Nokia peringatkan kebijakan bisnis India

Jum'at, 23 Agustus 2013 - 17:22 WIB
Nokia peringatkan kebijakan...
Nokia peringatkan kebijakan bisnis India
A A A
Sindonews.com - Raksasa telekomunikasi Finlandia, Nokia memberitahukan kepada pemerintah India, bahwa negara tersebut pasar paling menguntungkan. Namun, mereka lebih memilih mengekspor produknya melalui China.

Diketahui, Nokia sedang berjuang dalam sengketa tagihan pajak 20 miliar rupee (USD311 juta) dari pemerintah India. Mereka mendesak pemerintah bertindak cepat memperbaiki persepsi yang salah sebagai tempat bisnis.

"Risiko politik di India tiba-tiba jauh lebih tinggi, dan pasti dapat mempengaruhi keputusan masa depan dalam mengembangkan operasi di India," ujar Nokia dalam pernyataannya, seperti dilansir dari The Financial Express, Jumat (23/8/2013).

Mantan produsen ponsel nomor satu di dunia itu mengatakan, masalah pajak membuatnya lebih hemat dengan mentransfer produksi ponsel ke China dan mengimpor ke pasar India daripada memproduksi di Chennai.

Nokia, yang memiliki salah satu pabrik terbesar di dunia, tepatnya di selatan kota Chennai, adalah di antara serangkaian perusahaan multinasional yang terlibat dalam sengketa pajak India, termasuk Royal Shell Belanda dan Vodafone.

India telah meningkatkan upaya mencegah penggelapan pajak yang dituduhkan mengurangi defisit anggaran. Nokia mengingatkan bahwa Finlandia dan India memiliki hubungan bilateral dalam perdagangan.

"Nokia tidak berpikir India dapat mengesampingkan kewajiban internasionalnya," tegas Nokia.

India sendiri merupakan salah satu pasar ponsel dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Mereka adalah pasar terbesar kedua Nokia yang mulai beroperasi di Indonesia pada 1995, dan mempekerjakan 8.000 pekerja di Chennai.

Nokia sempat menjadi produsen handset terkemuka di negara itu, selama 14 tahun dan baru-baru ini menyerahkan mahkotanya ke vendor Korea Selatan, Samsung.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
4 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
4 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
6 jam yang lalu
Infografis
10 Miliarder India di...
10 Miliarder India di 2025, Paling Tajir Berharta Rp1.497 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved