Lemah dukungan global, IHSG akan terkoreksi
Jum'at, 22 Februari 2013 - 08:13 WIB
Lemah dukungan global, IHSG akan terkoreksi
A
A
A
Sindonews.com - Potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mewarnai perdagangan pada hari ini imbas dari melemahnya sentimen global yang ada.
"Pada perdagangan Jumat (21/2) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4613-4622 dan resistance 4662-4670," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jumat (22/2/2013).
Berpola menyerupai shooting star di bawah upper bollinger bands (UBB). MACD naik tipis dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali downreversal di atas area overbought.
Tentunya dengan asumsi masih terjaga sentimen positif di pasar, kondisi bursa saham global yang cenderung di area overbought berpotensi mengalami pelemahan dan nantinya akan berimbas pada IHSG.
"Untuk itu, tetap waspadai bila sinyal downreversal mulai ada yang berpotensi membawa IHSG menuju area support-nya," imbuh dia.
Pada perdagangan sebelumnya, pelemahan hampir mayoritas bursa saham Asia membuat laju IHSG terhambat yang pada akhirnya harus berakhir di teritori negatif.
Padahal di awal sesi sempat menghijau namun, tidak bertahan lama. Pelaku pasar di awal sesi kemungkinan masih berharap bawah IHSG masih dapat menguat kembali namun, ternyata tidak didukung dengan volume perdagangan sehingga IHSG kembali berbalik menjadi negatif.
Tak ketinggalan, aksi tunggu pelaku pasar terhadap jadi tidaknya RUPS Bumi Plc membuat pasar cenderung mengalami pelemahan. Negatifnya pembukaan pasar saham Eropa jelang keputusan stimulus The Fed turut berimbas negatif pada IHSG.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.656,13 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.617,57 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.632,40," papar dia.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi menurun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah rebound tipis setelah pelaku pasar merespon kenaikan survey bisnis Perancis dan price producer index Jerman.
Tak ketinggalan, rilis penurunan klaim pengangguran Inggris sempat berikan sentimen positif. Akan tetapi, laju apresiasi rupiah mulai tertahan dengan sentimen negatif dari The Fed yang melalui rilis notula FOMC menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak negatif dari tingginya stimulus moneter dari The Fed.
Selain itu, Notula FOMC juga menunjukkan adanya keinginan dari beberapa petinggi The Fed untuk menghentikan program pembelian obligasi sebelum kondisi tenaga kerja AS mengalami perbaikan yang signifikan sehingga membuat pasar semakin khawatir akan potensi pengetatan moneter dari The Fed.
Belum lagi dari penurunan data-data indeks manufaktur di sejumlah wilayah Eropa sehingga makin menekan Euro hingga akhir sesi.
"Bursa saham Asia melemah setelah beredar kabar banyaknya pembatasan pada industri properti akan melemahkan permintaan akan pinjaman perbankan dan bahan-bahan bangunan. Di sisi lain, hasil pertemuan FOMC The Fed yang bernada pembatasan stimulus dan kemungkinan akan semakin ketatnya kebijakan moneter China turut berimbas negatif," tutur Reza.
"Pada perdagangan Jumat (21/2) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4613-4622 dan resistance 4662-4670," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jumat (22/2/2013).
Berpola menyerupai shooting star di bawah upper bollinger bands (UBB). MACD naik tipis dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali downreversal di atas area overbought.
Tentunya dengan asumsi masih terjaga sentimen positif di pasar, kondisi bursa saham global yang cenderung di area overbought berpotensi mengalami pelemahan dan nantinya akan berimbas pada IHSG.
"Untuk itu, tetap waspadai bila sinyal downreversal mulai ada yang berpotensi membawa IHSG menuju area support-nya," imbuh dia.
Pada perdagangan sebelumnya, pelemahan hampir mayoritas bursa saham Asia membuat laju IHSG terhambat yang pada akhirnya harus berakhir di teritori negatif.
Padahal di awal sesi sempat menghijau namun, tidak bertahan lama. Pelaku pasar di awal sesi kemungkinan masih berharap bawah IHSG masih dapat menguat kembali namun, ternyata tidak didukung dengan volume perdagangan sehingga IHSG kembali berbalik menjadi negatif.
Tak ketinggalan, aksi tunggu pelaku pasar terhadap jadi tidaknya RUPS Bumi Plc membuat pasar cenderung mengalami pelemahan. Negatifnya pembukaan pasar saham Eropa jelang keputusan stimulus The Fed turut berimbas negatif pada IHSG.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.656,13 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.617,57 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.632,40," papar dia.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi menurun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah rebound tipis setelah pelaku pasar merespon kenaikan survey bisnis Perancis dan price producer index Jerman.
Tak ketinggalan, rilis penurunan klaim pengangguran Inggris sempat berikan sentimen positif. Akan tetapi, laju apresiasi rupiah mulai tertahan dengan sentimen negatif dari The Fed yang melalui rilis notula FOMC menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak negatif dari tingginya stimulus moneter dari The Fed.
Selain itu, Notula FOMC juga menunjukkan adanya keinginan dari beberapa petinggi The Fed untuk menghentikan program pembelian obligasi sebelum kondisi tenaga kerja AS mengalami perbaikan yang signifikan sehingga membuat pasar semakin khawatir akan potensi pengetatan moneter dari The Fed.
Belum lagi dari penurunan data-data indeks manufaktur di sejumlah wilayah Eropa sehingga makin menekan Euro hingga akhir sesi.
"Bursa saham Asia melemah setelah beredar kabar banyaknya pembatasan pada industri properti akan melemahkan permintaan akan pinjaman perbankan dan bahan-bahan bangunan. Di sisi lain, hasil pertemuan FOMC The Fed yang bernada pembatasan stimulus dan kemungkinan akan semakin ketatnya kebijakan moneter China turut berimbas negatif," tutur Reza.
(rna)
Lihat Juga :