Pertumbuhan ekonomi di level 5,9-6,3%
Kamis, 29 November 2012 - 09:19 WIB
Pertumbuhan ekonomi di level 5,9-6,3%
A
A
A
Sindonews.com - Krisis ekonomi global yang belum juga membaik diperkirakan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV. Pertumbuhan di kuartal IV diperkirakan hanya berada pada kisaran 5,9-6,3 persen.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV bisa mencapai 6,2 persen. Namun, range pertumbuhan kuartal IV diturunkan pada level 5,9-6,3 persen. Sebagai catatan, ini adalah kali pertama pemerintah memprediksi pertumbuhan kuartal IV dengan range bawah menyentuh angka 5 persen.
Sebelumnya pemerintah selalu optimistis pertumbuhan di kuartal IV di atas 6 persen. “Kuartal IV kita mungkin bisa tumbuh 5,9-6,3 persen. Kalau kita lihat kuartal IV bisa tumbuh segitu, maka bisa mencapai pertumbuhan 6,3 persen (tahun 2012) year on year,” ujar Agus Marto di Jakarta kemarin.
Agus Marto menambahkan, kalaupun pertumbuhan kuartal IV lebih rendah dibandingkan perkiraan, dia percaya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih bisa menyentuh 6,2 persen. Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I mencapai 6,3 persen, kuartal II 6,4 persen, sementara kuartal III hanya 6,17 persen.
Secara akumulatif, pertumbuhan ekonomi hingga kuartal III mencapai 6,29 persen. “Memang bisa terjadi setahun 6,2 persen, tapi artinya pertumbuhan ekonomi kita jauh di bawah itu. Jadi, saya masih optimistis bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, khususnya di kisaran 6,3 persen,” tandasnya.
Agus Marto mengakui sangat berat bagi Indonesia untuk mengejar pertumbuhan 6,5 persen seperti tahun lalu. Kendati demikian, Indonesia mesti bangga karena tetap menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah China.
Mantan Dirut Bank Mandiri tersebut juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan satu dari sedikit negara yang mampu membukukan pertumbuhan di atas 6 persen selama dua tahun terakhir. “Pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pantas dihormati di tengah situasi global seperti saat ini,” ujarnya.
Sebagai informasi, dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2012, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV ditetapkan 6,5 persen. Namun, sejalan dengan semakin memburuknya krisis global, pertumbuhan 6,5 persen sulit dicapai karena ekspor sebagai salah satu motor pertumbuhan tidak bisa diharapkan. Hingga kuartal III, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor pertumbuhan utama, disusul dengan investasi.
Di tempat yang sama, Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti memperkirakan pertumbuhan kuartal IV memang lebih lambat dibandingkan dengan kuartal-kuartal sebelumnya. Namun, Destry optimistis pertumbuhan pada kuartal IV masih menyentuh angka 6 persen.
Alasannya, belanja pemerintah diprediksi bakal melonjak di kuartal terakhir, seperti pada tahun-tahun sebelumnya. “Pada kuartal IV mungkin sekitar 6,1 persen, jadi overall growth masih di sekitar 6,3 persen. Faktornya yang pasti government spending, pasti akan tinggi terus kalau kita lihat konsumsi masyarakatnya. Data consumer confidence-nya kan tinggi sekali,” tutur Destry.
Destry menambahkan, selain belanja pemerintah, sumber pertumbuhan lain yang bisa diharapkan adalah ekspor. Senada dengan Destry, ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) A Tony Prasetiantono meyakini pertumbuhan ekonomi di kuartal IV masih bisa mencapai 6 persen. Dia juga optimistis pertumbuhan Indonesia hingga akhir tahun mampu mencapai level 6,3 persen.
“Menurut saya malah lebih (6 persen). Belanja pemerintah kan besar nih di kuartal IV. Bukan hanya pemerintah, swasta pun akhir tahun banyak belanja yang harus digenjot,” tandasnya.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV bisa mencapai 6,2 persen. Namun, range pertumbuhan kuartal IV diturunkan pada level 5,9-6,3 persen. Sebagai catatan, ini adalah kali pertama pemerintah memprediksi pertumbuhan kuartal IV dengan range bawah menyentuh angka 5 persen.
Sebelumnya pemerintah selalu optimistis pertumbuhan di kuartal IV di atas 6 persen. “Kuartal IV kita mungkin bisa tumbuh 5,9-6,3 persen. Kalau kita lihat kuartal IV bisa tumbuh segitu, maka bisa mencapai pertumbuhan 6,3 persen (tahun 2012) year on year,” ujar Agus Marto di Jakarta kemarin.
Agus Marto menambahkan, kalaupun pertumbuhan kuartal IV lebih rendah dibandingkan perkiraan, dia percaya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih bisa menyentuh 6,2 persen. Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I mencapai 6,3 persen, kuartal II 6,4 persen, sementara kuartal III hanya 6,17 persen.
Secara akumulatif, pertumbuhan ekonomi hingga kuartal III mencapai 6,29 persen. “Memang bisa terjadi setahun 6,2 persen, tapi artinya pertumbuhan ekonomi kita jauh di bawah itu. Jadi, saya masih optimistis bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, khususnya di kisaran 6,3 persen,” tandasnya.
Agus Marto mengakui sangat berat bagi Indonesia untuk mengejar pertumbuhan 6,5 persen seperti tahun lalu. Kendati demikian, Indonesia mesti bangga karena tetap menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah China.
Mantan Dirut Bank Mandiri tersebut juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan satu dari sedikit negara yang mampu membukukan pertumbuhan di atas 6 persen selama dua tahun terakhir. “Pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pantas dihormati di tengah situasi global seperti saat ini,” ujarnya.
Sebagai informasi, dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2012, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV ditetapkan 6,5 persen. Namun, sejalan dengan semakin memburuknya krisis global, pertumbuhan 6,5 persen sulit dicapai karena ekspor sebagai salah satu motor pertumbuhan tidak bisa diharapkan. Hingga kuartal III, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor pertumbuhan utama, disusul dengan investasi.
Di tempat yang sama, Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti memperkirakan pertumbuhan kuartal IV memang lebih lambat dibandingkan dengan kuartal-kuartal sebelumnya. Namun, Destry optimistis pertumbuhan pada kuartal IV masih menyentuh angka 6 persen.
Alasannya, belanja pemerintah diprediksi bakal melonjak di kuartal terakhir, seperti pada tahun-tahun sebelumnya. “Pada kuartal IV mungkin sekitar 6,1 persen, jadi overall growth masih di sekitar 6,3 persen. Faktornya yang pasti government spending, pasti akan tinggi terus kalau kita lihat konsumsi masyarakatnya. Data consumer confidence-nya kan tinggi sekali,” tutur Destry.
Destry menambahkan, selain belanja pemerintah, sumber pertumbuhan lain yang bisa diharapkan adalah ekspor. Senada dengan Destry, ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) A Tony Prasetiantono meyakini pertumbuhan ekonomi di kuartal IV masih bisa mencapai 6 persen. Dia juga optimistis pertumbuhan Indonesia hingga akhir tahun mampu mencapai level 6,3 persen.
“Menurut saya malah lebih (6 persen). Belanja pemerintah kan besar nih di kuartal IV. Bukan hanya pemerintah, swasta pun akhir tahun banyak belanja yang harus digenjot,” tandasnya.
(rna)
Lihat Juga :