2012, ekonomi DIY diperkirakan tumbuh 5,6%

Kamis, 29 November 2012 - 16:33 WIB
2012, ekonomi DIY diperkirakan...
2012, ekonomi DIY diperkirakan tumbuh 5,6%
A A A
Sindonews.com - Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta memprediksikan pertumbuhan ekonomi DIY pada 2012 sebesar 5,6 persen. Pertumbuhan ini cukup bagus karena dalam sepuluh tahun terakhir, berada dibawah 5,5 persen.

Jika kondisi bisa dipertahankan, diprediksikan pada 2013, pertumbuhan akan lebih tinggi lagi. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY Mahdi Mahmudy mengatakan, sampai dengan triwulan III 2012, pertumbuhan komulatif sebesar 5,26 persen (ctc). Ini lebih tinggi dari capaian pada periode yang sama 2011 yang hanya 4,06 persen.

“Kami optimis pertumbuhan ekonomi DIY pada 2012 ini berada pada kisaran 5,6 persen (yoy),” jelas Mahdi pada Pertemuan Tahunan Perbankan 2012 di Kantor KPBI Yogyakarta kemarin.

Tingkat konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah dan investasi, masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Investasi memiliki pangsa hingga 25 persen dari pembentukan PDRB DIY. Investasi juga banyak memberikan andil dampak multiplier terhadap ekonomi.

Hanya saja pertumbuhan investasi masih belum tinggi. Secara kumulatif hingga triwulan III tumbuh 4,43 persen (c to c) dengan krun waktu tiga tahun terakhir tumbuh konservatif 3 hingga 4 persen. Pada sisi perdagangan luar negeri, ekspor nonmigas DIY hingga triwulan III 2012 masih menunjukkan kinerja yang baik.

Nilai ekspor dilaporkan meningkat 31,98 persen yoy dan volume ekspor meningkat 14,87 persen yoy. Hal ini didorong oleh masih tingginya ekspor ke Amerika Serikat (41 persen), Jepang (13 persen) dan Jerman (10 persen).

“Komoditas, pakaian jadi dan barang manufaktur merupakan komoditas dengan nilai ekspor terbesar,” terangnya. Dikatakan Mahdi, dari hasil liason ke beberapa eksportir besar DIY, permintaan pakaian jadi dari kawasan Amerika Serikat dan Eropa masih tinggi.

Kondisi ini berbeda dengan ekspor furniture yang mengalami penurunan terkait dengan kondisi krisis di Eropa. Untuk nilai impor juga mengalami peningkatan, khususnya impor bahan baku untuk produk ekspor unggulan yaitu tekstil dan produk tekstil.

“Pertumbuhan ekonomi DIY banyak ditopang dari sector perdagangan hotel dan restaurant, jasa industri dan bangunan,” tandas Mahdi.

Untuk sektor industri, tahun ini merupakan pertumbuhan negatif. Sektor ini perlu mendapatkan perhatian yang serius karena secara kumulatif, sampai dengan kuartal III 2012, tumbuh 5,2 persen. Dari catatan Badan Pusat Statistik, ini terjadi pada industri manufaktur besar dan sedang (IBS) maupun produksi industri mikro dan kecil (IKM).

Sementara itu, peneliti Senior Madya Bank Indonesia Djoko Raharto mengatakan, secara kumulatif, inflasi DIY cukup rendah. Sampai dengan Oktober secara kumulatif hanya sebesar 3,42 persen. Diperkirakan untuk keseluruhan di 2012 dibawah 4,5 persen.

“Rendahnya inflasi ini dipengaruhi kecukupan stok pangan strategis, pelemehan harga komoditas dan pemintaan yang tidak begitu kuat,” jelas Djoko.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertamina SMEXPO Geliatkan...
Pertamina SMEXPO Geliatkan Ekonomi Rakyat di Yogyakarta
Dongkrak Ekonomi Warga...
Dongkrak Ekonomi Warga Jogja, Nara Kupu Gelar Lagi Pasar Sayur dan Pets Day Out
Tiga Jurus Sandiaga...
Tiga Jurus Sandiaga Tingkatkan Daya Saing Pelaku Parekraf
Wamenkop Sebut Yogyakarta...
Wamenkop Sebut Yogyakarta Bisa Jadi Role Model Daerah Bersistem Ekonomi Pancasila
Ekonomi Jatim Alami...
Ekonomi Jatim Alami Kontraksi, Pertumbuhannya Kalah Dari Banten dan Yogyakarta
Sukuk Ritel SR016 Bakal...
Sukuk Ritel SR016 Bakal Dirilis, Investasi Syariah yang Aman dan Dijamin Negara
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
7 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
7 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
7 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
8 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
8 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
9 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved