China balas selidiki dumping anggur Eropa

Rabu, 05 Juni 2013 - 11:44 WIB
China balas selidiki...
China balas selidiki dumping anggur Eropa
A A A
Sindonews.com - Kementerian Perdagangan China menyatakan, Beijing telah mulai melakukan penyelidikan anti-dumping terhadap anggur Eropa, setelah Uni Eropa memberlakukan tarif impor panel surya. Situasi ini memperluas sengketa perdagangan kedua belah pihak.

"Pemerintah China telah memulai prosedur penyelidikan anti-dumping dan anti-subsidi terhadap anggur dari Uni Eropa," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China, Shen Danyang dalam pernyataannya, seperti dilansir dari Bangkok Post, Rabu (5/6/2013).

China adalah mitra dagang terbesar kedua Uni Eropa. Langkah ini merupakan pelebaran masalah utama pada sengketa peralatan panel surya, telekomunikasi, bahan kimia dan pipa seamless.

Tidak ada angka yang tersedia untuk total ekspor anggur Uni Eropa ke China. Namun, pemasok terbesar anggur pada 2012 adalah Prancis, dengan 140 juta liter, senilai USD788 juta.

Kemarin, Komisi Eropa memberlakukan bea anti-dumping atas impor panel surya China, menentang oposisi yang dipimpin Jerman dan peringatan dari Beijing.

Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Karel De Gucht berdalih panel surya China dijual di bawah biaya pasar Eropa hingga 88 persen. Ini dinilai sebagai dumping yang merugikan industri panel surya Eropa.

Komisi akan memungut tarif rata-rata 11,8 persen, dan akan naik menjadi 47,6 persen pada 6 Agustus, tanpa melakukan negosiasi berdasarkan komitmen China untuk mengatasi masalah tersebut.

Shen menyatakan, China dengan tegas menentang langkah Uni Eropa. Tarif yang diberlakukan sebagai "pajak tidak adil terhadap China".

"Pemerintah China dan industri telah menunjukkan ketulusan yang besar dan membuat upaya dalam menyelesaikan masalah melalui dialog dan konsultasi. Kami berharap pihak Eropa akan menunjukkan ketulusan lebih lanjut, fleksibilitas dan menemukan solusi yang dapat diterima kedua belah pihak melalui konsultasi," ujarnya.

Shen menambahkan, sebagai mitra dagang terbesar kedua Uni Eropa, China bisa bergabung dalam upaya membantu menarik blok keluar dari resesi dengan kekuatan permintaan sangat besar.

"Tapi Uni Eropa terus menguji kesabaran dan keterbatasan China, situasi yang realistis bagi China untuk menerima. Proteksionisme di satu sisi pasti akan memicu proteksionisme di sisi lain," tegas Shen.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Transaksi Digital Melonjak,...
Transaksi Digital Melonjak, Visa Tekankan Pentingnya Pengelolaan Risiko
6 menit yang lalu
Peringati Hari Lingkungan...
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, BRI Dorong Sadar Budaya Kelola Sampah melalui Green Action BRI Peduli
13 menit yang lalu
Rupiah Ambruk Tembus...
Rupiah Ambruk Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pengusaha Ritel Sport Jantung
21 menit yang lalu
Lindungi Konsumen, Pakar...
Lindungi Konsumen, Pakar UI Ingatkan Dampak Paparan BPA Galon Guna Ulang
48 menit yang lalu
IHSG Kembali Babak Belur...
IHSG Kembali Babak Belur Siang Ini, Nyungsep 2,53% ke 5.692
1 jam yang lalu
Teknologi Fungisida...
Teknologi Fungisida Baru Syngenta Dukung Target Swasembada Beras
1 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved