Thailand catat kerugian harga dalam stok beras

Jum'at, 19 Juli 2013 - 13:46 WIB
Thailand catat kerugian...
Thailand catat kerugian harga dalam stok beras
A A A
Sindonews.com - Pemerintah Thailand berusaha mengurangi stok beras dengan membuka tawaran penjualan setiap dua pekan. Namun, mahalnya harga akibat program pembelian beras petani oleh negara membuat mereka rugi.

"Penjualan tersebut mungkin membuat pemerintah bingung. Karena pembelian beras (petani) bertujuan meningkatkan harga domestik, bukan membuat keuntungan dari program ini," kata Wakil Menteri Perdagangan, Yanyong Phuangrach kepada wartawan di provinsi tengah Ayutthaya, seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (19/7/2013).

"Tujuan utama kami adalah distribusi tidak boleh mempengaruhi harga," jelasnya

Rencana Thailand memotong stok memiliki risiko menyakiti harga, dan mengurangi permintaan pangan global. Sebelumnya, Moody`s Investors Service mengatakan, program Thailand disadari dapat meningkatkan kerugian, di mana kredit bagi negara tersebut bisa negatif.

Produksi padi di seluruh dunia diperkirakan Departemen Pertanian AS (USDA) memperluas ke semua waktu tertinggi tahun ini. USDA menyebutkan, total stok beras Thailand sebanyak 15,5 juta ton pada 2013-2014, naik dari 12,5 juta ton pada musim lalu, dan 9,3 juta ton pada 2011-2012. Kepemilikan terbaru cukup untuk memenuhi sekitar 41 persen impor dunia.

"Rilis stocks publik Thailand hanya akan memperburuk situasi pasokan dan melemahnya harga," kata Concepcion Calpe, sekretaris kelompok beras antar-pemerintah Food & Agriculture Organization (FAO) dalam e-mailnya.

Menurut Asosiasi Eksportir Beras Thailand, harga ekspor beras telah rusak 5 persen turun 10 persen pada tahun ini, menjadi USD525 per ton pada 17 Juli. Sementara beras Vietnam sebesar USD390 per ton dan India USD440 per ton.

Pemerintah ingin melihat harga ekspor yang rusak 5 persen pada sekitar USD450 sampai USD500 per ton, dengan target penjualan stok ke Indonesia, Iran dan Irak, Yanyong. Jika harga yang ditawarkan terlalu rendah, pemerintah tidak akan menjual.

Diketahui, Thailand telah menghabiskan 588,7 miliar baht (USD18,9 miliar) sejak Oktober 2011 hingga bulan lalu, untuk membeli sekitar 40 juta ton beras dari petani dalam menaikkan pendapatan pedesaan. Menurut perkiraan pemerintah, kerugian dari program tersebut adalah 137 miliar baht pada musim panen lalu.

FAO menyebutkan, Thailand menghadapi kehabisan tempat penyimpanan stok beras. Mereka juga meramalkan bahwa cadangan negara akan meningkat menjadi 18,2 juta ton.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi Negara Tetangga...
Ekonomi Negara Tetangga Terpuruk Nyaris Krisis, Indonesia Aman?
Demi Gaet Wisatawan...
Demi Gaet Wisatawan China, Thailand Gelontorkan Stimulus Raksasa Rp6,5 Triliun
Kekuatan Ekonomi Thailand...
Kekuatan Ekonomi Thailand vs Kamboja: Siapa yang Lebih Unggul di Tengah Perang?
Ekonomi Thailand Resesi,...
Ekonomi Thailand Resesi, Ini Dampak yang Akan Dialami Indonesia
SCG Tampilkan Inovasi...
SCG Tampilkan Inovasi Hijau untuk Dukung Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi
Siapa Sirikit? Ibu Suri...
Siapa Sirikit? Ibu Suri Thailand yang Bergaya Hidup Glamor dan Dipuja Rakyatnya
Berita Terkini
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Tipis Hari Ini, Segram Jadi Rp2,63 Juta
12 menit yang lalu
Cyber Breaker Season...
Cyber Breaker Season 3 Jembatani Kebutuhan SDM Digital Pemerintah dan Sektor Bisnis
34 menit yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,24% ke Level 6.056
53 menit yang lalu
Soal Hapus Pajak JHT,...
Soal Hapus Pajak JHT, Purbaya Masih Tunggu Data BPJS Ketenagakerjaan
1 jam yang lalu
Heboh Pengadaan Kipas...
Heboh Pengadaan Kipas Angin Kopdes Rp1,8 Triliun, Menkop Ferry: Saya Tidak Tahu
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Percepat Pasok BBM ke SPBU, Ajak Masyarakat Awasi Penyalahgunaan Subsidi
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved