Infomedia targetkan 50% pangsa pasar
Selasa, 27 November 2012 - 09:45 WIB
Infomedia targetkan 50% pangsa pasar
A
A
A
Sindonews.com - Anak usaha PT Telkom Tbk yang bergerak pada layanan informasi,PT Infomedia Nusantara (Infomedia) menargetkan meraup 50 persen pangsa pasar bisnis contact centre di Tanah Air pada 2013.
Bisnis ini diyakini akan terus berkembang di Indonesia, walau masih tertinggal dari India dan Filipina sebagai operator contact centre terbesar di dunia. Direktur Utama Infomedia Eddy Kurnia mengungkapkan, pangsa pasar bisnis contact centre di Indonesia tahun ini sebesar Rp1,5 triliun dan diperkirakan akan meningkat menjadi Rp1,8 triliun pada 2013.
Sebagai pemimpin pasar, saat ini Infomedia menguasai 45 persen pangsa pasar. “Ini harus dipertahankan dan akan kami upayakan meningkat menjadi minimal 50 persen. Jumlah klien juga ditargetkan meningkat dari 80 klien saat ini menjadi 100 klien pada 2013,” ujarnya kepada SINDO di Jakarta belum lama ini.
Menurut Eddy, perkembangan teknologi dan layanan telah menjadikan contact centre sebagai kebutuhan bagi perusahaan dalam mengelola hubungan dengan pelanggannya (costumer relationship management/ CRM). Melalui kekuatan 12.000 agen dengan 5.000 seat yang tersebar di tujuh kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Makassar, dan Semarang, Infomedia optimistis bisnis yang sudah menjadi tren global ini akan berkelanjutan.
“Saat ini basis terkuat contact centre adalah India dan Filipina. Kekuatan mereka terutama dari segi bahasa yang sudah costumized. Kita harapkan Indonesia secara bertahap bisa menggeser posisi mereka sebagai salah satu operator terbesar karena secara teknik juga sudah memungkinkan,” beber pria yang juga dosen di sejumlah universitas itu.
Infomedia, lanjut dia, masih menempatkan bisnis contact centre and outsourcing services sebagai pilar utama pada bisnis layanan CRM. Dari pendapatan Infomedia sebesar Rp910 miliar per September 2012,lini bisnis contact centre berkontribusi 65 persen.
Sementara, dua pilar lainnya yaitu digital media & rich content (DMRC) dan bisnis printing & publishing masing-masing menyumbang 30 persen dan 5 persen. “Sampai September 2012 ini pendapatan Infomedia masih tumbuh 18 persen, dengan laba bersih Rp60 miliar,” sebutnya.
Selain contact centre, Infomedia yang sudah puluhan tahun menggarap layanan direktori atau yang lebih dikenal sebagai Yellow Pages, juga masih mempertahankan bisnis ini sebagai tumpuan dari portofolio DMRC. Kendati cenderung flat, menurut Eddy, layanan direktori di Indonesia masih tumbuh sekitar 1 persen.
“Di negara maju yang pengguna internetnya lebih tinggi, umumnya layanan direktori tumbuh negatif. Contohnya, tahun lalu Amerika sudah minus 11 persen, begitu pun Singapura minus 7 persen,” tutur pria yang telah 31 tahun bekerja di BUMN.
Eddy menambahkan, sesuai tren teknologi, solusi media saat ini lebih mengarah pada versi digital. Sebab itu,kendati kontribusinya masih kecil, secara bertahap Infomedia masuk ke ranah digital. Saat ini kompetisi media di Indonesia didominasi media mainstream dengan proporsi 70 persen, sedangkan new media masih berkisar 30 persen.
“Kami inginnya proporsi ini secara bertahap makin seimbang menjadi 60:40 pada 2013, dan diharapkan sudah 50:50 pada 2014. Bisnis media digital ini, walaupun saat ini secara nominal masih kecil, tapi value nya tinggi,” ungkapnya.
Eddy menegaskan, tantangan di era new media seperti saat ini adalah pergerakan dan kompetisi yang cepat dan ketat. Untuk menyikapinya, perusahaan pemberi layanan informasi harus bisa memanfaatkan peluang sekecil apa pun dan harus jeli melihat dari banyak sisi, terutama kebutuhan dan perilaku masyarakat yang banyak berubah.
Di sisi lain, perusahaan harus memanfaatkan perkembangan teknologi yang pesat untuk kemudahan bisnisnya.
“Sekarang ini kan semua sudah serba online. Banyak hal bisa dilakukan hanya dengan sentuhan tangan. Maka itu,kami siapkan pengembangan bisnis digital untuk memenuhi ekspektasi masyarakat dalam mendapatkan informasi dengan lebih cepat,” pungkasnya.
Bisnis ini diyakini akan terus berkembang di Indonesia, walau masih tertinggal dari India dan Filipina sebagai operator contact centre terbesar di dunia. Direktur Utama Infomedia Eddy Kurnia mengungkapkan, pangsa pasar bisnis contact centre di Indonesia tahun ini sebesar Rp1,5 triliun dan diperkirakan akan meningkat menjadi Rp1,8 triliun pada 2013.
Sebagai pemimpin pasar, saat ini Infomedia menguasai 45 persen pangsa pasar. “Ini harus dipertahankan dan akan kami upayakan meningkat menjadi minimal 50 persen. Jumlah klien juga ditargetkan meningkat dari 80 klien saat ini menjadi 100 klien pada 2013,” ujarnya kepada SINDO di Jakarta belum lama ini.
Menurut Eddy, perkembangan teknologi dan layanan telah menjadikan contact centre sebagai kebutuhan bagi perusahaan dalam mengelola hubungan dengan pelanggannya (costumer relationship management/ CRM). Melalui kekuatan 12.000 agen dengan 5.000 seat yang tersebar di tujuh kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Makassar, dan Semarang, Infomedia optimistis bisnis yang sudah menjadi tren global ini akan berkelanjutan.
“Saat ini basis terkuat contact centre adalah India dan Filipina. Kekuatan mereka terutama dari segi bahasa yang sudah costumized. Kita harapkan Indonesia secara bertahap bisa menggeser posisi mereka sebagai salah satu operator terbesar karena secara teknik juga sudah memungkinkan,” beber pria yang juga dosen di sejumlah universitas itu.
Infomedia, lanjut dia, masih menempatkan bisnis contact centre and outsourcing services sebagai pilar utama pada bisnis layanan CRM. Dari pendapatan Infomedia sebesar Rp910 miliar per September 2012,lini bisnis contact centre berkontribusi 65 persen.
Sementara, dua pilar lainnya yaitu digital media & rich content (DMRC) dan bisnis printing & publishing masing-masing menyumbang 30 persen dan 5 persen. “Sampai September 2012 ini pendapatan Infomedia masih tumbuh 18 persen, dengan laba bersih Rp60 miliar,” sebutnya.
Selain contact centre, Infomedia yang sudah puluhan tahun menggarap layanan direktori atau yang lebih dikenal sebagai Yellow Pages, juga masih mempertahankan bisnis ini sebagai tumpuan dari portofolio DMRC. Kendati cenderung flat, menurut Eddy, layanan direktori di Indonesia masih tumbuh sekitar 1 persen.
“Di negara maju yang pengguna internetnya lebih tinggi, umumnya layanan direktori tumbuh negatif. Contohnya, tahun lalu Amerika sudah minus 11 persen, begitu pun Singapura minus 7 persen,” tutur pria yang telah 31 tahun bekerja di BUMN.
Eddy menambahkan, sesuai tren teknologi, solusi media saat ini lebih mengarah pada versi digital. Sebab itu,kendati kontribusinya masih kecil, secara bertahap Infomedia masuk ke ranah digital. Saat ini kompetisi media di Indonesia didominasi media mainstream dengan proporsi 70 persen, sedangkan new media masih berkisar 30 persen.
“Kami inginnya proporsi ini secara bertahap makin seimbang menjadi 60:40 pada 2013, dan diharapkan sudah 50:50 pada 2014. Bisnis media digital ini, walaupun saat ini secara nominal masih kecil, tapi value nya tinggi,” ungkapnya.
Eddy menegaskan, tantangan di era new media seperti saat ini adalah pergerakan dan kompetisi yang cepat dan ketat. Untuk menyikapinya, perusahaan pemberi layanan informasi harus bisa memanfaatkan peluang sekecil apa pun dan harus jeli melihat dari banyak sisi, terutama kebutuhan dan perilaku masyarakat yang banyak berubah.
Di sisi lain, perusahaan harus memanfaatkan perkembangan teknologi yang pesat untuk kemudahan bisnisnya.
“Sekarang ini kan semua sudah serba online. Banyak hal bisa dilakukan hanya dengan sentuhan tangan. Maka itu,kami siapkan pengembangan bisnis digital untuk memenuhi ekspektasi masyarakat dalam mendapatkan informasi dengan lebih cepat,” pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :