IHSG diprediksi akan lanjutkan pelemahan
Rabu, 27 Februari 2013 - 08:02 WIB
IHSG diprediksi akan lanjutkan pelemahan
A
A
A
Sindonews.com - Pada perdagangan Rabu (27/2) diperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada pada support 4.646-4.668 dan resistance 4.708-4.715. Dengan potensi pelemahan yang masih akan terjadi.
Demikian diasampaikan Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Rabu (27/2/2013).
IHSG, kata Reza, tampak berpola kembali menyerupai hammer di bawah upper bollinger bands (UBB). MACD tertahan kenaikannya dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai tertahan di atas area overbought.
"Penurunan hingga di bawah target support 1 kami di 4.668 membuat khawatir IHSG akan semakin menjauhi target level psikologis di 4.700. Potensi pelemahan lanjutan pun akan terbuka jika tidak ada sentimen positif yang mampu menahan penurunan tersebut," kata Reza.
Pada perdagangan kemarin, seperti perkiraan sebelumnya dimana perlu kiranya memperhatikan potensi downreversal dan terlihat bahwa IHSG mulai mengalami kondisi tersebut pada perdagangan Selasa(26/2).
Gencarnya pemberitaan langkah pemerintah China yang akan membatasi pertumbuhan kredit sektor properti hingga pemilu di Italia memberikan dampak negatif secara psikologis kepada pelaku pasar global yang juga mempengaruhi laju IHSG.
Reli panjang IHSG pun terpaksa berhenti dan dimanfaatkan untuk profit taking sejenak sembari menunggu kabar selanjutnya. Pembukaan pasar Eropa yang negatif makin menambah sentimen negatif bagi IHSG.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.685,00 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.646,59 (level t erendahnya) di akhir sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.663,03," papar Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi menurun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah menguat seiring dengan spekulasi pidato The Fed pada (26/2) malam WIB yang kemungkinan masih akan mempertahankan kebijakan bond buying programnya untuk lebih memulihkan kondisi ekonomi AS.
Selain itu, dengan anjuran dari BI kepada para eksportir untuk menempatkan dana hasil ekspornya di dalam negeri. Tetapi, apresiasi ini tertahan oleh sentimen dari pemilu di Italia yang kemungkinan akan berlangsung 2 putaran karena memunculkan spekulasi partai-partai anti penghematan akan menang.
"Bursa saham Asia negatif terimbas pelemahan bursa saham AS yang merespon hasil pemilu Italia yang dikhawatirkan akan mengganggu jalannya reformasi ekonomi negara tersebut ke depannya serta beredarnya spekulasi pemerintah China akan mempercepat pembatasan industri properti pada pertemuan legislatif pekan depan," tutur dia.
Demikian diasampaikan Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Rabu (27/2/2013).
IHSG, kata Reza, tampak berpola kembali menyerupai hammer di bawah upper bollinger bands (UBB). MACD tertahan kenaikannya dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai tertahan di atas area overbought.
"Penurunan hingga di bawah target support 1 kami di 4.668 membuat khawatir IHSG akan semakin menjauhi target level psikologis di 4.700. Potensi pelemahan lanjutan pun akan terbuka jika tidak ada sentimen positif yang mampu menahan penurunan tersebut," kata Reza.
Pada perdagangan kemarin, seperti perkiraan sebelumnya dimana perlu kiranya memperhatikan potensi downreversal dan terlihat bahwa IHSG mulai mengalami kondisi tersebut pada perdagangan Selasa(26/2).
Gencarnya pemberitaan langkah pemerintah China yang akan membatasi pertumbuhan kredit sektor properti hingga pemilu di Italia memberikan dampak negatif secara psikologis kepada pelaku pasar global yang juga mempengaruhi laju IHSG.
Reli panjang IHSG pun terpaksa berhenti dan dimanfaatkan untuk profit taking sejenak sembari menunggu kabar selanjutnya. Pembukaan pasar Eropa yang negatif makin menambah sentimen negatif bagi IHSG.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.685,00 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.646,59 (level t erendahnya) di akhir sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.663,03," papar Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi menurun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah menguat seiring dengan spekulasi pidato The Fed pada (26/2) malam WIB yang kemungkinan masih akan mempertahankan kebijakan bond buying programnya untuk lebih memulihkan kondisi ekonomi AS.
Selain itu, dengan anjuran dari BI kepada para eksportir untuk menempatkan dana hasil ekspornya di dalam negeri. Tetapi, apresiasi ini tertahan oleh sentimen dari pemilu di Italia yang kemungkinan akan berlangsung 2 putaran karena memunculkan spekulasi partai-partai anti penghematan akan menang.
"Bursa saham Asia negatif terimbas pelemahan bursa saham AS yang merespon hasil pemilu Italia yang dikhawatirkan akan mengganggu jalannya reformasi ekonomi negara tersebut ke depannya serta beredarnya spekulasi pemerintah China akan mempercepat pembatasan industri properti pada pertemuan legislatif pekan depan," tutur dia.
(rna)
Lihat Juga :