Dana FLPP 2013 dianggarkan Rp2,7 T
Rabu, 28 November 2012 - 09:51 WIB
Dana FLPP 2013 dianggarkan Rp2,7 T
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengalokasikan anggaran Rp2,7 triliun untuk pembangunan hunian dengan subsidi skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun depan.
Anggaran tersebut di luar alokasi subsidi FLPP pada tahun ini sebesar Rp4,7 triliun yang belum terserap. Asisten Deputi Perencanaan Pembiayaan Kemenpera Iwan Nurwanto mengatakan, bantuan pendanaan senilai Rp2,7 itu triliun akan digunakan untuk pembangunan sebanyak 350.000 unit rumah tapak dan rumah susun.
“Kami akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,7 triliun untuk 2013,dengan catatan realisasi jelas sesuai dengan target dan kebutuhan hunian bagi masyarakat dengan skema FLPP,” kata Iwan saat menghadiri diskusi bertema “Kenaikan Patokan Harga Rumah Subsidi” di Jakarta, kemarin.
Jumlah hunian yang ditargetkan Kementerian Perumahan Rakyat pada tahun depan, jauh di atas target yang direncanakan tahun ini sebanyak 80.000 unit rumah. Sementara untuk pembangunan rumah susun sederhana milik (rusunami), pemerintah pada tahun depan hanya menargetkan sekitar 1.500 unit.
Itu pun jauh di atas realisasi tahun ini yang hanya mencapai 500 unit. Namun, Iwan mengatakan, pihaknya berani mengklaim bisa membangun 350.000 unit rumah FLPP setelah melalui berbagai perhitungan.
“Pengembang ada yang baru membangun pada tahun 2012 dan akan selesai pada tahun depan, Kemenpera juga menghitung realisasi kerja sama dengan Perum Perumnas yang menggandeng 50 kabupaten kota untuk membangun hunian berskema FLPP,” jelasnya.
Dalam kerja sama tersebut, kata Iwan, pemerintah daerah akan menyiapkan lahan untuk segera dibangunkan rumah murah. Iwan mengatakan, pembiayaan sebesar Rp2,7 triliun ini adalah anggaran pertama karena amat memungkinkan untuk melakukan penambahan anggaran.
“Kita bisa menambah anggaran berapa saja, namun kita harus menunjukkan kinerja penyerapan yang baik terlebih dahulu karena penyerapan anggaran kita tahun ini lambat,” tuturnya.
Dia menjelaskan, serapan anggaran untuk subsidi skema FLPP hingga pertengahan November ini baru terealisasi sebanyak 35.340 unit hunian dengan anggaran sebesar Rp1,309 triliun. Hingga akhir tahun ini, kata dia, pemerintah menargetkan bisa menyerap pembangunan hunian sebanyak 80.000 unit.
“Baru terserap 35.340 unit hunian, belum termasuk 57.000 unit rumah yang dalam proses konversi sejak MK (Mahkamah Konstitusi) memutuskan boleh memperoleh subisidi untuk tipe rumah di bawah 36 m2, tahun ini kami menganggarkan Rp5,24 triliun untuk subsidi skema FLPP,” paparnya.
Sementara, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo mengatakan, pada tahun 2013 pihaknya menargetkan dapat membangun 100.000 unit hunian, selama masih didukung pembiayaannya oleh pemerintah.
“Tahun ini kita sebenarnya menargetkan pembangunan rumah sebanyak 80.000 unit huniah, namun karena ada moratorium jadi hanya bisa ditargetkan sebanyak 40.000 unit hunian, kenyataannya kami baru membangun 20.000 unit, karena terhambat FLPP jadi dialihkan ke kredit komersial,” tutur Eddy di tempat yang sama.
Sebelumnya, Real Estat Indonesia (REI) menyatakan optimistis penjualan properti tahun depan tumbuh positif. Hal itu didasarkan pada indikasi bakal terlampauinya target penjualan properti, baik rumah tapak maupun apartemen, yang dipatok asosiasi tersebut tahun ini, sebanyak 400.000 unit.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI Setyo Maharso mengatakan, hingga akhir bulan lalu, hunian yang telah terjual mencapai sekitar 80 persen dari target. Tingginya tingkat permintaan menurut dia masih menjadi faktor utama pendorong penjualan hunian di Tanah Air.
Anggaran tersebut di luar alokasi subsidi FLPP pada tahun ini sebesar Rp4,7 triliun yang belum terserap. Asisten Deputi Perencanaan Pembiayaan Kemenpera Iwan Nurwanto mengatakan, bantuan pendanaan senilai Rp2,7 itu triliun akan digunakan untuk pembangunan sebanyak 350.000 unit rumah tapak dan rumah susun.
“Kami akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,7 triliun untuk 2013,dengan catatan realisasi jelas sesuai dengan target dan kebutuhan hunian bagi masyarakat dengan skema FLPP,” kata Iwan saat menghadiri diskusi bertema “Kenaikan Patokan Harga Rumah Subsidi” di Jakarta, kemarin.
Jumlah hunian yang ditargetkan Kementerian Perumahan Rakyat pada tahun depan, jauh di atas target yang direncanakan tahun ini sebanyak 80.000 unit rumah. Sementara untuk pembangunan rumah susun sederhana milik (rusunami), pemerintah pada tahun depan hanya menargetkan sekitar 1.500 unit.
Itu pun jauh di atas realisasi tahun ini yang hanya mencapai 500 unit. Namun, Iwan mengatakan, pihaknya berani mengklaim bisa membangun 350.000 unit rumah FLPP setelah melalui berbagai perhitungan.
“Pengembang ada yang baru membangun pada tahun 2012 dan akan selesai pada tahun depan, Kemenpera juga menghitung realisasi kerja sama dengan Perum Perumnas yang menggandeng 50 kabupaten kota untuk membangun hunian berskema FLPP,” jelasnya.
Dalam kerja sama tersebut, kata Iwan, pemerintah daerah akan menyiapkan lahan untuk segera dibangunkan rumah murah. Iwan mengatakan, pembiayaan sebesar Rp2,7 triliun ini adalah anggaran pertama karena amat memungkinkan untuk melakukan penambahan anggaran.
“Kita bisa menambah anggaran berapa saja, namun kita harus menunjukkan kinerja penyerapan yang baik terlebih dahulu karena penyerapan anggaran kita tahun ini lambat,” tuturnya.
Dia menjelaskan, serapan anggaran untuk subsidi skema FLPP hingga pertengahan November ini baru terealisasi sebanyak 35.340 unit hunian dengan anggaran sebesar Rp1,309 triliun. Hingga akhir tahun ini, kata dia, pemerintah menargetkan bisa menyerap pembangunan hunian sebanyak 80.000 unit.
“Baru terserap 35.340 unit hunian, belum termasuk 57.000 unit rumah yang dalam proses konversi sejak MK (Mahkamah Konstitusi) memutuskan boleh memperoleh subisidi untuk tipe rumah di bawah 36 m2, tahun ini kami menganggarkan Rp5,24 triliun untuk subsidi skema FLPP,” paparnya.
Sementara, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo mengatakan, pada tahun 2013 pihaknya menargetkan dapat membangun 100.000 unit hunian, selama masih didukung pembiayaannya oleh pemerintah.
“Tahun ini kita sebenarnya menargetkan pembangunan rumah sebanyak 80.000 unit huniah, namun karena ada moratorium jadi hanya bisa ditargetkan sebanyak 40.000 unit hunian, kenyataannya kami baru membangun 20.000 unit, karena terhambat FLPP jadi dialihkan ke kredit komersial,” tutur Eddy di tempat yang sama.
Sebelumnya, Real Estat Indonesia (REI) menyatakan optimistis penjualan properti tahun depan tumbuh positif. Hal itu didasarkan pada indikasi bakal terlampauinya target penjualan properti, baik rumah tapak maupun apartemen, yang dipatok asosiasi tersebut tahun ini, sebanyak 400.000 unit.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI Setyo Maharso mengatakan, hingga akhir bulan lalu, hunian yang telah terjual mencapai sekitar 80 persen dari target. Tingginya tingkat permintaan menurut dia masih menjadi faktor utama pendorong penjualan hunian di Tanah Air.
(rna)
Lihat Juga :