Krisis BBM landa pulau Buru
Selasa, 27 November 2012 - 23:49 WIB
Krisis BBM landa pulau Buru
A
A
A
Sindonews.com - Krisis bahan bakar minyak (BBM) jenis premium terus terjadi di kota Namlea, Kabupaten Buru, Maluku. Sejak beberapa bulan terakhir ini, warga kesulitan mendapatkan premium.
Warga harus antri berjam–jam untuk mendapatkan jatah BBM di stasiun bahan bakar umum (SPBU). Krisis BBM ini terjadi menyusul serbuan ribuan warga dari luar pulau buru yang melakukan penambangan emas ilegal di gunung botak daerah tersebut.
Antrian kendaraan roda dua dan roda empat merupakan pemandangan biasa di satu–satunya SPBU di kota Namlea ini. Sejak pagi pemilik kendaraan sudah antri sebelum SPBU dibuka.
Untuk mendapatkan bbm jenis premium, warga harus antri berjam–jam di lokasi SPBU ini. Antrian kendaraan ini bahkan melebihi satu kilo meter dari SPBU ini.
Karena banyaknya antrian kendaraan, pemilik SPBU membatasi setiap kendaraan roda dua hanya bisa mengisi dua liter BBM saja. Sedangkan kendaraan roda empat hanya sepuluh liter saja. Meski terjadi antrian namun harga perliternya tetap normal empat ribu lima ratus perliter.
Namun pemilik kendaraan mengeluh karena petugas SPBU sering menjual premium kepada warga dengan menggunakan jeriken dalam jumlah banyak dengan harga perliter enam ribu rupiah. Di tingkat pengecer harga premium mencapai 20 ribu rupiah per liter .
Menurut warga, kelangkaan BBM ini sudah terjadi beberapa bulan lalu sejak lokasi tambang emas ditemukan di kawasan gunung Botak, pulau Buru. Sejak itulah puluhan ribu warga dari berbagai daerah datang melakukan penambangan emas secara ilegal di lokasi tambang sehingga banyak warga sepeda motor, kendaraan roda empat, yang menggunakan premium.
Pemilik SPBU juga mengakui kondisi tersebut, Menurut mereka jatah premium yang diberikan pihak pertamina sebelumnya 3.000 liter per hari, namun dinaikan hingga 4.000 liter.
Meski jatahnya dinaikan, namun tidak mencukupi tingginya permintaan warga. Tiap hari SPBU hanya bisa menjual premium setengah hari saja karena jatah 4.000 liter stok premium sudah terjual habis.
Warga harus antri berjam–jam untuk mendapatkan jatah BBM di stasiun bahan bakar umum (SPBU). Krisis BBM ini terjadi menyusul serbuan ribuan warga dari luar pulau buru yang melakukan penambangan emas ilegal di gunung botak daerah tersebut.
Antrian kendaraan roda dua dan roda empat merupakan pemandangan biasa di satu–satunya SPBU di kota Namlea ini. Sejak pagi pemilik kendaraan sudah antri sebelum SPBU dibuka.
Untuk mendapatkan bbm jenis premium, warga harus antri berjam–jam di lokasi SPBU ini. Antrian kendaraan ini bahkan melebihi satu kilo meter dari SPBU ini.
Karena banyaknya antrian kendaraan, pemilik SPBU membatasi setiap kendaraan roda dua hanya bisa mengisi dua liter BBM saja. Sedangkan kendaraan roda empat hanya sepuluh liter saja. Meski terjadi antrian namun harga perliternya tetap normal empat ribu lima ratus perliter.
Namun pemilik kendaraan mengeluh karena petugas SPBU sering menjual premium kepada warga dengan menggunakan jeriken dalam jumlah banyak dengan harga perliter enam ribu rupiah. Di tingkat pengecer harga premium mencapai 20 ribu rupiah per liter .
Menurut warga, kelangkaan BBM ini sudah terjadi beberapa bulan lalu sejak lokasi tambang emas ditemukan di kawasan gunung Botak, pulau Buru. Sejak itulah puluhan ribu warga dari berbagai daerah datang melakukan penambangan emas secara ilegal di lokasi tambang sehingga banyak warga sepeda motor, kendaraan roda empat, yang menggunakan premium.
Pemilik SPBU juga mengakui kondisi tersebut, Menurut mereka jatah premium yang diberikan pihak pertamina sebelumnya 3.000 liter per hari, namun dinaikan hingga 4.000 liter.
Meski jatahnya dinaikan, namun tidak mencukupi tingginya permintaan warga. Tiap hari SPBU hanya bisa menjual premium setengah hari saja karena jatah 4.000 liter stok premium sudah terjual habis.
(gpr)
Lihat Juga :