IHSG diperkirakan belum miliki potensi menguat
Rabu, 28 Agustus 2013 - 08:19 WIB
IHSG diperkirakan belum miliki potensi menguat
A
A
A
Sindonews.com - Sepertinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang mencari alasan untuk terus mendekam di zona merah di tengah semakin buruknya sentimen yang berkembang.
"Meskipun dalam ulasan sebelumnya kami katakan bahwa IHSG masih dalam tren pelemahannya, namun harapan kami untuk melemah terbatas tidak tercapai," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (28/8/2013).
Pada perdagangan hari ini, Reza memperkirakan IHSG akan berada pada support 3.942-3.958 dan resistance 3.989-3.998.
Berpola menyerupai three black crows sentuh lower bollinger bands (LBB). MACD masih turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic belum beranjak dari area oversold.
"Peluang pelemahan IHSG masih ada, namun kembali kita mengharapkan dapat terbatas pelemahan tersebut," tukas Reza.
Menilik perdagangan sebelumnya, pelaku pasar pun seperti sudah muak dengan kondisi pasar yang setiap saat memerah sehingga banyak juga yang menjauh untuk sementara ini.
Laju rupiah yang setia dengan pelemahannya dan pembukaan pasar saham Eropa yang cenderung melemah karena terimbas peningkatan geopolitik di Suriah membuat IHSG sulit melepaskan diri dari zona merah.
Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.100,18 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 3.954,86 (level terendahnya) jelang preclosing dan berakhir di level 3.967,84.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"IHSG kembali menabrak target support kami (4.054-4.100) yang membuat tren negatif masih berlanjut," terang Reza.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia terimbas pelemahan bursa saham AS sebelumnya. Namun demikian, bursa saham China dan sekitar dapat menguat setelah dirilis laporan pemerintah mengenai pertumbuhan profit perusahaan industri di bulan Juli.
Akan tetapi, di sisi lain, pelaku pasar juga khawatir setelah dihantam dengan isu ketidakjelasan waktu untuk tappering stimulus The Fed, kali ini terdapat isu peningkatan tensi geopolitik di Suriah.
Belum lagi, beredarnya penilaian melambatnya perekonomian Asia Tenggara di tengah outflow modal secara besar-besaran menambah sentimen negatif, sehingga membuat pelemahan tidak terelakan.
Bursa saham Eropa masih melemah sampai dengan saat ini dipicu sentimen langkah AS yang kemungkinan akan melakukan invasi ke Suriah. Pelaku pasar mengkhawatirkan imbasnya ke batas utang pada Oktober yang dinilai akan cukup memberatkan neraca keuangan AS.
Di sisi lain, adanya rilis penurunan kinerja dari beberapa emiten antara lain Aker Solutions ASA dan ThyssenKrupp AG menambah sentimen yang ada.
Bursa saham AS gagal melanjutkan laju positifnya setelah rilis pernyataan Menteri Luar Negeri John Kerry yang mengatakan Presiden Barrack Obama akan meminta pertanggungjawaban pemerintah Suriah atas kejahatan moral dengan menggunakan senjata kimia.
Pelaku pasar juga sedikit menahan diri di tengah rilis penurunan durable goods order karena berkaitan dengan penentuan pemberlakuan stimulus The Fed.
Padahal, terdapat sentimen positif dari kenaikan data Ifo-Business Climate dan Ifo-Business Expectations Jerman, namun tertutupi oleh sentimen-sentimen negatif tersebut.
"Meskipun dalam ulasan sebelumnya kami katakan bahwa IHSG masih dalam tren pelemahannya, namun harapan kami untuk melemah terbatas tidak tercapai," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (28/8/2013).
Pada perdagangan hari ini, Reza memperkirakan IHSG akan berada pada support 3.942-3.958 dan resistance 3.989-3.998.
Berpola menyerupai three black crows sentuh lower bollinger bands (LBB). MACD masih turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic belum beranjak dari area oversold.
"Peluang pelemahan IHSG masih ada, namun kembali kita mengharapkan dapat terbatas pelemahan tersebut," tukas Reza.
Menilik perdagangan sebelumnya, pelaku pasar pun seperti sudah muak dengan kondisi pasar yang setiap saat memerah sehingga banyak juga yang menjauh untuk sementara ini.
Laju rupiah yang setia dengan pelemahannya dan pembukaan pasar saham Eropa yang cenderung melemah karena terimbas peningkatan geopolitik di Suriah membuat IHSG sulit melepaskan diri dari zona merah.
Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.100,18 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 3.954,86 (level terendahnya) jelang preclosing dan berakhir di level 3.967,84.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"IHSG kembali menabrak target support kami (4.054-4.100) yang membuat tren negatif masih berlanjut," terang Reza.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia terimbas pelemahan bursa saham AS sebelumnya. Namun demikian, bursa saham China dan sekitar dapat menguat setelah dirilis laporan pemerintah mengenai pertumbuhan profit perusahaan industri di bulan Juli.
Akan tetapi, di sisi lain, pelaku pasar juga khawatir setelah dihantam dengan isu ketidakjelasan waktu untuk tappering stimulus The Fed, kali ini terdapat isu peningkatan tensi geopolitik di Suriah.
Belum lagi, beredarnya penilaian melambatnya perekonomian Asia Tenggara di tengah outflow modal secara besar-besaran menambah sentimen negatif, sehingga membuat pelemahan tidak terelakan.
Bursa saham Eropa masih melemah sampai dengan saat ini dipicu sentimen langkah AS yang kemungkinan akan melakukan invasi ke Suriah. Pelaku pasar mengkhawatirkan imbasnya ke batas utang pada Oktober yang dinilai akan cukup memberatkan neraca keuangan AS.
Di sisi lain, adanya rilis penurunan kinerja dari beberapa emiten antara lain Aker Solutions ASA dan ThyssenKrupp AG menambah sentimen yang ada.
Bursa saham AS gagal melanjutkan laju positifnya setelah rilis pernyataan Menteri Luar Negeri John Kerry yang mengatakan Presiden Barrack Obama akan meminta pertanggungjawaban pemerintah Suriah atas kejahatan moral dengan menggunakan senjata kimia.
Pelaku pasar juga sedikit menahan diri di tengah rilis penurunan durable goods order karena berkaitan dengan penentuan pemberlakuan stimulus The Fed.
Padahal, terdapat sentimen positif dari kenaikan data Ifo-Business Climate dan Ifo-Business Expectations Jerman, namun tertutupi oleh sentimen-sentimen negatif tersebut.
(rna)
Lihat Juga :