Chatib: Ada beberapa faktor IHSG dan rupiah melempem
Senin, 19 Agustus 2013 - 21:02 WIB
Chatib: Ada beberapa faktor IHSG dan rupiah melempem
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Keuangan (Menkeu), M Chatib Basri menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup jatuh cukup dalam dan rupiah terus melemah.
Menurutnya, ada faktor internal dan eksternal. Di mana faktor eksternal adalah kekhawatiran pasar kemungkinan gelombang pertama quantitative easing pada September.
"Indonesia jeblok sekitar 5 persen, Thailand 2.5 persen dan India, serta Malaysia juga kena. Nilai tukar Rupee kena, rupiah juga kena, Taiwan juga kena," ujarnya di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (19/8/2013).
Sementara, faktor eksternal lainnya adalah kekhawatiran pasar mengenai dampak akan ditutupnya bank AS Merrill Lynch, sehingga merontokkan pasar saham dan nilai tukar rupiah.
"Ini pasti ada faktor eksternalnya, karena bukan cuma Indonesia yang kena. Tapi dalam kasus Indonesia depresiasi jatuhnya lebih besar dibanding India dan Thailand," katanya.
Sementara, kata Chatib, faktor internal penyebab rontoknya IHSG dan terdepresiasinya rupiah ini karena neraca pembayaran yang masih defisit 4,4 persen pada kuartal dua tahun ini. Terutama akibat impor tinggi sehingga memukul ekspor.
Namun, dia menegaskan bahwa defisit transaksi berjalan pada kuartal III/2013 segera rendah. Karena pemerintah sudah mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 22 Juni 2013.
"Pada kuartal II/2013 defisit masih tinggi karena harga BBM baru dinaikkan 22 Juni. Jadi belum bisa meng-cover adjustment yang terjadi. Baru di kuartal III/2013 akan kelihatan," pungkas Menkeu.
Seperti diketahui, hari ini IHSG jatuh hingga 255,1 poin (5,5 persen) menjadi 4.313,5 dan rupiah terdepresiasi hingga sempat menyentuh angka Rp10.600 walaupun akhirnya ditutup pada angka Rp10.451.
Menurutnya, ada faktor internal dan eksternal. Di mana faktor eksternal adalah kekhawatiran pasar kemungkinan gelombang pertama quantitative easing pada September.
"Indonesia jeblok sekitar 5 persen, Thailand 2.5 persen dan India, serta Malaysia juga kena. Nilai tukar Rupee kena, rupiah juga kena, Taiwan juga kena," ujarnya di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (19/8/2013).
Sementara, faktor eksternal lainnya adalah kekhawatiran pasar mengenai dampak akan ditutupnya bank AS Merrill Lynch, sehingga merontokkan pasar saham dan nilai tukar rupiah.
"Ini pasti ada faktor eksternalnya, karena bukan cuma Indonesia yang kena. Tapi dalam kasus Indonesia depresiasi jatuhnya lebih besar dibanding India dan Thailand," katanya.
Sementara, kata Chatib, faktor internal penyebab rontoknya IHSG dan terdepresiasinya rupiah ini karena neraca pembayaran yang masih defisit 4,4 persen pada kuartal dua tahun ini. Terutama akibat impor tinggi sehingga memukul ekspor.
Namun, dia menegaskan bahwa defisit transaksi berjalan pada kuartal III/2013 segera rendah. Karena pemerintah sudah mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 22 Juni 2013.
"Pada kuartal II/2013 defisit masih tinggi karena harga BBM baru dinaikkan 22 Juni. Jadi belum bisa meng-cover adjustment yang terjadi. Baru di kuartal III/2013 akan kelihatan," pungkas Menkeu.
Seperti diketahui, hari ini IHSG jatuh hingga 255,1 poin (5,5 persen) menjadi 4.313,5 dan rupiah terdepresiasi hingga sempat menyentuh angka Rp10.600 walaupun akhirnya ditutup pada angka Rp10.451.
(izz)