Cermat berinvestasi reksa dana via monitoring
Rabu, 28 November 2012 - 10:56 WIB
Cermat berinvestasi reksa dana via monitoring
A
A
A
Reksa dana sebagai salah satu instrumen investasi di pasar modal Indonesia terbilang cukup populer saat ini. Kinerja reksa dana bertumpu pada keahlian manajer investasi. Namun, dalam memilih reksa dana tak cukup hanya dengan memperhatikan faktor historis, seperti return karena terdapat hal-hal lain yang perlu diperhatikan investor.
Rating merupakan salah satu metode evaluasi reksa dana yang diciptakan Infovesta untuk membantu para investor dalam melakukan seleksi reksa dana dengan mempertimbangkan banyak aspek, selain return. Rating Infovesta tersusun dari beberapa parameter yang dianggap penting. Di antaranya, kinerja historis yang terefleksi pada return dan risiko fluktuasi nilai aktiva bersih (NAB), jumlah dana kelolaan (asset under management/AUM), pertumbuhan jumlah unit penyertaan (UP), dan unsur biaya yang dikenakan (fee).
Periode rating terbagi menjadi tiga, yakni enam bulan yang mengukur investasi jangka pendek, satu tahun yang mengukur investasi jangka menengah, dan tiga tahun investasi jangka panjang. Rating yang terbaik adalah bintang lima disusul dengan bintang 4,5 dan seterusnya hingga rating bintang 1. Namun, seberapa efektif metode rating dalam memberikan manfaat bagi investor?
Untuk itu, penulis melakukan simulasi dengan membentuk portofolio dengan bobot prorata dari reksa dana pilihan berdasarkan pemantauan (monitoring) terhadap rating secara bulanan selama Januari- Oktober 2012. Tujuannya, membuktikan apakah reksa dana dengan rating yang baik dapat memberikan kinerja yang baik. Sebagai sampel, penulis mengambil reksa dana saham dan campuran dengan minimal rating bintang 4,5 untuk periode satu tahun terakhir.
Dalam hal ini, terdapat dua asumsi yang digunakan. Pertama, tidak ada biaya subscription dan redemption. Kedua, data NAB per UP yang digunakan untuk penyesuaian isi portofolio jika terjadi perubahan rating reksa dana adalah awal minggu kedua setiap bulan karena mengikuti periode pembaharuan rating. Ketiga, monitoring terhadap rating reksa dana dalam portofolio yang dilakukan setiap bulan. Jika terdapat reksa dana yang mengalami penurunan rating di bawah bintang 4,5, maka reksa dana tersebut dikeluarkan.
Sebaliknya, reksa dana yang rating-nya naik di atas bintang 4,5 masuk ke dalam portofolio dengan bobot prorata untuk semua reksa dana. Selanjutnya, kinerja portofolio reksa dana pilihan ini dibandingkan dengan indeks acuan, seperti indeks harga saham gabungan (IHSG) dan indeks reksa dana saham (IRDSH) untuk portofolio reksa dana saham pilihan. Sementara, portofolio reksa dana campuran pilihan dibandingkan terhadap IHSG dan indeks reksa dana campuran (IRDCP).
Hasil dari simulasi yang dilakukan ternyata cukup menarik, dimana selama periode monitoring, yakni 9 Januari hingga 12 November 2012, kinerja portofolio reksa dana pilihan berdasarkan rating dari jenis saham dan campuran terlihat lebih baik setidaknya dibandingkan dengan kinerja indeks reksa dana masing-masing, seperti IRDSH dan IRDCP. Solidnya kinerja portofolio reksa dana tersebut dikarenakan mayoritas reksa dana pilihan mampu mencetak kinerja bulanan di atas indeks reksa dana masing-masing, bahkan IHSG untuk reksa dana saham.
Bahkan selama periode simulasi, terdapat 1 reksa dana untuk jenis saham dan 2 reksa dana untuk jenis campuran yang konsisten bertahan di atas rating bintang 4,5 dan masingmasing mencetak kinerja sebesar 27,24 persen dan 8,21 persen selama periode simulasi. Penulis menduga penerapan strategi investasi dari manager investasi reksa dana yang masih efektif selama periode jangka pendek, dalam hal ini bulanan, menjadi penopang solidnya kinerja reksa dana pilihan tersebut.
Namun, karena monitoring dilakukan secara bulanan sehingga dimungkinkan terjadi perputaran portofolio yang lebih sering karena perubahan rating. Dari hasil simulasi, secara rata-rata terdapat lima kali perubahan isi portofolio tiap bulan. Monitoring rating secara bulanan dilakukan agar lebih intensif dalam mengevaluasi kinerja suatu reksa dana, mengingat banyaknya faktor yang dapat memicu perubahan kondisi pasar.
Misalnya, sejumlah masalah dari luar negeri yang muncul akhir-akhir ini, seperti krisis utang di Uni Eropa dan ancaman fiscal cliff di Amerika Serikat (AS) yang dapat menghambat ekspektasi pemulihan ekonomi. Namun, penulis kembali mengingatkan bahwa dalam simulasi ini masih memasukkan unsur asumsi di mana biaya transaksi tidak diikutsertakan. Selain itu, rating reksa dana yang digunakan juga mencerminkan kinerja historis yang mana tidak bisa dianggap sebagai alat prediksi untuk kinerja masa depan.
Karena itu, disarankan agar selain mencermati rating reksa dana, investor juga perlu melihat hal-hal lain di luar cakupan evaluasi rating, seperti prospek kondisi makroekonomi yang dapat memengaruhi kondisi pasar modal secara keseluruhan serta menyesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing. Selamat berinvestasi!
Rating merupakan salah satu metode evaluasi reksa dana yang diciptakan Infovesta untuk membantu para investor dalam melakukan seleksi reksa dana dengan mempertimbangkan banyak aspek, selain return. Rating Infovesta tersusun dari beberapa parameter yang dianggap penting. Di antaranya, kinerja historis yang terefleksi pada return dan risiko fluktuasi nilai aktiva bersih (NAB), jumlah dana kelolaan (asset under management/AUM), pertumbuhan jumlah unit penyertaan (UP), dan unsur biaya yang dikenakan (fee).
Periode rating terbagi menjadi tiga, yakni enam bulan yang mengukur investasi jangka pendek, satu tahun yang mengukur investasi jangka menengah, dan tiga tahun investasi jangka panjang. Rating yang terbaik adalah bintang lima disusul dengan bintang 4,5 dan seterusnya hingga rating bintang 1. Namun, seberapa efektif metode rating dalam memberikan manfaat bagi investor?
Untuk itu, penulis melakukan simulasi dengan membentuk portofolio dengan bobot prorata dari reksa dana pilihan berdasarkan pemantauan (monitoring) terhadap rating secara bulanan selama Januari- Oktober 2012. Tujuannya, membuktikan apakah reksa dana dengan rating yang baik dapat memberikan kinerja yang baik. Sebagai sampel, penulis mengambil reksa dana saham dan campuran dengan minimal rating bintang 4,5 untuk periode satu tahun terakhir.
Dalam hal ini, terdapat dua asumsi yang digunakan. Pertama, tidak ada biaya subscription dan redemption. Kedua, data NAB per UP yang digunakan untuk penyesuaian isi portofolio jika terjadi perubahan rating reksa dana adalah awal minggu kedua setiap bulan karena mengikuti periode pembaharuan rating. Ketiga, monitoring terhadap rating reksa dana dalam portofolio yang dilakukan setiap bulan. Jika terdapat reksa dana yang mengalami penurunan rating di bawah bintang 4,5, maka reksa dana tersebut dikeluarkan.
Sebaliknya, reksa dana yang rating-nya naik di atas bintang 4,5 masuk ke dalam portofolio dengan bobot prorata untuk semua reksa dana. Selanjutnya, kinerja portofolio reksa dana pilihan ini dibandingkan dengan indeks acuan, seperti indeks harga saham gabungan (IHSG) dan indeks reksa dana saham (IRDSH) untuk portofolio reksa dana saham pilihan. Sementara, portofolio reksa dana campuran pilihan dibandingkan terhadap IHSG dan indeks reksa dana campuran (IRDCP).
Hasil dari simulasi yang dilakukan ternyata cukup menarik, dimana selama periode monitoring, yakni 9 Januari hingga 12 November 2012, kinerja portofolio reksa dana pilihan berdasarkan rating dari jenis saham dan campuran terlihat lebih baik setidaknya dibandingkan dengan kinerja indeks reksa dana masing-masing, seperti IRDSH dan IRDCP. Solidnya kinerja portofolio reksa dana tersebut dikarenakan mayoritas reksa dana pilihan mampu mencetak kinerja bulanan di atas indeks reksa dana masing-masing, bahkan IHSG untuk reksa dana saham.
Bahkan selama periode simulasi, terdapat 1 reksa dana untuk jenis saham dan 2 reksa dana untuk jenis campuran yang konsisten bertahan di atas rating bintang 4,5 dan masingmasing mencetak kinerja sebesar 27,24 persen dan 8,21 persen selama periode simulasi. Penulis menduga penerapan strategi investasi dari manager investasi reksa dana yang masih efektif selama periode jangka pendek, dalam hal ini bulanan, menjadi penopang solidnya kinerja reksa dana pilihan tersebut.
Namun, karena monitoring dilakukan secara bulanan sehingga dimungkinkan terjadi perputaran portofolio yang lebih sering karena perubahan rating. Dari hasil simulasi, secara rata-rata terdapat lima kali perubahan isi portofolio tiap bulan. Monitoring rating secara bulanan dilakukan agar lebih intensif dalam mengevaluasi kinerja suatu reksa dana, mengingat banyaknya faktor yang dapat memicu perubahan kondisi pasar.
Misalnya, sejumlah masalah dari luar negeri yang muncul akhir-akhir ini, seperti krisis utang di Uni Eropa dan ancaman fiscal cliff di Amerika Serikat (AS) yang dapat menghambat ekspektasi pemulihan ekonomi. Namun, penulis kembali mengingatkan bahwa dalam simulasi ini masih memasukkan unsur asumsi di mana biaya transaksi tidak diikutsertakan. Selain itu, rating reksa dana yang digunakan juga mencerminkan kinerja historis yang mana tidak bisa dianggap sebagai alat prediksi untuk kinerja masa depan.
Karena itu, disarankan agar selain mencermati rating reksa dana, investor juga perlu melihat hal-hal lain di luar cakupan evaluasi rating, seperti prospek kondisi makroekonomi yang dapat memengaruhi kondisi pasar modal secara keseluruhan serta menyesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing. Selamat berinvestasi!
(rna)
Lihat Juga :