan asumsi pertumbuhan pemerintah di level 6,5-6,8 persen.
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasentiantono menilai, asumsi pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah hingga 6,8 persen tidak realistis.
“Pemerintah patok 2013 itu 6,8 persen bahkan 7 persen, itu nggak jelas, nggakrealistis dan menurut saya itu ngawur. Alasannya sederhana, seluruh negara pertumbuhannya melemah, jadi masuk akal kalau kita akan turun juga. Mungkin pemerintah minta masyarakat untuk semangat, tapi kalau tidak realistis bagaimana,” ujar Tony pada seminar “Market Outlook 2013 (A Peek Into 2013)” di Jakarta, kemarin.
Tony memberikan gambaran pertumbuhan China yang tahun sebelumnya mencapai 9,4 persen turun menjadi 7,4 persen pada kuartal III/2012 dan diperkirakan hanya mencapai 7,5 persen akhir tahun nanti.
Begitu pula India yang pertumbuhan ekonominya tahun lalu mencapai 8 persen, pada kuartal I/2012 hanya tumbuh 5,1 persen. Meski melambat,Tony menilai ekonomi Indonesia masih positif didorong oleh pasar domestik yang kuat dengan kelas menengah yang terus tumbuh, serta banyaknya sumber daya alam.
Lembaga keuangan seperti perbankan pun tumbuh positif dengan persentase laba yang terus naik dan rasio kredit bermasalah yang turun tajam.
Selain itu, banyaknya modal asing yang masuk ke Indonesia menjadi berkah dari perlambatan ekonomi yang terjadi di negara lain. Dia mencontohkan, India yang tak lagi dipandang menarik oleh para investor dengan inflasi yang 10,4 persen, pengangguran 9,8 persen, defisit anggaran mencapai 5,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), serta utang luar negeri korporasi yang tinggi.
Investor pun dinilai mulai jenuh dengan India karena pembangunan infrastrukturnya lambat. “Jadi artinya, kalau kita terlambat (membangun infrastruktur) kita juga akan seperti India,” tuturnya.
(gpr)
Lihat Juga :