Rupiah diproyeksi masih terdepresiasi
Rabu, 28 Agustus 2013 - 08:32 WIB
Rupiah diproyeksi masih terdepresiasi
A
A
A
Sindonews.com - Sama halnya dengan kondisi pasar saham, belum adanya sentimen positif membuat laju rupiah masih tetap terdepresiasi pada hari ketiga pekan ini.
"Pro-kontra terkait melemahnya nilai tukar rupiah membuat laju rupiah variatif disertai dengan aksi lepas posisi. Diperkirakan rupiah akan berada pada rentang harian 10.778-10.915," ujar Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (28/8/2013).
Padahal, lanjut Reza, laju USD sedang mengalami pelemahan, terutama terhadap yen dan euro terkait rencana pemerintahan AS untuk invasi militer ke Suriah sehingga menambah ketidakpastian selain masalah tappering stimulus The Fed.
Selain itu, adanya penilaian dari DPR bahwa terus melemahnya nilai tukar ini, bukan hanya karena neraca berjalan yang defisit tetapi juga ada faktor spekulan mata uang dan pernyataan MenKeu bahwa ekonomi Indonesia saat ini memang dalam kondisi tidak biasa, namun belum krisis juga belum dapat mengubah arah rupiah.
Pada perdagangan sore kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) berada di level Rp10.883/USD, melemah sebesar 42 poin dibanding hari kemarin di level Rp10.841/USD.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah berada di Rp11.337/USD, anjlok 489 poin dibanding hari sebelumnya di Rp10.848/USD. Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik berada di Rp10.845 per USD, dengan kisaran Rp10.925/USD, melemah 70 poin dibanding hari Senin (26/8/2013) di Rp10.775/USD.
"Pro-kontra terkait melemahnya nilai tukar rupiah membuat laju rupiah variatif disertai dengan aksi lepas posisi. Diperkirakan rupiah akan berada pada rentang harian 10.778-10.915," ujar Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (28/8/2013).
Padahal, lanjut Reza, laju USD sedang mengalami pelemahan, terutama terhadap yen dan euro terkait rencana pemerintahan AS untuk invasi militer ke Suriah sehingga menambah ketidakpastian selain masalah tappering stimulus The Fed.
Selain itu, adanya penilaian dari DPR bahwa terus melemahnya nilai tukar ini, bukan hanya karena neraca berjalan yang defisit tetapi juga ada faktor spekulan mata uang dan pernyataan MenKeu bahwa ekonomi Indonesia saat ini memang dalam kondisi tidak biasa, namun belum krisis juga belum dapat mengubah arah rupiah.
Pada perdagangan sore kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) berada di level Rp10.883/USD, melemah sebesar 42 poin dibanding hari kemarin di level Rp10.841/USD.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah berada di Rp11.337/USD, anjlok 489 poin dibanding hari sebelumnya di Rp10.848/USD. Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik berada di Rp10.845 per USD, dengan kisaran Rp10.925/USD, melemah 70 poin dibanding hari Senin (26/8/2013) di Rp10.775/USD.
(rna)