2020, RI diprediksi alami krisis BBM
Kamis, 13 Desember 2012 - 14:40 WIB
2020, RI diprediksi alami krisis BBM
A
A
A
Sindonews.com - Pakar production sharing contract (PSC) Sutadi Pudjo Utomo memperkirakan, Indonesia akan mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM) pada 2020 mendatang.
"Kebutuhan BBM dalam negeri tahun 2015-2020 berkisar antara 1,6-1,7 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak hanya berkisar antara 750-800 ribu barel per hari dan kemampuan kilang dalam negeri paling tinggi hanya 1,1 juta barel per hari," papar Sutadi Pudjo Utomo di Hotel Century, Jakarta, Kamis (13/12/2012).
Berdasarkan perhitungan tersebut, Indonesia perlu segera melakukan sejumlah langkah persiapan. "Indonesia perlu mempersiapkan potensi krisis energi karena produksi minyak mentah kita sudah jauh di bawah konsumsi nasional," imbuhnya.
Pihaknya mengusulkan pembangunan kerja sama dengan pengelola migas global (major oil company/MOC) untuk melakukan eksplorasi di luar negeri demi menjaga ketersediaan BBM di Tanah Air.
"Kita harus mulai membangun aliansi strategi dengan MOC untuk pengamanan penyediaan BBM di dalam negeri," ujar dia.
Kerja sama dengan MOC ini, lanjut Sutadi, sebaiknya dilakukan dalam bentuk kontrak production sharing (KPS). "Modal persepsi baik MOC dalam hubungan dengan kerja sama KPS, seharusnya dikembangkan menjadi aliansi strategis pengelolaan lapangan migas di luar negeri," tutur Sutadi.
"Kebutuhan BBM dalam negeri tahun 2015-2020 berkisar antara 1,6-1,7 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak hanya berkisar antara 750-800 ribu barel per hari dan kemampuan kilang dalam negeri paling tinggi hanya 1,1 juta barel per hari," papar Sutadi Pudjo Utomo di Hotel Century, Jakarta, Kamis (13/12/2012).
Berdasarkan perhitungan tersebut, Indonesia perlu segera melakukan sejumlah langkah persiapan. "Indonesia perlu mempersiapkan potensi krisis energi karena produksi minyak mentah kita sudah jauh di bawah konsumsi nasional," imbuhnya.
Pihaknya mengusulkan pembangunan kerja sama dengan pengelola migas global (major oil company/MOC) untuk melakukan eksplorasi di luar negeri demi menjaga ketersediaan BBM di Tanah Air.
"Kita harus mulai membangun aliansi strategi dengan MOC untuk pengamanan penyediaan BBM di dalam negeri," ujar dia.
Kerja sama dengan MOC ini, lanjut Sutadi, sebaiknya dilakukan dalam bentuk kontrak production sharing (KPS). "Modal persepsi baik MOC dalam hubungan dengan kerja sama KPS, seharusnya dikembangkan menjadi aliansi strategis pengelolaan lapangan migas di luar negeri," tutur Sutadi.
(rna)
Lihat Juga :