Tantangan ekonomi 2013 lebih berat
Rabu, 28 November 2012 - 09:20 WIB
Tantangan ekonomi 2013 lebih berat
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) mengingatkan, tantangan menjaga perekonomian nasional pada 2013 akan lebih berat dibandingkan tahun ini akibat belum tuntasnya penyelesaian krisis global.
Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, pemulihan ekonomi global belum kondusif. ”Ekonomi Indonesia cukup stabil pada tahun ini. Pada 2013 tantangannya lebih berat untuk menjaga kondisi ekonomi tetap stabil seperti saat ini menyusul ekonomi eksternal yang masih belum kondusif,” ujar Darmin dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, meski ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tanda-tanda perbaikan, kondisinya masih berjalan lambat dan belum signifikan pengaruhnya. Sementara, China dan Jepang, lanjut dia, sedikit mulai terpukul sehingga kondisi itu menambah kekhawatiran akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia.
Mencermati hal itu, Darmin mengatakan, akan menempuh berbagai kebijakan dengan tetap menjaga keseimbangan eksternal dan mengarahkan inflasi pada sasarannya. Selain itu, BI juga tengah menyiapkan fungsi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pengawasan dan pengaturan perbankan sehingga pada 2014 dapat langsung berjalan.
Menurut mantan Dirjen Pajak ini, ada dua kelompok yang menjadi tantangan bagi BI di 2013 mendatang. Pertama, risiko dari rendahnya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia dan volume perdagangan dunia, sehingga membawa kinerja PDB nasional pada kisaran bawah.
”Pada triwulan III/2012, perekonomian Indonesia tumbuh 6,2 persen ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Kedepannya, ekspor diperkirakan akan membaik. Pertumbuhan ekonomi 2012 di perkirakan 6,3 persen,”ujarnya.
Kedua, adanya peningkatan tekanan inflasi yang antara lain disebabkan faktor risiko seperti kendala pasokan dan produksi bahan makanan. Kenaikan harga energi serta meningkatnya ketidakpastian pemulihan ekonomi global yang berpotensi memicu tekanan nilai tukar rupiah juga menambah tantangan bagi kemajuan ekonomi Tanah Air.
”Guna mengantisipasi situasi itu, BI menetapkan sasaran strategis 2013, antara lain menjaga kondisi moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kelancaran sistem pembayaran, aman dan efisiensi,” ujar Darmin.
Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai pernyataan Darmin yang memperkirakan pada 2013 akan lebih berat dibandingkan tahun ini mesti disikapi lebih lanjut. Menurut dia, pernyataan Gubernur Bank Sentral harus ditindaklanjuti dengan kerja ekstra keras pada tahun depan.
“Kita harus melihat risikorisiko yang muncul supaya jangan melihat sisi positifnya saja. Kalau melihat dari sisi positifnya, kita akant erlena dan melupakan risiko yang ada,” tutur Lana saat dihubungi SINDO, kemarin.
Lana mengingatkan, risiko terbesar yang masih akan muncul pada 2013 adalah belum pulihnya kinerja ekspor Indonesia akibat krisis global. Terlebih, ekspor Indonesia sangat mengandalkan komoditas yang harganya terus mengalami gejolak dan cenderung menurun.
“Risiko yang akan berlanjut pada 2013 contohnya, harga komoditas yang akan turun. Ekspor kita basisnya di komoditas sehingga harus diperhatikan betul. Dari sisi global, penyakit krisisnya mungkin sedikit ringan tapi belum sembuh betul,” ungkapnya.
Selain persoalan harga, Lana menambahkan, ekspor komoditas Indonesia mendapat ancaman lain dari China. Mulai melambatnya ekonomi China akan menjadi persoalan besar karena China merupakan negara pengimpor utama komoditas Indonesia.
Jika perekonomian China belum juga membaik maka permintaan ekspor bisa menurun drastis. Lana menjelaskan, pertumbuhan domestik yang tinggi mengakibatkan permintaan impor melonjak.
Di sisi lain, ekspor terus menurun sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan neraca perdagangan. Untuk itulah, Lana berharap BI bisa membantu pergerakan ekspor dengan menjaga nilai tukar rupiah. “Jaga nilai tukar rupiah agar kompetitif. Kalau kompetitif, artinya jangan terus menguat,” tandasnya.
Lana menuturkan, kinerja ekspor memang tidak bisa digenjot secara maksimal karena kondisi global yang tidak mendukung. Namun, menurutnya, pemerintah harus tetap bisa mencoba berbagai kemungkinan untuk menggenjot pasar ekspor.
Peningkatan ekspor tidak hanya membantu perbaikan neraca perdagangan tetapi juga menambah cadangan devisa. “Sumber valas yang produktif itu kandari ekspor.Valas memang bisa datang dari portofolio asing tetapi itu sifatnya tidak produktif dan bisa ditarik sewaktu-waktu. Jika portofolio ditarik, itu juga akan membuat goyah,” paparnya.
Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, pemulihan ekonomi global belum kondusif. ”Ekonomi Indonesia cukup stabil pada tahun ini. Pada 2013 tantangannya lebih berat untuk menjaga kondisi ekonomi tetap stabil seperti saat ini menyusul ekonomi eksternal yang masih belum kondusif,” ujar Darmin dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, meski ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tanda-tanda perbaikan, kondisinya masih berjalan lambat dan belum signifikan pengaruhnya. Sementara, China dan Jepang, lanjut dia, sedikit mulai terpukul sehingga kondisi itu menambah kekhawatiran akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia.
Mencermati hal itu, Darmin mengatakan, akan menempuh berbagai kebijakan dengan tetap menjaga keseimbangan eksternal dan mengarahkan inflasi pada sasarannya. Selain itu, BI juga tengah menyiapkan fungsi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pengawasan dan pengaturan perbankan sehingga pada 2014 dapat langsung berjalan.
Menurut mantan Dirjen Pajak ini, ada dua kelompok yang menjadi tantangan bagi BI di 2013 mendatang. Pertama, risiko dari rendahnya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia dan volume perdagangan dunia, sehingga membawa kinerja PDB nasional pada kisaran bawah.
”Pada triwulan III/2012, perekonomian Indonesia tumbuh 6,2 persen ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Kedepannya, ekspor diperkirakan akan membaik. Pertumbuhan ekonomi 2012 di perkirakan 6,3 persen,”ujarnya.
Kedua, adanya peningkatan tekanan inflasi yang antara lain disebabkan faktor risiko seperti kendala pasokan dan produksi bahan makanan. Kenaikan harga energi serta meningkatnya ketidakpastian pemulihan ekonomi global yang berpotensi memicu tekanan nilai tukar rupiah juga menambah tantangan bagi kemajuan ekonomi Tanah Air.
”Guna mengantisipasi situasi itu, BI menetapkan sasaran strategis 2013, antara lain menjaga kondisi moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kelancaran sistem pembayaran, aman dan efisiensi,” ujar Darmin.
Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai pernyataan Darmin yang memperkirakan pada 2013 akan lebih berat dibandingkan tahun ini mesti disikapi lebih lanjut. Menurut dia, pernyataan Gubernur Bank Sentral harus ditindaklanjuti dengan kerja ekstra keras pada tahun depan.
“Kita harus melihat risikorisiko yang muncul supaya jangan melihat sisi positifnya saja. Kalau melihat dari sisi positifnya, kita akant erlena dan melupakan risiko yang ada,” tutur Lana saat dihubungi SINDO, kemarin.
Lana mengingatkan, risiko terbesar yang masih akan muncul pada 2013 adalah belum pulihnya kinerja ekspor Indonesia akibat krisis global. Terlebih, ekspor Indonesia sangat mengandalkan komoditas yang harganya terus mengalami gejolak dan cenderung menurun.
“Risiko yang akan berlanjut pada 2013 contohnya, harga komoditas yang akan turun. Ekspor kita basisnya di komoditas sehingga harus diperhatikan betul. Dari sisi global, penyakit krisisnya mungkin sedikit ringan tapi belum sembuh betul,” ungkapnya.
Selain persoalan harga, Lana menambahkan, ekspor komoditas Indonesia mendapat ancaman lain dari China. Mulai melambatnya ekonomi China akan menjadi persoalan besar karena China merupakan negara pengimpor utama komoditas Indonesia.
Jika perekonomian China belum juga membaik maka permintaan ekspor bisa menurun drastis. Lana menjelaskan, pertumbuhan domestik yang tinggi mengakibatkan permintaan impor melonjak.
Di sisi lain, ekspor terus menurun sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan neraca perdagangan. Untuk itulah, Lana berharap BI bisa membantu pergerakan ekspor dengan menjaga nilai tukar rupiah. “Jaga nilai tukar rupiah agar kompetitif. Kalau kompetitif, artinya jangan terus menguat,” tandasnya.
Lana menuturkan, kinerja ekspor memang tidak bisa digenjot secara maksimal karena kondisi global yang tidak mendukung. Namun, menurutnya, pemerintah harus tetap bisa mencoba berbagai kemungkinan untuk menggenjot pasar ekspor.
Peningkatan ekspor tidak hanya membantu perbaikan neraca perdagangan tetapi juga menambah cadangan devisa. “Sumber valas yang produktif itu kandari ekspor.Valas memang bisa datang dari portofolio asing tetapi itu sifatnya tidak produktif dan bisa ditarik sewaktu-waktu. Jika portofolio ditarik, itu juga akan membuat goyah,” paparnya.
(rna)
Lihat Juga :