Lima sumber tekanan terhadap prospek ekonomi RI
Senin, 18 Maret 2013 - 11:22 WIB
Lima sumber tekanan terhadap prospek ekonomi RI
A
A
A
Sindonews.com - Bank Dunia mencatat ada tekanan kebijakan ekonomi domestik, sehingga berpotensi mengganggu laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kokoh selama tiga bulan pertama tahun ini.
"Ketahanan ekonomi telah menjadi kekuatan Indonesia di tengah pelemahan ekonomi Dunia. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan lebih tinggi lagi," terang Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle dalam acara World Bank’s Indonesia Economic Quarterly Report di Kampus Pasca Sarjana Universitas Paramadina, Jakarta, Senin (18/3/2013).
Menurut dia, dengan kondisi saat ini, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 6,2 persen pada tahun 2013, setelah PDB pada 2012 tumbuh sebesar 6,2 persen atau sedikit lebih rendah dari tahun 2011 yang sebesar 6,5 persen.
"Tetapi meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tentu akan diikuti dengan tantangan yang juga terus meningkat," sambung dia.
Dalam catatan kuartalannya, Bank Dunia menyoroti lima sumber tekanan terhadap prospek ekonomi. Kelima sumber itu adalah perlambatan pertumbuhan investasi, kemungkinan implikasi dari perlambatan penjualan riil dan pertumbuhan PDB nominal, tren-tren pada neraca eksternal, berlanjutnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan lambatnya laju penurunan kemiskinan.
Menurutnya, risiko terbesar pada pertumbuhan jangka pendek berasal dari investasi luar negeri, yang memberi kontribusi sekitar dua perlima atau 40 persen dari pertumbuhan pada 2012.
"Pertumbuhan investasi tetap (fixed investment pada kuartal III ini) turun ke 7,3 persen secara tahun ke tahun dibanding kuartal III tahun 2012, turun dari 12,5 persen pada kuartal II dan impor barang modal telah melemah. Meningkatkan kepastian peraturan dan kebijakan dapat membantu iklim investasi," tutur dia.
Sementara, faktor lain yang juga dianggap sebagai faktor paling berpotensi meningkatkan tekanan fiskal adalah beban subsidi BBM, sehingga perlu ada kebijakan yang tegas dan konsisten untuk menghadapai potensi hambatan tersebut.
"Tanggapan kebijakan yang sesuai terhadap tekanan dapat mencakup peningkatan investasi infrastruktur publik dan penekanan kepada daya saing perdagangan dan juga reformasi subsidi BBM," imbuh Stefan.
"Ketahanan ekonomi telah menjadi kekuatan Indonesia di tengah pelemahan ekonomi Dunia. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan lebih tinggi lagi," terang Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle dalam acara World Bank’s Indonesia Economic Quarterly Report di Kampus Pasca Sarjana Universitas Paramadina, Jakarta, Senin (18/3/2013).
Menurut dia, dengan kondisi saat ini, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 6,2 persen pada tahun 2013, setelah PDB pada 2012 tumbuh sebesar 6,2 persen atau sedikit lebih rendah dari tahun 2011 yang sebesar 6,5 persen.
"Tetapi meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tentu akan diikuti dengan tantangan yang juga terus meningkat," sambung dia.
Dalam catatan kuartalannya, Bank Dunia menyoroti lima sumber tekanan terhadap prospek ekonomi. Kelima sumber itu adalah perlambatan pertumbuhan investasi, kemungkinan implikasi dari perlambatan penjualan riil dan pertumbuhan PDB nominal, tren-tren pada neraca eksternal, berlanjutnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan lambatnya laju penurunan kemiskinan.
Menurutnya, risiko terbesar pada pertumbuhan jangka pendek berasal dari investasi luar negeri, yang memberi kontribusi sekitar dua perlima atau 40 persen dari pertumbuhan pada 2012.
"Pertumbuhan investasi tetap (fixed investment pada kuartal III ini) turun ke 7,3 persen secara tahun ke tahun dibanding kuartal III tahun 2012, turun dari 12,5 persen pada kuartal II dan impor barang modal telah melemah. Meningkatkan kepastian peraturan dan kebijakan dapat membantu iklim investasi," tutur dia.
Sementara, faktor lain yang juga dianggap sebagai faktor paling berpotensi meningkatkan tekanan fiskal adalah beban subsidi BBM, sehingga perlu ada kebijakan yang tegas dan konsisten untuk menghadapai potensi hambatan tersebut.
"Tanggapan kebijakan yang sesuai terhadap tekanan dapat mencakup peningkatan investasi infrastruktur publik dan penekanan kepada daya saing perdagangan dan juga reformasi subsidi BBM," imbuh Stefan.
(rna)
Lihat Juga :