BRAU akan lakukan diversifikasi pasar
Selasa, 04 Desember 2012 - 15:45 WIB
BRAU akan lakukan diversifikasi pasar
A
A
A
Sindonews.com - Guna menyiasati menurunnya penjualan perseroan karena menurunnya permintaan dari konsumen utama yakni China, PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) berencana melakukan diversifikasi pasar dimana salah satu negara tujannya adalah India.
"Permintaan dari China dan turunnya permintaan untuk produk dengan kandungan sulfur, menjadi kendala dalam penjualan perseroan," terang Direktur Utama BRAU ,Rosan Perkasa Roeslani di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (4/12/2012).
Merespon kondisi tersebut, Perseroan memandang pelu adanya diversifikasi atau penganekaragaman destinasi penjualan produk ke negara-negara lain selain China.
"Dalam kondisi tersebut, kami memiliki strategi untuk melakukan pemasaran ke negara yang sebelumnya pernah menjadi taget penjualan, seperti Thailand, selain itu kami berupaya melakukan perencanaan diversifikasi pasar ke negara ASEAN seperti Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Selain itu kita juga menyasar India," jelasnya.
Diliriknya India, kata dia, karena permintaan dari negara tersebut tergolong cukup tinggi kendati proyeksi harga yang mungkin disepakatai tidak setinggi yang ditawarkan China. "Kita lirik India karena kelihatan permintaannya juga ada ya, meskipun kalau harga mungkin China lebih baik," imbuhnya.
"Permintaan dari China dan turunnya permintaan untuk produk dengan kandungan sulfur, menjadi kendala dalam penjualan perseroan," terang Direktur Utama BRAU ,Rosan Perkasa Roeslani di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (4/12/2012).
Merespon kondisi tersebut, Perseroan memandang pelu adanya diversifikasi atau penganekaragaman destinasi penjualan produk ke negara-negara lain selain China.
"Dalam kondisi tersebut, kami memiliki strategi untuk melakukan pemasaran ke negara yang sebelumnya pernah menjadi taget penjualan, seperti Thailand, selain itu kami berupaya melakukan perencanaan diversifikasi pasar ke negara ASEAN seperti Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Selain itu kita juga menyasar India," jelasnya.
Diliriknya India, kata dia, karena permintaan dari negara tersebut tergolong cukup tinggi kendati proyeksi harga yang mungkin disepakatai tidak setinggi yang ditawarkan China. "Kita lirik India karena kelihatan permintaannya juga ada ya, meskipun kalau harga mungkin China lebih baik," imbuhnya.
(gpr)
Lihat Juga :