Daging sapi langka, pemerintah kambinghitamkan 'bule'
Jum'at, 07 Desember 2012 - 15:11 WIB
Daging sapi langka, pemerintah kambinghitamkan 'bule'
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah memperkirakan, tingginya konsumsi daging sapi dari para ekspatriat dan turis asing yang datang ke Indonesia sebagai salah satu penyebab kekurangan suplai daging sapi.
"Itu salah satunya turis yang datang ke Indoensia itu kan makan daging. Kalau lihat orang Korea makan siang dan sore itu makan daging, jadi itu nggak bisa dihitung hanya 80.000 ton. Jadi itu yang perlu di-adjustment," ujar Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (7/12/2012).
Menurut Bachri, jumlah ekspatriat di Indonesia sangat besar, tercatat sekitar 125 ribu, sehingga konsumsi daging sapi mereka tidak dapat dikesampingkan dalam perhitungan kuota impor daging sapi.
"Ekspat 120-125 ribu itu dan banyak faktor lagi yang harus kita rembugkan lagi," imbuhnya.
Selain itu, turis asing yang berjumlah 8 juta orang per tahun juga memiliki tingkat konsumsi daging sapi yang cukup signifikan. Apalagi, jumlah turis asing terus bertambah.
"Kisaran turis kita 8 juta per tahun, kenaikannya 18 persen per tahun, dalam suslegnas itu belum terpotret," sambung dia.
Karena itu, pihaknya meminta konsumsi daging sapi dari ekspatriat dan turis asing ini juga diperhitungkan dalam penetapan kuota impor.
"Intinya ada data based-nya, oke kita hitung setengah, seperempatnya, itu sebagai dasar untuk kita melakukan adjustment," tutup Bachrul.
"Itu salah satunya turis yang datang ke Indoensia itu kan makan daging. Kalau lihat orang Korea makan siang dan sore itu makan daging, jadi itu nggak bisa dihitung hanya 80.000 ton. Jadi itu yang perlu di-adjustment," ujar Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (7/12/2012).
Menurut Bachri, jumlah ekspatriat di Indonesia sangat besar, tercatat sekitar 125 ribu, sehingga konsumsi daging sapi mereka tidak dapat dikesampingkan dalam perhitungan kuota impor daging sapi.
"Ekspat 120-125 ribu itu dan banyak faktor lagi yang harus kita rembugkan lagi," imbuhnya.
Selain itu, turis asing yang berjumlah 8 juta orang per tahun juga memiliki tingkat konsumsi daging sapi yang cukup signifikan. Apalagi, jumlah turis asing terus bertambah.
"Kisaran turis kita 8 juta per tahun, kenaikannya 18 persen per tahun, dalam suslegnas itu belum terpotret," sambung dia.
Karena itu, pihaknya meminta konsumsi daging sapi dari ekspatriat dan turis asing ini juga diperhitungkan dalam penetapan kuota impor.
"Intinya ada data based-nya, oke kita hitung setengah, seperempatnya, itu sebagai dasar untuk kita melakukan adjustment," tutup Bachrul.
(gpr)
Lihat Juga :