Rupiah masih melemah
Rabu, 17 Juli 2013 - 16:20 WIB
Rupiah masih melemah
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari ketiga pekan ini masih melemah, dan berlawanan dengan posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore ini yang kembali menguat.
Posisi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Rabu (17/7/2013) kembali melemah 4 poin dari Rp10.036 per USD pada Selasa (16/7/2013) menjadi Rp10.040 per USD.
Sementara data Bloomberg mencatat bahwa kurs rupiah sore ini berada di level Rp10.045 per USD atau menguat dibanding penutupan kemarin di level Rp10.103 per USD.
Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik ditutup melemah 20 poin dari sebelumnya di level Rp10.015 per USD menjadi Rp10.035 per USD, dengan kisaran harian Rp10.045 per USD.
Head of Research & Analysis BNI, Nurul Eti Nurbaeti sebelumnya menuturkan bahwa fenomena pelemahan dolar atas major currency berpeluang mereduksi tekanan dolar di dalam negeri.
"Namun, berlanjutnya capital outflow dari bursa saham dalam negeri cenderung tidak mengurangi tingginya kebutuhan dolar di pasar valas domestik dan berpotensi menghambat apresiasi rupiah," kata dia dalam risetnya.
Posisi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Rabu (17/7/2013) kembali melemah 4 poin dari Rp10.036 per USD pada Selasa (16/7/2013) menjadi Rp10.040 per USD.
Sementara data Bloomberg mencatat bahwa kurs rupiah sore ini berada di level Rp10.045 per USD atau menguat dibanding penutupan kemarin di level Rp10.103 per USD.
Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik ditutup melemah 20 poin dari sebelumnya di level Rp10.015 per USD menjadi Rp10.035 per USD, dengan kisaran harian Rp10.045 per USD.
Head of Research & Analysis BNI, Nurul Eti Nurbaeti sebelumnya menuturkan bahwa fenomena pelemahan dolar atas major currency berpeluang mereduksi tekanan dolar di dalam negeri.
"Namun, berlanjutnya capital outflow dari bursa saham dalam negeri cenderung tidak mengurangi tingginya kebutuhan dolar di pasar valas domestik dan berpotensi menghambat apresiasi rupiah," kata dia dalam risetnya.
(rna)