Impor holtikultura ancam hidup petani
Minggu, 25 November 2012 - 10:41 WIB
Impor holtikultura ancam hidup petani
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, idealnya penerimaan impor holtikultura melalui satu pintu. Akan tetapi, yang dipraktekkan negara-negara maju, belum bisa diterapkan di Indonesia. Pasalnya, lokasi Indonesia yang cukup luas akan membuat perdagangan di dalam negeri kesulitan.
"Secara idealnya itu memang satu pintu," ungkap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono di Hotel Palace, Cipanas, Jawa Barat, Sabtu (24/11/2012).
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No 15/2012 dan No 16/2012 tentang pembatasan pelabuhan impor holtikultura, pemerintah hanya mengizikan empat pintu masuk untuk pintu masuk holtikultura dari sebelumnya empat pelabuhan.
Ke empat pelabuhan Indonesia yang merupakan pintu masuk barang impor holtikultura, yakni Pelabuhan Belawan, Medan di Sumatera Utara, Pelabuhan Makassar di Sulawesi Selatan, Pelabuhan Tanjung perak di Surabaya dan Bandara Soekarno-Hatta, Banten, sedangkan Pelabuhan Tanjung Priok ditutup lantaran terlalu padat.
Dampak buruk impor holtikultura, menurut Adi, akan menyebabkan petani holtikultura semakin lama akan punah. "Karena sebenarnya bukan orang Indonesia yang menjadi importir," ucapnya.
Eksportir holtikultura tersebut langsung membawa barang dari negaranya dan bernegosiasi dengan pedagang lokal. Pemerintah, menurutnya, tidak bisa membatasi negosiasi kedua belah pihak, sehingga eksportir akan sangat mudah memberikan penawaran yang menarik dibandingkan petani lokal.
"Selain itu, memang kemasan mereka yang pakai kontainer dan tetap bagus sampai di sini," tegas Adi. Maka dari itu, BPS sesuai fungsinya, dapat memperingati pemerintah untuk mengawasi harga produk dari petani.
Direktur Statistik Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan BPS Happy Hardjo menambahkan, selain mematikan petani, produk holtikultura impor ini juga akan mengubah selera masyarakat Indonesia.
"Kita lihat wortel di Surabaya, itu kalah sama wortel China. Ini akan mengakibatkan selera penduduk kita impor," kata Happy.
Maka itu, untuk pembatasan impor melalui satu pintu perlu disiapkan dalam jangka panjang. Selain memperhatikan efektifitas penyaluran barang di dalam negeri, tim pengawas juga perlu diperbanyak.
"Karena itu butuh banyak orang untuk mengawasi regulasi ini berjalan dengan tepat," pungkasnya.
Dalam sensus pertanian yang akan diselenggarakan BPS tahun 2013, khusus untuk jenis holtikultura akan diangkat satu isu, yaitu pengaturan impor holtikultura.
"Nanti akan kita tanya berapa jumlah pohon yang ditanam oleh petani, sehingga bisa kita proyeksikan kapasitas produksinya," ujar Adi.
"Secara idealnya itu memang satu pintu," ungkap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono di Hotel Palace, Cipanas, Jawa Barat, Sabtu (24/11/2012).
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No 15/2012 dan No 16/2012 tentang pembatasan pelabuhan impor holtikultura, pemerintah hanya mengizikan empat pintu masuk untuk pintu masuk holtikultura dari sebelumnya empat pelabuhan.
Ke empat pelabuhan Indonesia yang merupakan pintu masuk barang impor holtikultura, yakni Pelabuhan Belawan, Medan di Sumatera Utara, Pelabuhan Makassar di Sulawesi Selatan, Pelabuhan Tanjung perak di Surabaya dan Bandara Soekarno-Hatta, Banten, sedangkan Pelabuhan Tanjung Priok ditutup lantaran terlalu padat.
Dampak buruk impor holtikultura, menurut Adi, akan menyebabkan petani holtikultura semakin lama akan punah. "Karena sebenarnya bukan orang Indonesia yang menjadi importir," ucapnya.
Eksportir holtikultura tersebut langsung membawa barang dari negaranya dan bernegosiasi dengan pedagang lokal. Pemerintah, menurutnya, tidak bisa membatasi negosiasi kedua belah pihak, sehingga eksportir akan sangat mudah memberikan penawaran yang menarik dibandingkan petani lokal.
"Selain itu, memang kemasan mereka yang pakai kontainer dan tetap bagus sampai di sini," tegas Adi. Maka dari itu, BPS sesuai fungsinya, dapat memperingati pemerintah untuk mengawasi harga produk dari petani.
Direktur Statistik Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan BPS Happy Hardjo menambahkan, selain mematikan petani, produk holtikultura impor ini juga akan mengubah selera masyarakat Indonesia.
"Kita lihat wortel di Surabaya, itu kalah sama wortel China. Ini akan mengakibatkan selera penduduk kita impor," kata Happy.
Maka itu, untuk pembatasan impor melalui satu pintu perlu disiapkan dalam jangka panjang. Selain memperhatikan efektifitas penyaluran barang di dalam negeri, tim pengawas juga perlu diperbanyak.
"Karena itu butuh banyak orang untuk mengawasi regulasi ini berjalan dengan tepat," pungkasnya.
Dalam sensus pertanian yang akan diselenggarakan BPS tahun 2013, khusus untuk jenis holtikultura akan diangkat satu isu, yaitu pengaturan impor holtikultura.
"Nanti akan kita tanya berapa jumlah pohon yang ditanam oleh petani, sehingga bisa kita proyeksikan kapasitas produksinya," ujar Adi.
(rna)
Lihat Juga :