Kecewa, Bos BRAU tinggalkan Bumi Plc
Kamis, 20 Desember 2012 - 09:25 WIB
Kecewa, Bos BRAU tinggalkan Bumi Plc
A
A
A
Sindonews.com - Perseturuan di tubuh BUMI Plc kembali memasuki babak baru dengan diputuskannya Rosan P. Roeslani dengan Grup Recapital-nya sebagai concerted party.
Dengan keputusan yang ditetapkan United Kingdom Take Over Panel (TOP/UK Panel) tersebut, maka pihak Recapital dalam hal ini diwakili oleh Rosan secara otomatis kehilangan hak suaranya karena dianggap satu kesatuan secara hak suara dengan pihak Grup Bakrie dan Samin Tan.
"Kami sangat menyayangkan putusan TOP mengenai Recapital dikategorikan sebagai concerted party," terang Rosan dalam keterangan persnya Kamis (20/12/2012).
Selama ini, kata dia, posisinya sebagai Non-Independent, Non Executive Director di Bumi Plc adalah untuk mewakili Grup Recapital dalam kaitannya dengan kepentingan PT Berau Coal Energy, Tbk (BRAU) yang dikelola secara independen dan profesional sebagai perusahaan publik.
"Keberadaan saya di Dewan Direksi (Board) Bumi Plc justru untuk menjaga independensi dan profesionalisme tersebut. Sehingga pengelolaan BRAU tidak akan dipengaruhi pihak-pihak atau nilai-nilai lain yang bertentangan dengan visi, misi dan kepentingan pemegang saham perseroan sebagai perusahaan nasional terkemuka di Indonesia," sambung dia.
Setiap sinergi atau kolaborasi Recapital untuk kepentingan BRAU dengan pihak luar selalu dilakukan secara transparan, diaudit oleh auditor terkemuka bereputasi internasional (dalam hal ini PricewaterhouseCoopers-PwC) dan dengan persetujuan rapat umum pemegang saham.
Tata kelola dan nilai-nilai yang kami terapkan di BRAU adalah prinsip tata kelola dan nilai-nilai yang sama yang diterapkan di seluruh Grup Recapital sebagai pemegang saham dan pengelola BRAU. "Dengan demikian sekali lagi kami sangat menyesalkan putusan TOP yang di luar dugaan," tandasnya.
Namun demikian, diakui Rosan, pihaknya meyakini secara positif bahwa banyak faktor lain di luar kendali perusahaan yang mendasari putusan TOP tersebut. "Untuk itu kami memutuskan untuk tidak melakukan banding dan menghormati putusan TOP," umbar dia lagi.
Keputusan tidak melakukan banding tersebut, kata Rosan, khususnya karena sudah terlalu banyak waktu yang terbuang selama beberapa bulan terakhir untuk mengurusi isu-isu di media massa dan di pasar sehingga sehingga sangat tidak produktif untuk pertumbuhan BRAU, bagi jutaan stakeholders Perseroan, dan juga bagi Grup Recapital.
"Dengan dasar pertimbangan itu pula, demi kepentingan pemegang saham BRAU, baik mayoritas maupun minoritas, kami juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari Board Bumi Plc agar bisa berkonsentrasi penuh kepada mandat kami sebagai Presiden Direktur PT Berau Coal Energy, Tbk," tegas Rosan melanjutkan keterangannya.
Keputusan ini juga diambil, lanjut Rosan, demi kepentingan manajemen Bumi Plc agar bisa segera menemukan solusi yang terbaik bagi kepentingan seluruh pemegang saham.
Pertama, bahwa Indonesia terbukti memilki aset-aset yang begitu bernilai sampai menjadi perhatian, bahkan diperebutkan secara maskimal oleh investor di seluruh dunia. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, adalah kewajiban kita untuk melindungi dan mengelola aset-aset tersebut dengan sebaik-baiknya, untuk sebesar-sebesarnya kemakmuran bangsa.
"Dalam hal ini kami sangat bangga dan bersyukur bahwa BRAU adalah salah satu perusahaan dengan komitmen tata kelola, tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab lingkungan yang terbaik di Indonesia," kata Rosan lebih tegas.
Kedua, lanjut dia, mencari partner yang benar-benar tepat sebelum melakukan ekspansi internasional butuh waktu dan proses yang terstruktur dan terencana dengan baik, akurat, dan lengkap.
"Memilih partner berdasarkan referensi orang dekat saja, atau berdasarkan kedekatan historis saja, atau berdasarkan ketenaran saja tidak akan cukup, dan justru akan berakibat fatal bila tujuannya adalah untuk mempersingkat waktu dan proses tersebut," imbuh dia lagi.
Memaksimalkan hasil dari proses dan waktu tersebut adalah jauh lebih bijak dan bermanfaat. "Semoga dua pelajaran ini bisa bermanfaat bagi para pengusaha nasional lainnya," sarannya.
Dua tahun belakangan ini ibarat masa pendidikan yang penting bagi Grup Recapital. "Tentunya ini bukan akhir melainkan menjadi awal yang baik bagi ekspansi internasional Grup Recapital di masa yang akan datang," tandasnya.
Dengan keputusan yang ditetapkan United Kingdom Take Over Panel (TOP/UK Panel) tersebut, maka pihak Recapital dalam hal ini diwakili oleh Rosan secara otomatis kehilangan hak suaranya karena dianggap satu kesatuan secara hak suara dengan pihak Grup Bakrie dan Samin Tan.
"Kami sangat menyayangkan putusan TOP mengenai Recapital dikategorikan sebagai concerted party," terang Rosan dalam keterangan persnya Kamis (20/12/2012).
Selama ini, kata dia, posisinya sebagai Non-Independent, Non Executive Director di Bumi Plc adalah untuk mewakili Grup Recapital dalam kaitannya dengan kepentingan PT Berau Coal Energy, Tbk (BRAU) yang dikelola secara independen dan profesional sebagai perusahaan publik.
"Keberadaan saya di Dewan Direksi (Board) Bumi Plc justru untuk menjaga independensi dan profesionalisme tersebut. Sehingga pengelolaan BRAU tidak akan dipengaruhi pihak-pihak atau nilai-nilai lain yang bertentangan dengan visi, misi dan kepentingan pemegang saham perseroan sebagai perusahaan nasional terkemuka di Indonesia," sambung dia.
Setiap sinergi atau kolaborasi Recapital untuk kepentingan BRAU dengan pihak luar selalu dilakukan secara transparan, diaudit oleh auditor terkemuka bereputasi internasional (dalam hal ini PricewaterhouseCoopers-PwC) dan dengan persetujuan rapat umum pemegang saham.
Tata kelola dan nilai-nilai yang kami terapkan di BRAU adalah prinsip tata kelola dan nilai-nilai yang sama yang diterapkan di seluruh Grup Recapital sebagai pemegang saham dan pengelola BRAU. "Dengan demikian sekali lagi kami sangat menyesalkan putusan TOP yang di luar dugaan," tandasnya.
Namun demikian, diakui Rosan, pihaknya meyakini secara positif bahwa banyak faktor lain di luar kendali perusahaan yang mendasari putusan TOP tersebut. "Untuk itu kami memutuskan untuk tidak melakukan banding dan menghormati putusan TOP," umbar dia lagi.
Keputusan tidak melakukan banding tersebut, kata Rosan, khususnya karena sudah terlalu banyak waktu yang terbuang selama beberapa bulan terakhir untuk mengurusi isu-isu di media massa dan di pasar sehingga sehingga sangat tidak produktif untuk pertumbuhan BRAU, bagi jutaan stakeholders Perseroan, dan juga bagi Grup Recapital.
"Dengan dasar pertimbangan itu pula, demi kepentingan pemegang saham BRAU, baik mayoritas maupun minoritas, kami juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari Board Bumi Plc agar bisa berkonsentrasi penuh kepada mandat kami sebagai Presiden Direktur PT Berau Coal Energy, Tbk," tegas Rosan melanjutkan keterangannya.
Keputusan ini juga diambil, lanjut Rosan, demi kepentingan manajemen Bumi Plc agar bisa segera menemukan solusi yang terbaik bagi kepentingan seluruh pemegang saham.
Pertama, bahwa Indonesia terbukti memilki aset-aset yang begitu bernilai sampai menjadi perhatian, bahkan diperebutkan secara maskimal oleh investor di seluruh dunia. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, adalah kewajiban kita untuk melindungi dan mengelola aset-aset tersebut dengan sebaik-baiknya, untuk sebesar-sebesarnya kemakmuran bangsa.
"Dalam hal ini kami sangat bangga dan bersyukur bahwa BRAU adalah salah satu perusahaan dengan komitmen tata kelola, tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab lingkungan yang terbaik di Indonesia," kata Rosan lebih tegas.
Kedua, lanjut dia, mencari partner yang benar-benar tepat sebelum melakukan ekspansi internasional butuh waktu dan proses yang terstruktur dan terencana dengan baik, akurat, dan lengkap.
"Memilih partner berdasarkan referensi orang dekat saja, atau berdasarkan kedekatan historis saja, atau berdasarkan ketenaran saja tidak akan cukup, dan justru akan berakibat fatal bila tujuannya adalah untuk mempersingkat waktu dan proses tersebut," imbuh dia lagi.
Memaksimalkan hasil dari proses dan waktu tersebut adalah jauh lebih bijak dan bermanfaat. "Semoga dua pelajaran ini bisa bermanfaat bagi para pengusaha nasional lainnya," sarannya.
Dua tahun belakangan ini ibarat masa pendidikan yang penting bagi Grup Recapital. "Tentunya ini bukan akhir melainkan menjadi awal yang baik bagi ekspansi internasional Grup Recapital di masa yang akan datang," tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :