Defisit neraca perdagangan harus terus diwaspadai

Senin, 08 Juli 2013 - 10:23 WIB
Defisit neraca perdagangan...
Defisit neraca perdagangan harus terus diwaspadai
A A A
Sindonews.com - Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah mengingatkan, meski masih belum pada tahap yang mengkhawatirkan, perlunya terus mewaspadai defisit neraca perdagangan yang masih membesar.

Hal ini disampaikan Firmanzah menanggapi pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu, di antaranya disebutkan bahwa defisit perdagangan Januari–Mei 2013 sudah mencapai USD2,53 miliar, sementara pada periode yang sama tahun lalu (2012) neraca perdagangan mencatat surplus USD1,52 miliar.

Mengurangi defisit perdagangan, kata Firmanzah, tentunya akan membantu meringankan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Namun diakuinya, sektor perdagangan masih relatif belum menemukan momentum yang ideal selain karena tekanan eksternal juga persoalan internal seperti proses industrialisasi dan pembangunan infrastruktur yang sedang berjalan.

Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu, guna mengerem laju defisit perdagangan perlu diterapkan strategi keterkaitan antara perdagangan, investasi dan industrialisasi sesegera mungkin.

“Bagi Indonesia, strategi keterkaitan antara perdagangan, investasi dan industrialisasi merupakan tiga pilar untuk mendorong ekonomi domestik lebih berdaya saing sekaligus resilient terhadap dampak krisis global,” tegas Firmanzah seperti dikutip dari laman Setkab, Senin (8/7/2013).

Ia menyebutkan, kekuatan ekonomi domestik dan daya beli masyarakat perlu diimbangi oleh kekuatan produksi nasional. Kalau tidak, maka pasar Indonesia akan mendapatkan serbuan produk impor dan membuat neraca perdagangan defisit.

Namun diakui Firmanzah, bahwa membangun dan memperkuat sistem produksi nasional membutuhkan investasi baik untuk pembangunan infrastruktur maupun di sektor riil. Perlu waktu agar infrastruktur yang terbangun dapat meningkatkan sistem produksi.

Selain itu juga, strategi industrialisasi dan hilirisasi yang saat ini berlangsung membutuhkan barang modal yang masih perlu di impor.

“Oleh karena itu, percepatan pembangunan infrastruktur untuk menopang investasi sektor riil dan industrialisasi perlu terus kita tingkatkan,” papar Firmanzah.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Neraca Perdagangan Indonesia...
Neraca Perdagangan Indonesia pada Januari 2025 Catat Surplus USD 3,45 Miliar
Neraca Perdagangan Agustus...
Neraca Perdagangan Agustus 2024 Surplus
Top! Surplus Neraca...
Top! Surplus Neraca Dagang Tertinggi Sejak 9 Tahun Terakhir
Januari - November 2020,...
Januari - November 2020, Neraca Perdagangan Jatim Defisit
Juara Lawan AS, Neraca...
Juara Lawan AS, Neraca Dagang RI Keok dengan Thailand
Neraca Perdagangan Surplus,...
Neraca Perdagangan Surplus, Pemerintah Respon Positif
Berita Terkini
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
37 menit yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
3 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
10 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
10 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
10 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
11 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved