Rupiah diprediksi di kisaran Rp9.800-9.900/USD
Senin, 14 Januari 2013 - 15:06 WIB
Rupiah diprediksi di kisaran Rp9.800-9.900/USD
A
A
A
Sindonews.com - Kemampuan nilai tukar rupiah untuk menguat terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (USD) masih akan sulit dilakukan sepanjang pekan ketiga bulan ini. Rupiah pada pekan ini diproyeksi akan bergerak di kisaran Rp9.800-9.900 per USD.
"Seminggu ini, rupiah akan berada di kisaran Rp9.800-9.900 per USD," ujar analis PT Samuel Sakuritas Indonesia, Lana Seolistianingsih saat dihubungi Sindonews, Senin (14/1/2013).
Hal ini, dipandang Lana, karena pada level tersebut, rupiah dianggap berada pada posisi rentan secara psikologis. Selain itu, defisitnya neraca perdagangan Indonesia memberi kontribusi terhadap pelemahan mata uang domestik.
Bahkan, rupiah diprediksi hampir tidak punya kekuatan untuk berbalik arah dan memperbaiki levelnya. "Neraca perdagangan defisit semakin dalam. Selain itu, permintaan dolar juga semakin tinggi, mengingat kinerja ekspor yang menurun, sementara impor masih tercatat cukup tinggi," kata dia.
Untuk memperbaiki level rupiah, Lana berpendapat, pemerintah harus ikut melakukan intervensi agar depresiasi rupiah ke tingkat yang lebih dalam bisa dicegah.
"Pemerintah lewat BUMN-BUMN nya mungkin bisa menarik dolarnya yang ada di luar ke masuk ke dalam (Indonesia). Jadi, permintaan dolar untuk memenuhi kebutuhan impor bisa tersedia," tandasnya.
Dari Bank Indonesia sendiri, Lana mengharapkan ada intervensi yang cukup tegas sebagai Bank Sentral dengan cara mengurangi likuiditas rupiah. Ini dilakukan agar pelemahan yang terjadi bisa dibalikkan ke level yang lebih positif.
"BI bisa melakukan intervensi dengan menarik rupiahnya. Kemudian, menurunkan likuiditas rupiah," tutur dia.
"Seminggu ini, rupiah akan berada di kisaran Rp9.800-9.900 per USD," ujar analis PT Samuel Sakuritas Indonesia, Lana Seolistianingsih saat dihubungi Sindonews, Senin (14/1/2013).
Hal ini, dipandang Lana, karena pada level tersebut, rupiah dianggap berada pada posisi rentan secara psikologis. Selain itu, defisitnya neraca perdagangan Indonesia memberi kontribusi terhadap pelemahan mata uang domestik.
Bahkan, rupiah diprediksi hampir tidak punya kekuatan untuk berbalik arah dan memperbaiki levelnya. "Neraca perdagangan defisit semakin dalam. Selain itu, permintaan dolar juga semakin tinggi, mengingat kinerja ekspor yang menurun, sementara impor masih tercatat cukup tinggi," kata dia.
Untuk memperbaiki level rupiah, Lana berpendapat, pemerintah harus ikut melakukan intervensi agar depresiasi rupiah ke tingkat yang lebih dalam bisa dicegah.
"Pemerintah lewat BUMN-BUMN nya mungkin bisa menarik dolarnya yang ada di luar ke masuk ke dalam (Indonesia). Jadi, permintaan dolar untuk memenuhi kebutuhan impor bisa tersedia," tandasnya.
Dari Bank Indonesia sendiri, Lana mengharapkan ada intervensi yang cukup tegas sebagai Bank Sentral dengan cara mengurangi likuiditas rupiah. Ini dilakukan agar pelemahan yang terjadi bisa dibalikkan ke level yang lebih positif.
"BI bisa melakukan intervensi dengan menarik rupiahnya. Kemudian, menurunkan likuiditas rupiah," tutur dia.
(rna)