Perluas sektor bisnis, PTPN konversi kebun
Senin, 26 November 2012 - 14:28 WIB
Perluas sektor bisnis, PTPN konversi kebun
A
A
A
Sindonews.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII wilayah Jawa Barat dan Banten berencana memperluas sektor bisnis dengan mengkonversi sebagian lahan teh menjadi lahan tanaman buah buahan.
Direktur Utama PTPN VIII Dadi Sunardi mengakui, pihaknya akan memperlebar bidang usaha, menggarap tanaman buah buahan dari core bisnis teh. Untuk merealisasikan rencana tersebut, pihaknya akan memanfaatkan sekitar 3000 hektare lahan perkebunan teh. Saat ini, pihaknya sedang mempersiapkan konversi lahan menjadi perkebunan buah buahan.
“Kami akan menambah keragaman tanaman perkebunan, yaitu tanaman buah buahan. Kami berharap, pada 2017, rencana tersebut bisa mulai di jalankan,” jelas Dadi Sunardi di sela-sela seminar Aplikasi Teknologi Berbasis Hayati dalam Upaya Mewujudkan Pertanian yang Berkelanjutan di Hotel Aston Primera Pasteur, Jalan Dr Djunjunan, Kota Bandung, Senin (26/11/2012).
Menurut dia, penambahan komoditas tanaman perkebunan buah-buahan lokal untuk mendukung ketersediaan buah lokal di Indonesia. Diakui dia, upaya tersebut perlu dilakukan di tengah menjamurnya buah impor di Indonesia.
Menurut dia, dengan menanam buah sendiri dan menggunakan lahan yang luas maka diharapkan saat panen harga buah lokal dapat bersaing dengan buah impor.
Dijelaskan Dadi, beberapa komoditi buah yang akan di tanam oleh PTPN di antaranya mangga dan jeruk Garut. Kemudian jenis lainnya yang juga ditanam PTPN VIII adalah pisang, manggis dan durian. “Melalui upaya ini, kami berharap kinerja PTPN VIII bisa lebih baik lagi,” imbuh dia.
Kendati mengkonversi lahan teh, Dadi memastikan, rencana tersebut tidak akan mengurangi produktifitas perkebunan teh di wilayah Jabar dan Banten. Sebab, pengurangan lahan tanaman teh itu akan didorong peningkatan produktifitas teh. Sehingga, produktivitasnya bisa dipertahankan. Saat ini, luas lahan perkebunan teh PTPN VIII saat ini mencapai 114 ribu hektare.
Selain memperluas tanaman perkebunan, PTPN melalui anak perusahaannya PT Bio Industri Nusantara juga berencana melakukan penetrasi produk pupuk hayati di pasar lokal dan mancanegara. Saat ini, kemampuan produksi pupuk Bio Nusa mencapai 150 ton per hari. Volume produksi tersebut, akan terus ditingkatkan.
“Kami menargetkan pertumbuhan market share antara 5 sampai 10 persen. Salah satu upayanya yaitu menggandeng perusahaan Petrosida,” jelas Dirut PT Bio Industri Nusantara Dwi Sutanti.
Diakui dia, pemasaran pupuk hayati masih terkendala oleh gencarnya ekspansi pupuk kimia. Penyaluran pupuk hayati, saat ini masih terbatas pada sektor perkebunan. Pupuk ini pun belum masuk ke sektor ritel.
Lebih lanjut Dwi Sutanti mengatakan, perusahannya bersiap mengekspor pupuk hayati buatannya ke berbagai negara. Pihaknya mulai membidik pasar pupuk hayati di Kamboja, Myanmar serta Vietnam dan Malaysia. "Tahap awal, kami mencoba ekspor sebanyak 2.000 ton pupuk hayati ke Kamboja,” kata dia.
Sedangkan untuk pasar di Malaysia telah ada permintaan, meski volumenya masih kecil. Apabila uji coba di perkebunan kelapa sawit di Malaysia hasilnya bagus, importir Malaysia dikatakan Isro siap meningkatkan volume impornya hingga sebesar 50 ribu ton.
Direktur Utama PTPN VIII Dadi Sunardi mengakui, pihaknya akan memperlebar bidang usaha, menggarap tanaman buah buahan dari core bisnis teh. Untuk merealisasikan rencana tersebut, pihaknya akan memanfaatkan sekitar 3000 hektare lahan perkebunan teh. Saat ini, pihaknya sedang mempersiapkan konversi lahan menjadi perkebunan buah buahan.
“Kami akan menambah keragaman tanaman perkebunan, yaitu tanaman buah buahan. Kami berharap, pada 2017, rencana tersebut bisa mulai di jalankan,” jelas Dadi Sunardi di sela-sela seminar Aplikasi Teknologi Berbasis Hayati dalam Upaya Mewujudkan Pertanian yang Berkelanjutan di Hotel Aston Primera Pasteur, Jalan Dr Djunjunan, Kota Bandung, Senin (26/11/2012).
Menurut dia, penambahan komoditas tanaman perkebunan buah-buahan lokal untuk mendukung ketersediaan buah lokal di Indonesia. Diakui dia, upaya tersebut perlu dilakukan di tengah menjamurnya buah impor di Indonesia.
Menurut dia, dengan menanam buah sendiri dan menggunakan lahan yang luas maka diharapkan saat panen harga buah lokal dapat bersaing dengan buah impor.
Dijelaskan Dadi, beberapa komoditi buah yang akan di tanam oleh PTPN di antaranya mangga dan jeruk Garut. Kemudian jenis lainnya yang juga ditanam PTPN VIII adalah pisang, manggis dan durian. “Melalui upaya ini, kami berharap kinerja PTPN VIII bisa lebih baik lagi,” imbuh dia.
Kendati mengkonversi lahan teh, Dadi memastikan, rencana tersebut tidak akan mengurangi produktifitas perkebunan teh di wilayah Jabar dan Banten. Sebab, pengurangan lahan tanaman teh itu akan didorong peningkatan produktifitas teh. Sehingga, produktivitasnya bisa dipertahankan. Saat ini, luas lahan perkebunan teh PTPN VIII saat ini mencapai 114 ribu hektare.
Selain memperluas tanaman perkebunan, PTPN melalui anak perusahaannya PT Bio Industri Nusantara juga berencana melakukan penetrasi produk pupuk hayati di pasar lokal dan mancanegara. Saat ini, kemampuan produksi pupuk Bio Nusa mencapai 150 ton per hari. Volume produksi tersebut, akan terus ditingkatkan.
“Kami menargetkan pertumbuhan market share antara 5 sampai 10 persen. Salah satu upayanya yaitu menggandeng perusahaan Petrosida,” jelas Dirut PT Bio Industri Nusantara Dwi Sutanti.
Diakui dia, pemasaran pupuk hayati masih terkendala oleh gencarnya ekspansi pupuk kimia. Penyaluran pupuk hayati, saat ini masih terbatas pada sektor perkebunan. Pupuk ini pun belum masuk ke sektor ritel.
Lebih lanjut Dwi Sutanti mengatakan, perusahannya bersiap mengekspor pupuk hayati buatannya ke berbagai negara. Pihaknya mulai membidik pasar pupuk hayati di Kamboja, Myanmar serta Vietnam dan Malaysia. "Tahap awal, kami mencoba ekspor sebanyak 2.000 ton pupuk hayati ke Kamboja,” kata dia.
Sedangkan untuk pasar di Malaysia telah ada permintaan, meski volumenya masih kecil. Apabila uji coba di perkebunan kelapa sawit di Malaysia hasilnya bagus, importir Malaysia dikatakan Isro siap meningkatkan volume impornya hingga sebesar 50 ribu ton.
(gpr)