Harga minyak tergelincir sebelum angka payrolls

Jum'at, 05 April 2013 - 19:13 WIB
Harga minyak tergelincir...
Harga minyak tergelincir sebelum angka payrolls
A A A
Sindonews.com - Harga minyak global turun akibat para pedagang menunggu data kunci di tengah kekhawatiran yang sedang berlangsung terhadap ekonomi AS dan tingginya pasokan di negara konsumen minyak mentah dunia.

Dilansir dari Global Post, Jumat (5/4/2013), Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei turun 37 sen menjadi USD105,97 per barel pada perdagangan di London. Sementara kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) light sweet crude untuk Mei, memberi kembali 36 sen menjadi USD92,90 per barel.

Minyak mentah berjangka telah merosot sejak kemarin menyusul kenaikan tak terduga klaim pengangguran AS, dan setelah langkah-langkah stimulus agresif dari Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ).

Brent merosot ke posisi terendah dalam lima bulan USD105,29, sedangkan minyak mentah New York menyentuh level terendah dalam dua minggu USD92,15. Kemudian pada hari Jumat (waktu Eropa) semua mata akan berada di Non-Farm Payrolls (NFP).

"Karena banyak atribut pelaku pasar geser pekan ini dengan harga minyak mentah yang lebih lemah, perhatian kemungkinan akan dibayarkan kepada angka pasar tenaga kerja," kata analis dari Commerzbank, Carsten Fritsch.

"Harapan telah terasa diperkecil menjelang publikasi mereka, sehingga setiap kejutan positif akan memberikan dukungan bagi harga minyak," tambahnya.

Data NFP sangat penting bagi pasar keuangan internasional karena memberikan petunjuk penting tentang kesehatan ekonomi negara terbesar di dunia itu. Departemen Tenaga Kerja AS akan merilis data pekerja dan melaporkan pengangguran, di mana sebagian besar analis telah memproyeksikan pertumbuhan 192.000 pada Maret 2013, turun dari Februari 236.000. Tingkat pengangguran diperkirakan akan tetap di 7,7 persen untuk bulan kedua berturut-turut.

Diketahui, harga dipengaruhi sekitar USD3 per barel pada Rabu (3/4/2013), setelah Administrasi Informasi Energi pemerintah AS mengungkapkan, bahwa cadangan minyak mentah AS naik 2,7 juta barel menjadi 388,6 juta barel. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari ekspektasi pasar untuk kenaikan sebesar 1,5 juta barel.

Berita itu juga mengirim jumlah saham ke level tertinggi sejak Juli 1990. Naiknya persediaan AS sinyal sebagai melemahnya permintaan dan cenderung menempatkan tekanan pada harga.

Penutupan pipa ExxonMobil Pegasus di Arkansas, dengan garis 95,000 barel per hari, juga telah memicu kekhawatiran penumpukan stok di Cushing, Oklahoma, yang merupakan titik kunci pengiriman.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Stok Seret Bikin Harga...
Stok Seret Bikin Harga Minyak Mentah Dunia Terkerek Naik
Amerika Buka Pembatasan,...
Amerika Buka Pembatasan, Harga Minyak Akan Terus Naik
Harga Minyak Ambrol...
Harga Minyak Ambrol 9% dalam Sepekan, Minggu Depan Gimana?
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Dunia Melayang Dekati Posisi USD70 Per Barel
OPEC Bakal Jaga Harga...
OPEC Bakal Jaga Harga Minyak Mentah Dunia di Posisi USD70 per Barel
Tumbuh 173%, Komoditas...
Tumbuh 173%, Komoditas Minyak Mentah Jadi Primadona di 2021
Berita Terkini
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
1 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
3 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
3 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
4 jam yang lalu
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
5 jam yang lalu
Selat Hormuz Dikunci...
Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
7 jam yang lalu
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved