IHSG awal pekan diuji aksi profit taking

Senin, 18 Februari 2013 - 08:06 WIB
IHSG awal pekan diuji...
IHSG awal pekan diuji aksi profit taking
A A A
Sindonews.com - Berkali-kali prediksi pelemahan terpatahkan oleh kuatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah mencatatkan level tertingginya.

"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.554-4.590 dan resistance 4.610-4.622," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Senin (18/2/2013).

Berpola menyerupai shooting star lewati upper bollinger bands (UBB). MACD bergerak naik dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R dan Stochastic masih upreversal meski masih terbatas pada area overbought.

"Ternyata IHSG masih bisa naik, namun kami melihat kenaikan yang terkesan dipaksa setelah new high level sebelumnya gagal berbalik downreversal," tambah Reza.

Dia masih mewanti-wanti, kendati IHSG masih berpotensi menguat. Hal tersebut wajar adanya, mengingat semakin tinggi level harga efek, keinginan untuk profit taking kian besar.

"Tetap waspada akan pembalikan arah, namun kami berharap kalaupun terjadi pelemahan akan terbatas dengan rilis data-data Asia yang juga diharapkan masih bisa positif," imbuh dia.

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, lonjakan saham-saham dalam indeks perkebunan, konsumer, infrastruktur, dan keuangan membuat IHSG tetap bertahan di zona hijau meski di awal perdagangan sempat mampir di zona merah.

Keinginan untuk tetap bertahan di area hijau mengalahkan imbas variatifnya bursa saham Asia dan memerahnya pembukaan bursa saham Eropa.

Apalagi masih banyaknya rilis positif kinerja dari emiten di berbagai media membuat pelaku pasar tetap aktif melakukan trading meski di tengah sudah kelewat overbought-nya IHSG.

Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.616 (level tertingginya) di pertengahan sesi 2 dan menyentuh level 4.588,24 (level terendahnya) di awal sesi I dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.609,79.

Volume perdagangan dan nilai total transaksi menurun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.

Pergerakan nilai tukar rupiah di zona merah dengan variatifnya sentimen yang ada. Di satu sisi, terjadi penguatan USD setelah rilis penurunan klaim pengangguran AS dan komentar promoneter ketat dari salah 1 petinggi The Fed, James Bullard, yang mengkhawatirkan besarnya pemberian stimulus moneter oleh The Fed dan dampak yang ditimbulkan saat penarikan kembali stimulus tersebut.

Di sisi lain, salah satu petinggi BoE, Ben Broadbent, justru bersikap promenter longgar meskipun dia tidak sepenuhnya yakin kebijakan tersebut dapat membantu pemulihan ekonomi secara signifikan.

Selain itu, apresiasi USD terjadi setelah nilai Euro melemah pasca rilis turunnya GDP di Eropa dan beberapa negara kawasan lainnya. Bursa saham Asia mulai variatif cenderung melemah setelah nilai tukar Yen kembali naik dan adanya rilis kinerja emiten yang mengecewakan investor antara lain Micro Inc. hingga Rio Tinto Group.

Apresiasi Yen terjadi setelah beredar kabar pimpinan Daiwa Institute of Research yang juga Deputi BoJ akan dicalonkan sebagai Gubernur BoJ. Sebanyak 331 emiten dalam MSCI Asia Pasific yang telah merilis laporan keuangan, 51Persen telah melampaui estimasi keuntungan.

Bursa saham Eropa variatif menguat setelah masih ada emiten yang merilis kinerja positif dan kenaikan trade balance Eropa.

Sementara rilis data trade balance Italia dan penjualan ritel Inggris mengalami pelemahan. Pelaku pasar juga berharap positif dengan pertemuan para Menkeu G20 di Moscow untuk membahas nilai tukar valas agar tidak terjadi currency war.

Bursa saham AS variatif cenderung melemah dengan aksi wait and see pelaku pasar terhadap hasil pertemuan G20. Rilis kenaikan NY Empire State Manufacturing Index dan consumer sentiment sempat membuat pasar positif, namun hanya sesaat.

Selain terhadap pertemuan G20, pelaku pasar juga mencermati langkah parlemen AS yang menghadapi tenggat waktu untuk menyepakati kesepakatan menghindari pemotongan anggaran.

Senat Demokrat mengumumkan rencana USD110 miliar untuk menunda pemotongan pengeluaran pemerintah federal, termasuk kenaikan pajak yang kemungkinan ditolak kubu Republik yang sebelumnya sudah mengatakan mereka tidak akan menerima.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Skenario IHSG untuk...
Skenario IHSG untuk Bertahan di Level 6.300
Rilis Neraca Dagang...
Rilis Neraca Dagang Pengaruhi Pergerakan IHSG Hari Ini
IHSG Akhir Pekan Dibuka...
IHSG Akhir Pekan Dibuka Merayap, Naik Tipis 5,30 Poin
Investor Asing Tak Lagi...
Investor Asing Tak Lagi Borong Saham, IHSG jadi Loyo
Ada Peluang IHSG Terkoreksi...
Ada Peluang IHSG Terkoreksi Hari Ini, Bergerak Terbatas 6.123-6.288
Seharian Bergeming di...
Seharian Bergeming di Zona Hijau, IHSG Ditutup Naik ke 6.289
Berita Terkini
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
7 jam yang lalu
Laporan Menkop ke Prabowo:...
Laporan Menkop ke Prabowo: 15.845 Koperasi Merah Putih Sudah Berdiri, 19 Ribu Masih Dibangun
8 jam yang lalu
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
11 jam yang lalu
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
12 jam yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
13 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
14 jam yang lalu
Infografis
Rentetan Kasus Korupsi...
Rentetan Kasus Korupsi di Jateng: Tiga Bupati Terjaring KPK pada Awal 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved