Pemerintah diminta waspada tekanan fundamental makroekonomi

Jum'at, 19 April 2013 - 12:58 WIB
Pemerintah diminta waspada...
Pemerintah diminta waspada tekanan fundamental makroekonomi
A A A
Sindonews.com - Wakil Ketua DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan, Mohammad Sohibul Iman meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk waspada dengan hal-hal yang menekan fundamental makroekonomi.

“Fundamental makroekonomi kita akhir-akhir ini terlihat tertekan. Saya minta pemerintah lebih waspada mencermati dan mengantisipasi segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Saya berharap, tekanan-tekanan ini jangan sampai berkembang lebih lanjut dan menjadi pemicu terjadinya krisis yang tidak kita inginkan,” ujar Sohibul dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/4/2013).

Menurut politisi PKS ini, tekanan-tekanan ini bisa dilihat dari beberapa indikator penting makroekonomi. “Nilai tukar rupiah sepanjang 2012 melemah sekitar 6,7 persen, dan menjadi salah satu mata uang yang paling buruk performanya di kawasan Asia. Hingga saat ini, rupiah masih bertengger disekitar Rp9.700 per USD. Angka ini meleset dari target yang ditetapkan, yakni Rp9.300 per USD” ujarnya.

Sohibul menjelaskan, keseimbangan eksternal juga sangat tertekan. Di sepanjang 2012, untuk pertama kalinya sejak tahun 1961 mengalami defisit transaksi berjalan hingga mencapai USD24,2 miliar atau sekitar 2,7 persen dari PDB. Surplusnya neraca pembayaran 2012, karena transaksi berjalan masih tertolong derasnya arus modal yang masuk akibat ekses likuiditas negara-negara maju.

"Namun di 2013, defisit transaksi berjalan akan terus tertekan. Hal ini karena neraca perdagangan terus defisit. Kondisi ini akan mendorong neraca pembayaran kita di kuartal I/2013 menjadi defisit, mengingat arus modal yang masuk juga terus mengalami penurunan,” julasnya.

Menurut Doktor lulusan Japan Advanced Institute of Science and Technology ini, tekanan juga semakin menguat di sisi anggaran, inflasi dan utang swasta.

“Defisit anggaran kita terus meningkat seiring peningkatan konsumsi kuota subsidi BBM yang tidak terbendung. Jika tidak ada penyesuaian harga, kuota diperkirakan jebol hingga mencapai 49 juta kilo liter dan ini akan menekan fiscal sustainability kita.

Di sisi inflasi, tekanan sudah terlihat menguat. Inflasi periode Januari-Maret 2013 sudah mencapai 2,43 persen, angka ini jauh melampaui inflasi pada periode yang sama di 2012 dan 2011 yang masing-masing hanya mencapai 0,88 persen dan 0,7 persen.

"Utang swasta juga mengkhawatirkan, rasionya sudah mencapai sekitar 30 persen dari PDB, padahal utang pemerintah hanya sekitar 25 persen dari PDB,” tutupnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
14 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
53 menit yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
1 jam yang lalu
Kepercayaan Konsumen...
Kepercayaan Konsumen Antarkan KARA Raih Empat Penghargaan IOB Award 2026
1 jam yang lalu
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
1 jam yang lalu
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Risiko Investasi Reksa Dana sebelum Mulai Berinvestasi
1 jam yang lalu
Infografis
Waspada! 4 Makanan Ini...
Waspada! 4 Makanan Ini Bisa Picu Kesemutan di Tangan dan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved