Akhir pekan, IHSG diprediksi terkoreksi
Jum'at, 14 Desember 2012 - 08:28 WIB
Akhir pekan, IHSG diprediksi terkoreksi
A
A
A
Sindonews.com - Aksi jual yang dilakukan investor menjadi momok tersendiri bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) jelang akhir pekan ini, sehingga berpotensi mendorong terjadinya pelemahan.
"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.295-4.309 dan resistance 4.332-4.348," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jumat (14/12/2012).
Berpola hammer dan masih berada di middle bollinger bands. MACD masih bergerak mendatar dengan histogram positif yang memendek.
RSI, William's %R, dan Stochastic tertahan menuju area oversold. IHSG mulai melandai seiring dengan kenaikan selama beberapa hari, terutama setelah tertutupinya gap atas di level 4.323-4.333.
"Aksi jual memanfaatkan momen pelemahan diperkirakan masih akan terjadi, namun diharapkan mulai adanya nett buy asing dapat menahan pelemahan yang terjadi," tegas Reza.
Pada perdagangan kemarin, kekhawatiran terjadinya pelemahan, dimana IHSG akhirnya tidak kuasa menahan aksi profit taking akhirnya terjadi. Aksi ini dilakukan oleh pemodal lokal, sedangkan asing justru mulai melakukan nett buy. Terlihat pada data bahwa investor domestik mengurangi aktivitas beli dan meningkatkan penjualan.
Mulai melemahnya bursa saham Asia dan negatifnya pembukaan pasar saham Eropa membuat pelaku pasar memilih untuk profit taking, terutama pada saham-saham yang sebelumnya sempat menguat, antara lain MYOR, PTBA, dan UNVR yang masih melanjutkan penurunannya.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.335,92 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.299,72 (level terendahnya) jelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.320,19.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah menguat seiring dengan kabar positif dari The Fed yang memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga rendahnya dan memperpanjang program stimulusnya.
Akan tetapi, penguatan menjadi terbatas seiring kekhawatiran pasar terhadap kemampuan Uni Eropa untuk menyusun peran ECB sebagai pengawas perbankan di Uni Eropa yang terlihat dari pertemuan The Economic and Financial Affairs Council (Ecofin) dimana beberapa negara justru menginginkan agar ECB hanya memiliki peran yang terbatas.
Dampaknya ialah akan mengurangi efektivitas dalam mengawasi sektor perbankan. Belum lagi laporan ECB yang akan menunjukkan masih suramnya ekonomi Eropa.
Bursa saham Asia mulai bervariatif dengan adanya pelemahan pada indeks Shanghai dan HSI. Penguatan yang sempat terjadi dipengaruhi hasil FOMC meeting yang akan menambah program stimulus melalui pembelian obligasi dan tetapnya suku bunga The Fed.
Adanya keputusan tersebut membuat sejumlah mata uang Asia menguat. Selain itu, penguatan dipimpin saham-saham teknologi namun, melemahnya harga logam di China melemahkan saham-saham di sana.
"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.295-4.309 dan resistance 4.332-4.348," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jumat (14/12/2012).
Berpola hammer dan masih berada di middle bollinger bands. MACD masih bergerak mendatar dengan histogram positif yang memendek.
RSI, William's %R, dan Stochastic tertahan menuju area oversold. IHSG mulai melandai seiring dengan kenaikan selama beberapa hari, terutama setelah tertutupinya gap atas di level 4.323-4.333.
"Aksi jual memanfaatkan momen pelemahan diperkirakan masih akan terjadi, namun diharapkan mulai adanya nett buy asing dapat menahan pelemahan yang terjadi," tegas Reza.
Pada perdagangan kemarin, kekhawatiran terjadinya pelemahan, dimana IHSG akhirnya tidak kuasa menahan aksi profit taking akhirnya terjadi. Aksi ini dilakukan oleh pemodal lokal, sedangkan asing justru mulai melakukan nett buy. Terlihat pada data bahwa investor domestik mengurangi aktivitas beli dan meningkatkan penjualan.
Mulai melemahnya bursa saham Asia dan negatifnya pembukaan pasar saham Eropa membuat pelaku pasar memilih untuk profit taking, terutama pada saham-saham yang sebelumnya sempat menguat, antara lain MYOR, PTBA, dan UNVR yang masih melanjutkan penurunannya.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.335,92 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.299,72 (level terendahnya) jelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.320,19.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah menguat seiring dengan kabar positif dari The Fed yang memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga rendahnya dan memperpanjang program stimulusnya.
Akan tetapi, penguatan menjadi terbatas seiring kekhawatiran pasar terhadap kemampuan Uni Eropa untuk menyusun peran ECB sebagai pengawas perbankan di Uni Eropa yang terlihat dari pertemuan The Economic and Financial Affairs Council (Ecofin) dimana beberapa negara justru menginginkan agar ECB hanya memiliki peran yang terbatas.
Dampaknya ialah akan mengurangi efektivitas dalam mengawasi sektor perbankan. Belum lagi laporan ECB yang akan menunjukkan masih suramnya ekonomi Eropa.
Bursa saham Asia mulai bervariatif dengan adanya pelemahan pada indeks Shanghai dan HSI. Penguatan yang sempat terjadi dipengaruhi hasil FOMC meeting yang akan menambah program stimulus melalui pembelian obligasi dan tetapnya suku bunga The Fed.
Adanya keputusan tersebut membuat sejumlah mata uang Asia menguat. Selain itu, penguatan dipimpin saham-saham teknologi namun, melemahnya harga logam di China melemahkan saham-saham di sana.
(rna)
Lihat Juga :