Keuangan dan konsumsi topang kenaikan IHSG
Minggu, 21 April 2013 - 18:52 WIB
Keuangan dan konsumsi topang kenaikan IHSG
A
A
A
Sindonews.com - Pencapaiaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada level 5.000 dalam empat bulan pertama cukup mengejutkan. Hal ini karena level tersebut merupakan target sepanjang tahun dari para analis.
Namun, sebagian analis masih menilai pencapaian tersebut cukup mendasar. Karena dukungan fundamental ekonomi dan ekspektasi positif kondisi perekonomian kedepan baik global maupun domestik.
Analis PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, pencapaian IHSG pada level 5.023 mencatatkan pertumbuhan sebesar 16 persen (YtD). Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 13 persen (YoY).
Secara sektoral, saham-saham di sektor properti kontruksi tumbuh paling tinggi sebesar 43 persen, diikuti sektor keuangan (perbankan) sebesar 22 persen. Selanjutnya, terdapat sektor perdagangan jasa (19,6%), sektor industri dasar sebesar (18,5%), dan sektor infrastruktur dan barang konsumsi masing-masing sebesar 17,5 persen dan 14,6 persen.
"Kontribusi terbesar bagi pertumbuhan IHSG berasal dari sektor Keuangan sebesar 16 persen. Sektor barang konsumsi memberikan kontribusi 50 persen lebih," ujar Alfred, Minggu (21/4/2013).
Menurutnya, penguatan yang signifikan secara sektoral membuat kenaikan IHSG cukup rasional. Pelaku pasar lebih memilih sektor dengan kinerja emiten yang mampu memanfaatkan pertumbuhan di sektor tersebut. Misalnya, sektor properti yang secara keseluruhan saham-sahamnya telah naik 43 persen sejak awal tahun (YtD).
Jika melihat kinerja emiten properti pada 2012 dengan kisaran laba bersihnya mampu tumbuh di atas 50 persen, tentu kenaikan saham sebesar 43 persen itu sangat beralasan. Apalagi dengan pencapaian pada kuartal pertama 2013, emiten properti masih mencatat kinerja marketing sales yang cukup kuat. "Hal ini akan semakin mendukung ekspektasi berlanjutnya hasil laba emiten properti," ujarnya.
Secara historis, lanjut dia, pertumbuhan IHSG yang mencapai 16 persen bukan hal yang terlalu mengagumkan, jika dibandingkan penguatan sepanjang 2010 sebesar 46 persen atau 87 persen pada 2009. Pertumbuhan ekonomi yang selalu berada di atas 6 persen dalam tiga tahun terakhir di tengah krisis AS dan Eropa menjadi alasan fundamental yang menjelaskan kenaikan IHSG sampai saat ini.
Alfred menjelaskan, kenaikan IHSG tersebut merupakan apresiasi dari pencapaian saat ini dan pencapaiaan kedepan. Pencapaiaan saat ini seperti kinerja ekonomi makro pada 2012 dan pencapaiaan pertumbuhan laba emiten 2012. Sementara, pencapaiaan kedepan adalah hasil kinerja emiten kuartal pertama yang dapat menjadi dasar proyeksi kinerja 2013.
Dari sisi makro, penurunan yield surat hutang negara menjadi benchmark menurunnya risk country dimata para investor luar. Hal yang terbaru kebijakan pemerintah untuk menaikan harga BBM bersubsidi atau mengurangi beban subsidi BBM ikut menjadi katalis positif bagi kondisi APBN 2013. "Hal ini dapat menjelaskan kenaikan IHSG menembus level 5.000," ucapnya,
Namun, sebagian analis masih menilai pencapaian tersebut cukup mendasar. Karena dukungan fundamental ekonomi dan ekspektasi positif kondisi perekonomian kedepan baik global maupun domestik.
Analis PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, pencapaian IHSG pada level 5.023 mencatatkan pertumbuhan sebesar 16 persen (YtD). Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 13 persen (YoY).
Secara sektoral, saham-saham di sektor properti kontruksi tumbuh paling tinggi sebesar 43 persen, diikuti sektor keuangan (perbankan) sebesar 22 persen. Selanjutnya, terdapat sektor perdagangan jasa (19,6%), sektor industri dasar sebesar (18,5%), dan sektor infrastruktur dan barang konsumsi masing-masing sebesar 17,5 persen dan 14,6 persen.
"Kontribusi terbesar bagi pertumbuhan IHSG berasal dari sektor Keuangan sebesar 16 persen. Sektor barang konsumsi memberikan kontribusi 50 persen lebih," ujar Alfred, Minggu (21/4/2013).
Menurutnya, penguatan yang signifikan secara sektoral membuat kenaikan IHSG cukup rasional. Pelaku pasar lebih memilih sektor dengan kinerja emiten yang mampu memanfaatkan pertumbuhan di sektor tersebut. Misalnya, sektor properti yang secara keseluruhan saham-sahamnya telah naik 43 persen sejak awal tahun (YtD).
Jika melihat kinerja emiten properti pada 2012 dengan kisaran laba bersihnya mampu tumbuh di atas 50 persen, tentu kenaikan saham sebesar 43 persen itu sangat beralasan. Apalagi dengan pencapaian pada kuartal pertama 2013, emiten properti masih mencatat kinerja marketing sales yang cukup kuat. "Hal ini akan semakin mendukung ekspektasi berlanjutnya hasil laba emiten properti," ujarnya.
Secara historis, lanjut dia, pertumbuhan IHSG yang mencapai 16 persen bukan hal yang terlalu mengagumkan, jika dibandingkan penguatan sepanjang 2010 sebesar 46 persen atau 87 persen pada 2009. Pertumbuhan ekonomi yang selalu berada di atas 6 persen dalam tiga tahun terakhir di tengah krisis AS dan Eropa menjadi alasan fundamental yang menjelaskan kenaikan IHSG sampai saat ini.
Alfred menjelaskan, kenaikan IHSG tersebut merupakan apresiasi dari pencapaian saat ini dan pencapaiaan kedepan. Pencapaiaan saat ini seperti kinerja ekonomi makro pada 2012 dan pencapaiaan pertumbuhan laba emiten 2012. Sementara, pencapaiaan kedepan adalah hasil kinerja emiten kuartal pertama yang dapat menjadi dasar proyeksi kinerja 2013.
Dari sisi makro, penurunan yield surat hutang negara menjadi benchmark menurunnya risk country dimata para investor luar. Hal yang terbaru kebijakan pemerintah untuk menaikan harga BBM bersubsidi atau mengurangi beban subsidi BBM ikut menjadi katalis positif bagi kondisi APBN 2013. "Hal ini dapat menjelaskan kenaikan IHSG menembus level 5.000," ucapnya,
(izz)
Lihat Juga :