Minyak di Asia tertekan data manufaktur China
Selasa, 04 Juni 2013 - 10:41 WIB
Minyak di Asia tertekan data manufaktur China
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak di perdagangan Asia hari ini turun, akibat aktivitas manufaktur China lemah, sebagai tanda pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia itu melambat.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli turun 34 sen menjadi USD93,11 per barel. Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli merosot empat sen menjadi USD102,02.
"Hasil ekonomi di China menempatkan tekanan pada harga," kata Victor Shum, managing director IHS Purvin and Gertz, Singapura seperti dilansir dari Cebu Daily News, Selasa (4/6/2013).
"Perekonomian China mungkin mendingin, dan ini telah memicu kekhawatiran terhadap permintaan," tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, raksasa perbankan global, HSBC melaporkan pembacaan aktivitas manufaktur China menyusut lebih dari proyeksi awal pada Mei lalu, menegaskan kontraksi pertama dalam tujuh bulan.
Indeks manajer pembelian (PMI) HSBC pada Mei datang di angka 49,2, terendah selama delapan bulan dan lebih buruk dari 49,6 pada awal pengumuman 23 Mei 2013. Di mana angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.
Pertumbuhan di China diharapkan dapat mengimbangi ekonomi negara-negara Eropa, yang diawasi ketat pasar karena mempengaruhi harga minyak dunia.
Desmond Chua, analis pasar dari CMC Markets Singapura mengatakan, melemahnya manufaktur China menyoroti kekhawatiran bahwa usaha kecil dan menengah menderita di pasar ekspor volatile.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli turun 34 sen menjadi USD93,11 per barel. Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli merosot empat sen menjadi USD102,02.
"Hasil ekonomi di China menempatkan tekanan pada harga," kata Victor Shum, managing director IHS Purvin and Gertz, Singapura seperti dilansir dari Cebu Daily News, Selasa (4/6/2013).
"Perekonomian China mungkin mendingin, dan ini telah memicu kekhawatiran terhadap permintaan," tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, raksasa perbankan global, HSBC melaporkan pembacaan aktivitas manufaktur China menyusut lebih dari proyeksi awal pada Mei lalu, menegaskan kontraksi pertama dalam tujuh bulan.
Indeks manajer pembelian (PMI) HSBC pada Mei datang di angka 49,2, terendah selama delapan bulan dan lebih buruk dari 49,6 pada awal pengumuman 23 Mei 2013. Di mana angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.
Pertumbuhan di China diharapkan dapat mengimbangi ekonomi negara-negara Eropa, yang diawasi ketat pasar karena mempengaruhi harga minyak dunia.
Desmond Chua, analis pasar dari CMC Markets Singapura mengatakan, melemahnya manufaktur China menyoroti kekhawatiran bahwa usaha kecil dan menengah menderita di pasar ekspor volatile.
(dmd)
Lihat Juga :