Dibayangi tekanan jual, IHSG berpotensi terkoreksi
Jum'at, 26 Juli 2013 - 08:11 WIB
Dibayangi tekanan jual, IHSG berpotensi terkoreksi
A
A
A
Sindonews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan masih dibayangi tekanan jual, sehingga berpotensi melanjutkan pelemahan.
"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.634-4.681 dan resistance 4.695-4.748," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jumat (26/7/2013).
Berpola menyerupai three outside down di atas middle bollinger bands (MBB). MACD naik terbatas dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai terbatas kenaikannya di area overbought.
Setelah kemarin IHSG gagal menuju target resisten (4.748-4.789), IHSG melemah dan berada pada kisaran target support (4.658-4.686), yang mengindikasikan masih adanya tekanan jual.
"Dari pola yang ada masih memungkinkan melemah, namun kita harapkan dalam tahap terbatas," ujarnya.
Kemarin melemahnya bursa saham AS seiring meningkatnya pertumbuhan data penjualan rumah baru dan manufacturing PMIAS yang menimbukan reaksi negatif akan percepatan penarikan stumulus The Fed dan penurunan beberapa kinerja emiten berimbas negatifpada bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Apalagi dari pola teknikal yang terbentuk, laju rupiah yang masih longsor dan kondisi memerahnya bursa saham Asia juga mendukung untuk pelemahan.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.722,38 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.665,88 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan berakhir di level 4.674,12.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksijual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih tetap di zona merah setelah pelaku pasar menanggapi dingin penilaian BI bahwa rupiah sedang mencari keseimbangan baru.
Begitupun dengan Menkeu yang melihat pelemahan rupiah masih cukup aman, sehingga memberi kesan bahwa rupiah memang sengaja dibiarkan melemah.
Apalagi dari sentimen yang ada mendukung penguatan USD setelah dirilis pertumbuhan data penjualan rumah baru dan manufacturing PMIAS yang menimbulkan spekulasi percepatan stimulus.
"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.634-4.681 dan resistance 4.695-4.748," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jumat (26/7/2013).
Berpola menyerupai three outside down di atas middle bollinger bands (MBB). MACD naik terbatas dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai terbatas kenaikannya di area overbought.
Setelah kemarin IHSG gagal menuju target resisten (4.748-4.789), IHSG melemah dan berada pada kisaran target support (4.658-4.686), yang mengindikasikan masih adanya tekanan jual.
"Dari pola yang ada masih memungkinkan melemah, namun kita harapkan dalam tahap terbatas," ujarnya.
Kemarin melemahnya bursa saham AS seiring meningkatnya pertumbuhan data penjualan rumah baru dan manufacturing PMIAS yang menimbukan reaksi negatif akan percepatan penarikan stumulus The Fed dan penurunan beberapa kinerja emiten berimbas negatifpada bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Apalagi dari pola teknikal yang terbentuk, laju rupiah yang masih longsor dan kondisi memerahnya bursa saham Asia juga mendukung untuk pelemahan.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.722,38 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.665,88 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan berakhir di level 4.674,12.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksijual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih tetap di zona merah setelah pelaku pasar menanggapi dingin penilaian BI bahwa rupiah sedang mencari keseimbangan baru.
Begitupun dengan Menkeu yang melihat pelemahan rupiah masih cukup aman, sehingga memberi kesan bahwa rupiah memang sengaja dibiarkan melemah.
Apalagi dari sentimen yang ada mendukung penguatan USD setelah dirilis pertumbuhan data penjualan rumah baru dan manufacturing PMIAS yang menimbulkan spekulasi percepatan stimulus.
(rna)
Lihat Juga :