Wapres minta sisi suplai dijaga

Kamis, 29 November 2012 - 09:54 WIB
Wapres minta sisi suplai...
Wapres minta sisi suplai dijaga
A A A
Sindonews.com - Pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkualitas tidak hanya ditopang permintaan (demand) yang besar, tetapi juga sisi penawaran (supply) yang memadai.

Hal itu diingatkan Wakil Presiden (Wapres) Boediono terkait masa depan perekonomian nasional. Wapres mengatakan, dengan jumlah penduduk yang besar serta didominasi kaum muda, Indonesia sebetulnya tidak mengalami masalah dari sisi permintaan. Masalah justru muncul dari sisi penawaran.

”Saya ingin garis bawahi bahwa kita tidak ingin ekonomi tumbuh dari sisi demand saja. Sangat-sangat penting untuk membuat sisi supply. Kita lihat dari sisi ini masih banyak ruang untuk dilakukan perbaikan sehingga pertumbuhan ekonomi bisa meningkat cepat,” tutur Boediono di Jakarta, kemarin.

Perbaikan ruang penawaran tersebut, menurut Boediono, antara lain bisa dilakukan dengan memotong biaya logistik dengan cara memperlancar distribusi. Pembenahan transportasi, baik jalur ataupun armada merupakan syarat mutlak untuk memotong biaya logistik tersebut.

Perbaikan sisi suplai juga bisa dilakukan dengan memperbaharui teknologi. Dengan penggunaan teknologi yang lebih canggih, kata Wapres, maka suplai bisa ditingkatkan tanpa harus menambah tenaga kerja. ”Perizinan juga merupakan ruang suplai lain yang bisa diperbaiki. Perizinan terkait investasi. Harus ada perbaikan kinerja di sana,” ujarnya.

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini mengingatkan, perbaikan sisi penawaran juga harus diikuti dengan peningkatan produktivitas serta efisiensi. Kedua hal ini akan menjadi sumber ekonomi pertumbuhan jangka panjang. Sumber lain bisa diperoleh melalui sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Dengan SDM yang memadai, Indonesia bisa menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan tanpa harus bergantung pada sumber daya alam. ”Investasi tidak hanya membangun gedung atau menambah mereka yang bekerja tetapi juga meningkatkan produktivitas pekerja. Demand bisa turun tetapi kalau produktivitas bisa ditingkatkan ekonomi tetap akan stabil dengan demand yang bervariasi,” tandasnya.

Terkait permintaan,Gubernur BI Darmin Nasution meyakini sisi permintaan belum akan menurun selama APBN serta penerimaan Indonesia masih kuat. Darmin juga mengingatkan bahwa Indonesia diberi bonus demografi kaum muda untuk masa 20 tahun ke depan yang masih bisa diandalkan untuk mendorong permintaan serta konsumsi.

”Kalau penerimaan naik terus, percayalah dunia boleh mengalami resesi bahkan krisis tetapi daya tahan kita kuat,” tuturnya.

Darmin menuturkan, besarnya permintaan serta konsumsi memang menguntungkan tetapi di sisi lain menunjukkan rendahnya simpanan masyarakat Indonesia. Selain rendahnya simpanan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu di atas 6 persen pada dua tahun terakhir juga memiliki kelemahan lain yakni tidak berimbangnya sisi internal dan eksternal menyebabkan neraca pembayaran Indonesia (NPI) ataupun transaksi berjalan (current account) defisit.

Darmin berharap Indonesia tidak akan mengalami hal yang sama seperti India, di mana pertumbuhan mereka menurun tajam sementara transaksi berjalannya mengalami defisit. ”Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harusnya dibarengi current account yang surplus. Negara yang mirip dengan kita adalah India. Dia tiba-tiba terjebak dalam kelemahan itu sehingga untuk keluar tidak mudah,” tuturnya.

Darmin menjelaskan, tidak seimbangnya sisi eksternal dan internal tidak bisa dilepaskan dari lemahnya kebijakan di sektor industri, terutama industri barang modal serta bahan baku/penolong. Hal tersebut membuat impor barang modal Indonesia sangat tinggi.

Sebagai catatan, selama Januari–September 2012, impor bahan baku/penolong serta barang modal mencapai USD133,97 miliar atau 92,96 persen dari total impor.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Dulu Dijajah Belanda,...
Dulu Dijajah Belanda, Kini Digerus Impor? Mantan Menkeu Ungkap Jurus Jitu Cetak Ekonomi Tumbuh 8%
24 menit yang lalu
Warga India Gila Emas,...
Warga India 'Gila' Emas, Perusahaan Gadai Rusia Bidik Pasar Rp89.038 Triliun
1 jam yang lalu
Asabri Dorong Transformasi...
Asabri Dorong Transformasi Layanan Berbasis ESG, Kepuasan Peserta Capai 96,03%
4 jam yang lalu
Distribusi BBM di Kota...
Distribusi BBM di Kota Medan Makin Lancar, Antrean di SPBU Mulai Normal
4 jam yang lalu
Jebakan Ilusi PDB, Mantan...
Jebakan Ilusi PDB, Mantan Menkeu Fuad Bawazier Ungkap Fakta di Balik Utang RI Rp8.000 Triliun
4 jam yang lalu
AKPY-BPDP Latih Pekebun...
AKPY-BPDP Latih Pekebun Sawit di Paser Tingkatkan Nilai Jual TBS
4 jam yang lalu
Infografis
Rakyat Swiss Minta Pembelian...
Rakyat Swiss Minta Pembelian 36 Jet Tempur F-35 AS Dibatalkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved