Meski bahan baku lokal, tetap dihujani peminat
Sabtu, 24 November 2012 - 15:23 WIB
Meski bahan baku lokal, tetap dihujani peminat
A
A
A
Sindonews.com - Komitmen menjaga kualitas produk demi kepuasan konsumen merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan usaha kerajinan. Sebab, selain menjual ide keunikan bentuk, kerajinan banyak diburu karena keawetannya.
Upaya itu sudah dilakukan berpuluh tahun oleh salah seorang pengrajin kursi bambu, Muhammad Muhtar (43), warga Dusun Tlogosari, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.
Muhammad Muhtar (43), perajin kursi bambu dari Dusun Tlogosari, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, sangat sadar visi berbisnis tersebut.
Tak heran, jika sejak dia menekuni dunia kerajinan 2005 silam, kini hasil karyanya sudah dikenal luas. Bahkan permintaan justru banyak yang datang dari luar Jawa Tengah, misalnya Banyuwangi Jawa Timur hingga wilayah Lampung. Biasanya, pengiriman dilakukan rutin dua bulan sekali.
"Order dari kota-kota di Jawa Tengah biasanya hanya beberapa set kursi saja. Namun permintaan dari Banyuwangi, Jawa Barat, dan Lampung minimal 20 set,” kata Muhtar saat ditemui SINDO, kemarin.
Untuk mengerjakan order sebanyak itu, pemilik Sanggar Bambu Eka Karya ini dibantu dua karyawan, dengan produksi 5-7 hari/set/orang. "Karyawan di sini tentu mereka yang sudah berkompeten. Sehingga hasilnya tidak mengecewakan," paparnya.
Kursi yang diproduksi berbahan baku bambu berjenis wulung dan tutul. Menurutnya, bahan bakunya diperoleh dari penjual di sekitar wilayah Salaman.
"Saya pikir bambu di wilayah Salaman cukup berkualitas, ditambah pengerjaannya yang bagus, akan menghasilkan karya yang bagus pula," lanjutnya.
Untuk kursi berbahan bambu wulung, dia mematok harga Rp550.000/set. Sedangkan yang berbahan bambu tutul mencapai Rp650.000. “Yang membuat beda harga karena memang harga bahan bakunya sudah berbeda,” ungkapnya lagi.
Sanggar miliknya terletak di tepi jalan Magelang-Purworejo Km 24, sehingga para calon konsumen dengan mudah melihat hasil produksi.
Selain sebagai perajin kursi bambu, Muchtar juga melayani order pembuatan rumah makan berbahan bambu dan stan-stan pameran secara insidentil. "Selagi kami bisa (berbahan bambu) kami akan bersedia dan akan memberikan yang terbaik bagi konsumen," tandas Muhtar.
Upaya itu sudah dilakukan berpuluh tahun oleh salah seorang pengrajin kursi bambu, Muhammad Muhtar (43), warga Dusun Tlogosari, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.
Muhammad Muhtar (43), perajin kursi bambu dari Dusun Tlogosari, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, sangat sadar visi berbisnis tersebut.
Tak heran, jika sejak dia menekuni dunia kerajinan 2005 silam, kini hasil karyanya sudah dikenal luas. Bahkan permintaan justru banyak yang datang dari luar Jawa Tengah, misalnya Banyuwangi Jawa Timur hingga wilayah Lampung. Biasanya, pengiriman dilakukan rutin dua bulan sekali.
"Order dari kota-kota di Jawa Tengah biasanya hanya beberapa set kursi saja. Namun permintaan dari Banyuwangi, Jawa Barat, dan Lampung minimal 20 set,” kata Muhtar saat ditemui SINDO, kemarin.
Untuk mengerjakan order sebanyak itu, pemilik Sanggar Bambu Eka Karya ini dibantu dua karyawan, dengan produksi 5-7 hari/set/orang. "Karyawan di sini tentu mereka yang sudah berkompeten. Sehingga hasilnya tidak mengecewakan," paparnya.
Kursi yang diproduksi berbahan baku bambu berjenis wulung dan tutul. Menurutnya, bahan bakunya diperoleh dari penjual di sekitar wilayah Salaman.
"Saya pikir bambu di wilayah Salaman cukup berkualitas, ditambah pengerjaannya yang bagus, akan menghasilkan karya yang bagus pula," lanjutnya.
Untuk kursi berbahan bambu wulung, dia mematok harga Rp550.000/set. Sedangkan yang berbahan bambu tutul mencapai Rp650.000. “Yang membuat beda harga karena memang harga bahan bakunya sudah berbeda,” ungkapnya lagi.
Sanggar miliknya terletak di tepi jalan Magelang-Purworejo Km 24, sehingga para calon konsumen dengan mudah melihat hasil produksi.
Selain sebagai perajin kursi bambu, Muchtar juga melayani order pembuatan rumah makan berbahan bambu dan stan-stan pameran secara insidentil. "Selagi kami bisa (berbahan bambu) kami akan bersedia dan akan memberikan yang terbaik bagi konsumen," tandas Muhtar.
(gpr)
Lihat Juga :