Royalti pemegang IUP batu bara akan dinaikkan

Senin, 29 April 2013 - 09:24 WIB
Royalti pemegang IUP...
Royalti pemegang IUP batu bara akan dinaikkan
A A A
Sindonews.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah mengkaji kenaikan royalty batu bara bagi perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP). Kenaikan tersebut akan disesuaikan dengan kualitas batu bara yang dihasilkan.

Pelaksana tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, kenaikan royalty tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan keadilan antara perusahaan pemegang IUP dan perusahaan pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B).

Sebagai informasi, royalty batu bara bagi perusahaan pemegang PKP2B ditetapkan sebesar 13,5 persen sementara perusahaan pemegang IUP maksimal 7 persen.

“Kalau yang PKP2B sudah tinggi. Justru yang non-PKP2B sedang kita adjust supaya fair-lah dengan PKP2B. (Tapi) kita juga menghitung kualitas batu baranya. Ada yang high calorie dan ada yang low calorie. Yang high calorie (royaltinya) PKP2B memang sudah pas,” tutur Bambang di kantornya, akhir pekan kemarin.

Bambang mengingatkan tidak semua jenis batu bara dikenai royalty 13 persen karena jumlah tersebut relatif tinggi. “Yang sekarang juga mungkin terlalu rendah,” ucapnya.

Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) tersebut menjelaskan, upaya untuk menaikan royalty batu bara sudah dibahas di lintas kementerian. Namun, dia mengungkapkan pemerintah belum membahas lebih lanjut mengenai bea keluar (BK) batu bara. “Pokoknya kita sudah bahas antar kementerian. Royalti dulu (baru BK),” imbuhnya.

Terkait hal yang sama, Plt Menteri Keuangan Hatta Rajasa berharap perusahaan pemegang IUP bisa sepatuh mereka yang berstatus PKP2B dalam membayar kenaikan royalty, jika nantinya keputusan terkait royalti sudah ditetapkan. Terlebih, Menko Perekonomian tersebut mengingatkan banyak perusahaan pemegang IUP tidak taat bayar pajak.

“Sebagian besar perusahaan pemegang IUP saat ini tidak seperti itu (taat). Tidak bayar pajak, mengeruk (kekayaan) rusak tinggal pindah tempat lain. Di samping lingkungan kita rusak, pajak juga tidak maksimal,” tandas Hatta.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pentingnya Rumah Susun...
Pentingnya Rumah Susun Lebih Luas untuk Keluarga Muda
Warga Minta Perbaikan...
Warga Minta Perbaikan Rusun Bidara Cina yang Terabaikan Sejak 1995
Pemprov DKI Gratiskan...
Pemprov DKI Gratiskan Retribusi Rusun Selama Pandemi Covid-19
Serah Terima Kunci Rusun...
Serah Terima Kunci Rusun untuk Penghuni Kolong Tol
Rumah susun Pasar Rumput...
Rumah susun Pasar Rumput Disiapkan untuk Pasien Covid-19
Protes Penggolongan...
Protes Penggolongan Air Bersih PAM Jaya, Ribuan Warga Rusun Gelar Aksi Damai di Balai Kota Jakarta
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
7 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
7 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
8 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
8 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
8 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
8 jam yang lalu
Infografis
Negara NATO Ini Klaim...
Negara NATO Ini Klaim akan Diinvasi Rusia dalam Beberapa Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved