Merespon inflasi, rupiah diprediksi melemah
Senin, 04 Februari 2013 - 08:28 WIB
Merespon inflasi, rupiah diprediksi melemah
A
A
A
Sindonews.com - Merespon inflasi tahunan yang masih dibawah harapan 5 persen, memberi dampak pada psikologi pasar, sehingga menimbulkan tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Pergerakan nilai tukar rupiah masih cenderung melemah tipis setelah rilis inflasi bulanan di atas estimasi 0,85-0,93 persen," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Senin (4/2/2013).
Meski dirilis sebesar 1,03 persen, namun secara tahunan sebesar 4,57 persen. Angka itu naik tipis dari sebelumnya 4,30 persen.
Kenaikan inflasi (YoY) yang masih di bawah target 5 persen belum tentu menjadi ancaman bagi suku bunga acuan BI Rate, sehingga pelaku pasar menilai BI rate tidak akan dinaikkan dalam waktu dekat ini.
Kondisi tersebut menahan laju rupiah. Akan tetapi, pelemahan rupiah terbatas setelah mendapat sentimen positif dari rilis data manufaktur China versi HSBC.
Bursa saham Asia variatif cenderung positif setelah rilis 2 indeks manufaktur PMI China. Versi Pemerintah merilis adanya penurunan tipis dari 50,60 menjadi 50,40.
Sedangkan versi HSBC merilis kenaikan dai 51,90 menjadi 52,30. Nikkei menguat setelah Yen terdepresiasi dan rilis positif sejumlah kinerja emiten dimana dari 123 emiten yang melaporkan kinerjanya, 59 persen melampaui estimasi.
Bursa saham Eropa berbalik arah positif setelah merespon penguatan bursa saham Asia pasca dirilisnya indeks manufaktur China yang memperlihatkan level ekspansi. Di sisi lain, rilis data ketenegakerjaan dan indeks manufaktur di AS cukup memberikan sentimen positif.
Dari sisi kinerja emiten, masih ada yang merilis kinerja di atas estimasi antara lain BT Group Plc. dan Banca Popolare di Milano. Di tempat lain, bursa saham Spanyol berakhir negatif setelah otoritas bursa melarang praktik short-selling. Sebanyak 56 persen dari emiten di Eropa yang telah melaporkan kinerja, berhasil melampui estimasi.
Bursa saham AS kompak menguat merespon positifnya bursa saham Asia dan Eropa setelah rilis data nonfarm payrolls dan private nonfarm payrolls yang bertumbuh meski lebih rendah dari sebelumnya.
Akan tetapi untuk data consumer sentiment, construction spending (MoM) dan ISM Manufacturing justru mengalami peningkatan. Di sisi lain, sebanyak 73 persen dari 254 emiten dalam S&P 500 yang telah melaporkan kinerjanya berhasil melampui estimasi profit dan 65 persen-nya melebihi estimasi pendapatan.
"Pergerakan nilai tukar rupiah masih cenderung melemah tipis setelah rilis inflasi bulanan di atas estimasi 0,85-0,93 persen," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Senin (4/2/2013).
Meski dirilis sebesar 1,03 persen, namun secara tahunan sebesar 4,57 persen. Angka itu naik tipis dari sebelumnya 4,30 persen.
Kenaikan inflasi (YoY) yang masih di bawah target 5 persen belum tentu menjadi ancaman bagi suku bunga acuan BI Rate, sehingga pelaku pasar menilai BI rate tidak akan dinaikkan dalam waktu dekat ini.
Kondisi tersebut menahan laju rupiah. Akan tetapi, pelemahan rupiah terbatas setelah mendapat sentimen positif dari rilis data manufaktur China versi HSBC.
Bursa saham Asia variatif cenderung positif setelah rilis 2 indeks manufaktur PMI China. Versi Pemerintah merilis adanya penurunan tipis dari 50,60 menjadi 50,40.
Sedangkan versi HSBC merilis kenaikan dai 51,90 menjadi 52,30. Nikkei menguat setelah Yen terdepresiasi dan rilis positif sejumlah kinerja emiten dimana dari 123 emiten yang melaporkan kinerjanya, 59 persen melampaui estimasi.
Bursa saham Eropa berbalik arah positif setelah merespon penguatan bursa saham Asia pasca dirilisnya indeks manufaktur China yang memperlihatkan level ekspansi. Di sisi lain, rilis data ketenegakerjaan dan indeks manufaktur di AS cukup memberikan sentimen positif.
Dari sisi kinerja emiten, masih ada yang merilis kinerja di atas estimasi antara lain BT Group Plc. dan Banca Popolare di Milano. Di tempat lain, bursa saham Spanyol berakhir negatif setelah otoritas bursa melarang praktik short-selling. Sebanyak 56 persen dari emiten di Eropa yang telah melaporkan kinerja, berhasil melampui estimasi.
Bursa saham AS kompak menguat merespon positifnya bursa saham Asia dan Eropa setelah rilis data nonfarm payrolls dan private nonfarm payrolls yang bertumbuh meski lebih rendah dari sebelumnya.
Akan tetapi untuk data consumer sentiment, construction spending (MoM) dan ISM Manufacturing justru mengalami peningkatan. Di sisi lain, sebanyak 73 persen dari 254 emiten dalam S&P 500 yang telah melaporkan kinerjanya berhasil melampui estimasi profit dan 65 persen-nya melebihi estimasi pendapatan.
(rna)