Uni Eropa bahas anggaran 2014-2020
Jum'at, 23 November 2012 - 09:58 WIB
Uni Eropa bahas anggaran 2014-2020
A
A
A
Sindonews.com - Para pemimpin Uni Eropa (UE) hari ini memulai pembicaraan untuk membahas anggaran periode 2014–2020. Krisis utang yang belum tuntas mendorong beberapa negara, termasuk Inggris, menyerukan pemotongan anggaran untuk penghematan.
Tetapi, negara-negara yang bergantung kepada pendanaan dari UE, seperti Polandia, menginginkan tingkat pengeluaran saat ini dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Menurut BBC, dalam draf anggaran Uni Eropa, negaranegara pendukung penghematan menginginkan pemangkasan anggaran hingga 973 miliar euro (USD1.245 miliar).
Kendati demikian, upaya penghematan tersebut tidak dilakukan di seluruh sektor. Seperti yang diusulkan Prancis yang menyatakan keberatan atas usulan pemangkasan di bidang pertanian.
Sedangkan, negara-negara yang terletak di Eropa Tengah dan Timur menentang pemotongan belanja infrastruktur di daerah yang miskin. Rancangan anggaran yang secara resmi disebut Multi-Annual Financial Framework (MFF) 2014- 2020 itu akan disusun oleh Presiden UE Herman Van Rompuy.
”Pertanian dan belanja infrastruktur merupakan sektor yang banyak memakan biaya anggaran, untuk itu saya akan merencanakan pemotongan masing-masing 309,5 miliar euro (32 persen dari total belanja) dan 364,5 miliar euro (37,5 persen),” ujar Van Rompuy dikutip BBC, kemarin.
Menanggapi hal itu Kanselir Jerman Angela Merkel mengungkapkan, konferensi tingkat tinggi (KTT) lainnya mungkin diperlukan pada awal tahun depan jika kesepakatan tidak dapat dicapai dalam pertemuan saat ini.
Sementara itu Presiden Komisi UE Jose Manuel Barroso mengklaim, tidak ada satu pihak pun yang membahas kualitas investasi. Sedangkan, Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron memperingatkan, pihaknya dapat menggunakan hak veto jika negara UE menyerukan kenaikan pengeluaran.
Sekadar diketahui, ke-27 negara UE dapat memveto kesepakatan sehingga Parlemen Eropa harus memilih MFF, bahkan jika kesepakatan tercapai.
Di bagian lain, PM Yunani Antonis Samaras pada Rabu (21/11) menyerukan, UE harus meningkatkan upaya untuk mencairkan dana talangan (bailout) Athena.
”Hal tersebut bukan hanya untuk masa depan negara kita, melainkan untuk stabilitas zona euro secara keseluruhan di mana bergantung pada keberhasilan dari upaya itu dalam beberapa hari ke depan,” katanya sebagaimana dilansir AFP. Pernyataan Samaras muncul setelah menteri keuangan zona euro gagal mencapai kesepakatan bailout Yunani.
Sementara, Menteri Keuangan Prancis Pierre Moscovici mengutarakan,zona euro hanya ”satu jengkal” untuk mencapai kesepakatan. Tetapi, sumber terdekat mengatakan bahwa Eropa dan IMF belum mendekati kesepakatan sama sekali.
Tetapi, negara-negara yang bergantung kepada pendanaan dari UE, seperti Polandia, menginginkan tingkat pengeluaran saat ini dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Menurut BBC, dalam draf anggaran Uni Eropa, negaranegara pendukung penghematan menginginkan pemangkasan anggaran hingga 973 miliar euro (USD1.245 miliar).
Kendati demikian, upaya penghematan tersebut tidak dilakukan di seluruh sektor. Seperti yang diusulkan Prancis yang menyatakan keberatan atas usulan pemangkasan di bidang pertanian.
Sedangkan, negara-negara yang terletak di Eropa Tengah dan Timur menentang pemotongan belanja infrastruktur di daerah yang miskin. Rancangan anggaran yang secara resmi disebut Multi-Annual Financial Framework (MFF) 2014- 2020 itu akan disusun oleh Presiden UE Herman Van Rompuy.
”Pertanian dan belanja infrastruktur merupakan sektor yang banyak memakan biaya anggaran, untuk itu saya akan merencanakan pemotongan masing-masing 309,5 miliar euro (32 persen dari total belanja) dan 364,5 miliar euro (37,5 persen),” ujar Van Rompuy dikutip BBC, kemarin.
Menanggapi hal itu Kanselir Jerman Angela Merkel mengungkapkan, konferensi tingkat tinggi (KTT) lainnya mungkin diperlukan pada awal tahun depan jika kesepakatan tidak dapat dicapai dalam pertemuan saat ini.
Sementara itu Presiden Komisi UE Jose Manuel Barroso mengklaim, tidak ada satu pihak pun yang membahas kualitas investasi. Sedangkan, Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron memperingatkan, pihaknya dapat menggunakan hak veto jika negara UE menyerukan kenaikan pengeluaran.
Sekadar diketahui, ke-27 negara UE dapat memveto kesepakatan sehingga Parlemen Eropa harus memilih MFF, bahkan jika kesepakatan tercapai.
Di bagian lain, PM Yunani Antonis Samaras pada Rabu (21/11) menyerukan, UE harus meningkatkan upaya untuk mencairkan dana talangan (bailout) Athena.
”Hal tersebut bukan hanya untuk masa depan negara kita, melainkan untuk stabilitas zona euro secara keseluruhan di mana bergantung pada keberhasilan dari upaya itu dalam beberapa hari ke depan,” katanya sebagaimana dilansir AFP. Pernyataan Samaras muncul setelah menteri keuangan zona euro gagal mencapai kesepakatan bailout Yunani.
Sementara, Menteri Keuangan Prancis Pierre Moscovici mengutarakan,zona euro hanya ”satu jengkal” untuk mencapai kesepakatan. Tetapi, sumber terdekat mengatakan bahwa Eropa dan IMF belum mendekati kesepakatan sama sekali.
(gpr)
Lihat Juga :