Konversi BBM ke gas jalan di tempat
Selasa, 27 November 2012 - 19:43 WIB
Konversi BBM ke gas jalan di tempat
A
A
A
Sindonews.com - Program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) dinilai belum menunjukkan kemajuan. Padahal, program ini bisa mengurangi konsumsi BBM di Indonesia.
Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Erlan Rosyadi menjelaskan, upaya pemerintah melakukan konversi BBM ke gas masih belum berhasil. Terbukti 99 persen kendaraan di Indonesia masih mengunakan BBM.
"Perlu ada aturan tegas, agar program ini bisa berhasil," jelas Erlan Rosyadi di sela-sela Sosialisasi konversi BBM ke BBG di Hotel Valley, Kota Bandung, Selasa (27/11/2012). Menurut dia, aturan tegas pemerintah, paling tidak bisa meningkatkan pengguna BBG di Indonesia.
Kondisi tersebut, lanjut dia, akan menarik minat investor membuat Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas (SPBG). Karena, minimnya SPBG menjadi salah satu kendala suksesnya program konversi BBM ke BBG oleh pemerintah. Kecilnya penggunaan gas sebagai bahan bakar menjadikan investor masih berpikir ulang untuk mendirikan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG).
Ketika disinggung persolan konverter kit, menurut Erlan, konverter kit bukanlah kendala untuk memasyarakatkan penggunaan BBG. Konverter kit BBG bahkan telah mampu diproduksi di Indonesia.
Bahkan, BPPT saat ini sedang melakukan uji coba sejumlah produk konverter kit. Konverter kit itu sendiri diharapkan dapat dipergunakan untuk angkutan umum seperti bus maupun kereta api.
Lebih lanjut Erlan menjelaskan, konversi BBM ke BBG pada prinsipnya sangat menguntungkan Indonesia. Karena, Indonesia memiliki potensi kekayaan gas sekitar 160 TSCF dengan rasio produksi hingga 55 tahun. Potensi tersebut sangat positif ditengah semakin mahalnya harga minyak dunia.
Justru, lanjut Erlan, dari potensi yang ada, saat ini pemanfaatan gas nasional masih dibawah 1 %. "Itupun 70 % - 80 % untuk kebutuhan ekspor. Sedangkan sisanya di konsumsi dalam negeri," pungkas dia. Dia pun mengakui, pemanfaatan gas untuk kebutuhan transportasi masih sangat rendah.
Pengamat energi gas Yoga P. Suprapto mengkaui, untuk tahap awal, konversi BBM ke gas bisa diterapkan ke angkutan massal yang bertrayek seperti bus maupun kereta api. Yoga berpendapat dengan pemberlakuan BBG di angkutan massal bertrayek maka SPBG tidak perlu dibangun di semua tempat seperti halnya SPBU.
"SPBG bisa saja hanya ada di awal dan akhir dari tujuan trayek angkutan massal itu," saran Yoga. Berbeda halnya jika BBG diperuntukkan bagi mobil pribadi yang mengharuskan SPBG dalam jumlah yang banyak.
Menurut dia, program konversi yang dilaksanakan secara tegas dan jelas, akan menghasilkan perubahan signifikan. Justru Yoga menyayangkan konversi BBM ke gas yang belum optimal. Jumlah pengguna BBG semakin lama justru semakin sedikit yang menunjukkan kegagalan program konversi yang dicanangkan oleh pemerintah.
Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Erlan Rosyadi menjelaskan, upaya pemerintah melakukan konversi BBM ke gas masih belum berhasil. Terbukti 99 persen kendaraan di Indonesia masih mengunakan BBM.
"Perlu ada aturan tegas, agar program ini bisa berhasil," jelas Erlan Rosyadi di sela-sela Sosialisasi konversi BBM ke BBG di Hotel Valley, Kota Bandung, Selasa (27/11/2012). Menurut dia, aturan tegas pemerintah, paling tidak bisa meningkatkan pengguna BBG di Indonesia.
Kondisi tersebut, lanjut dia, akan menarik minat investor membuat Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas (SPBG). Karena, minimnya SPBG menjadi salah satu kendala suksesnya program konversi BBM ke BBG oleh pemerintah. Kecilnya penggunaan gas sebagai bahan bakar menjadikan investor masih berpikir ulang untuk mendirikan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG).
Ketika disinggung persolan konverter kit, menurut Erlan, konverter kit bukanlah kendala untuk memasyarakatkan penggunaan BBG. Konverter kit BBG bahkan telah mampu diproduksi di Indonesia.
Bahkan, BPPT saat ini sedang melakukan uji coba sejumlah produk konverter kit. Konverter kit itu sendiri diharapkan dapat dipergunakan untuk angkutan umum seperti bus maupun kereta api.
Lebih lanjut Erlan menjelaskan, konversi BBM ke BBG pada prinsipnya sangat menguntungkan Indonesia. Karena, Indonesia memiliki potensi kekayaan gas sekitar 160 TSCF dengan rasio produksi hingga 55 tahun. Potensi tersebut sangat positif ditengah semakin mahalnya harga minyak dunia.
Justru, lanjut Erlan, dari potensi yang ada, saat ini pemanfaatan gas nasional masih dibawah 1 %. "Itupun 70 % - 80 % untuk kebutuhan ekspor. Sedangkan sisanya di konsumsi dalam negeri," pungkas dia. Dia pun mengakui, pemanfaatan gas untuk kebutuhan transportasi masih sangat rendah.
Pengamat energi gas Yoga P. Suprapto mengkaui, untuk tahap awal, konversi BBM ke gas bisa diterapkan ke angkutan massal yang bertrayek seperti bus maupun kereta api. Yoga berpendapat dengan pemberlakuan BBG di angkutan massal bertrayek maka SPBG tidak perlu dibangun di semua tempat seperti halnya SPBU.
"SPBG bisa saja hanya ada di awal dan akhir dari tujuan trayek angkutan massal itu," saran Yoga. Berbeda halnya jika BBG diperuntukkan bagi mobil pribadi yang mengharuskan SPBG dalam jumlah yang banyak.
Menurut dia, program konversi yang dilaksanakan secara tegas dan jelas, akan menghasilkan perubahan signifikan. Justru Yoga menyayangkan konversi BBM ke gas yang belum optimal. Jumlah pengguna BBG semakin lama justru semakin sedikit yang menunjukkan kegagalan program konversi yang dicanangkan oleh pemerintah.
(gpr)
Lihat Juga :